HETANEWS

Iran Eksekusi Mati Dua Anak di Bawah Umur

Ilustrasi Hukuman Mati.

Irak, hetanews.com - Amnesty International mengungkapkan, otoritas Iran diam-diam mengeksekusi mati dua anak laki-laki di bawah usia 18 tahun. Keduanya dihukum atas tuduhan perkosaan.

Langkah itu dinilai kontroversial. Amnesty International mengutuk Iran dan menilai negara itu sangat meremehkan hukum internasional dan hak-hak anak. Lebih lanjut, lembaga ini juga menuding adanya proses persidangan tidak adil. Demikian dilansir dari Aljazeera, Senin (20/4).

Kedua anak ini meregang nyawa di tangan algojo di kota Shiraz di wilayah selatan, Kamis (25/4). Mereka yang dieksekusi berinisial MS dan AS, ditangkap pada usia 15 tahun pada 2017.

Sejak itu, keduanya telah ditahan di penjara khusus remaja, kemudian dipindahkan ke sel di Distrik Adelabad, Shiraz, sehari sebelum eksekusi.

"Pemerintah Iran sekali lagi membuktikan, dengan memuakkanya mereka membunuh anak-anak, dengan mengabaikan hukum internasional," kata Direktur Amnesty untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Philip Luther.

Luther memperkirakan, pemerintah Iran telah mencambuk kedua anak laki-laki itu sebelum mengeksekusi secara rahasia.

Amnesty mengatakan, keluarga mereka didatangi pada Rabu, tetapi tidak diberi tahu tentang hukuman mati. Lembaga ini menyebut Iran adalah negara kedua setelah China yang paling sering melakukan hukuman mati. Termasuk pula "algojo" bagi anak-anak.

Antara 1990 dan 2018, Amnesty mencatat adanya eksekusi terhadap 97 tahanan di bawah umur oleh Iran. Sementara itu menurut laporan tahunan Amnesty yang terbit bulan ini, tujuh dari 253 orang yang dieksekusi oleh Iran pada tahun lalu. Selain yang telah dihukum mati, 90 anak lain di Iran tengah berada di ambang hukuman mati.

"Kami telah mengidentifikasi tren di mana pihak berwenang Iran melakukan eksekusi pelaku kejahatan remaja secara rahasia dan tanpa memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada keluarga," kata Luther.

"Tampaknya dalam upaya yang disengaja untuk menghindari kemarahan global," lanjutnya.

Menurutnya, intervensi diplomatik dan publik internasional dibutuhkan untuk menekan Iran agar mengakhiri penggunaan hukuman mati terhadap anak di bawah umur. Tak terkecuali Uni Eropa, salah satu kawasan yang memiliki kerja sama cukup efektif dengan negara itu.

sumber: suara.com

Editor: sella.