HETANEWS

Pria ini Mengaku Telah Lecehkan 13 Anak di Bawah Umur dan Paling Muda Berusia 15 Bulan

Ruecha Tokputza Pelaku Pedofil

Thailand, hetanews.com - Aksi kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur kembali terjadi. Dan yang cukup menggegerkan pelaku telah melakukan pelecehan terhadap 13 orang anak di bawah umur. 

Seorang pria pedofil asal Adelaide (Australia Selatan) yang bernama Ruecha Tokputza (31) telah melakukan pelecehan terhadap 13 orang anak di bawah umur. 

Tokputza pun mengakui kesalahannya atas puluhan dakwaan yang dituduhkan kepadanya.  Bukan hanya pelecehan seksual yang ia lakukan pada anak-anak di bawah umur melainkan juga pembuatan film/ video asusila. 

Sementara itu, seorang jaksa mengatakan kepada pengadilan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Tokputza ini lebih buruk daripada kejahatan Shannon McCoole yang juga melakukan pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur dan kasusnya sempat heboh beberapa tahun yang lalu.

Selama kurun waktu dari tahun 2011 hingga 2018, Tokputza telah melakukan pelecehan seksual kepada 13 anak di bawah umur.  Dalam kurun waktu sekitar 7 tahun tersebut, salah satu korban Tokputza ternyata baru berusia 15 bulan.

Selain melakukan pelecehan seksual, Tokputza yang lahir di Bangkok, Thailand ini juga memfilmkan serta membagikan video tersebut secara online. 

Tokputza melakukan berbagai pelecehan seksual terhadap para korbannya bukan hanya di Adelaide tapi juga di Thailand.

Atas tindakannya itu, Tokputza pun mengaku bersalah atas 51 dakwaan yang dituduhkan kepadanya. Termasuk pula terkait pelecehan seksual serta hubungan seksual dengan seorang anak di bawah usia 14 tahun. 

Bukan hanya itu, Tokputza juga didakwa pernah terlibat hubungan seksual dengan seorang anak di luar Australia. Seorang pria asal Mile End, Australia juga mengaku bahwa dirinya ikut melakukan pengambilan gambar video asusila tersebut.

Ia kemudian memproduksinya sebagai bahan untuk mengeksploitasi anak di luar Australia. Kejahatan yang dilakukan oleh Tokputza itu terjadi sejak Juni 2011 hingga ia pun berhasil ditangkap pada Januari 2018 lalu.

Dari tangan Tokputza juga ditemukan sebanyak 12.500 gambar dan 650 video materi eksploitasi anak yang dimilikinya. Seorang jaksa dari Pengadilan Distrik yakni Heath Barklay pun mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bersifat sangat serius. 

"Sulit untuk memikirkan pelanggaran yang lebih serius. Ketika Anda melihat pada konstelasi tuduhan, sifat dari pelanggaran, pelanggaran kepercayaan ... durasi panjang pelanggaran ... usia anak-anak yang sangat muda hingga jumlah korban yang mencapai 13 orang yang setidaknya itu yang baru diidentifikasi," ujarnya.

Barklay mengatakan kepada pengadilan bahwa Tokputza hanya berhenti melakukan kejahatan itu karena dia ditangkap. Lebih lanjut, Barklay mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan Tokputza itu lebih serius dari kasus Shannon McCoole. 

"Kesalahan dalam [kasus McCoole] berlangsung sekitar tiga setengah tahun, dia dihukum atas dasar bahwa dia telah secara sukarela membantu ... telah menulis permintaan maaf dan ... sangat menyesal atas kesalahannya," kata Barklay.

Atas perbuatannya, McCoole pun dijatuhi hukuman 35 tahun penjara pada tahun 2015 karena melakukan pelecehan seksual terhadap tujuh anak dan bayi yang kemudian mereka harus menjalani perawatan.

Barklay pun menuturkan bahwa tak ada penyesalan atau permintaan maaf dari Tokputza terkait kejahatan yang dilakukannya. 

"Pelanggaraan yang dilakukan McCoole berlangsung selama tiga setengah tahun, dia dijatuhi hukuman berdasarkan bahwa dia membantu penyelidikan, sudah menulis permintaan maaf dan menyesal atas perbuatannya. Berbeda dengan masalah ini, di mana ada 51 kasus, 13 korban anak-anak, selama enam tahun lebih. Dalam hal ini tidak ada penyesalan atau tidak ada permintaan maaf," ujarnya.

Pengadilan juga mendapatkan informasi bahwa Tokputza memberi tahu seorang pria Swiss bahwa ia dapat "menghubungkan Anda" jika ia bepergian ke Bangkok. 

Tokputza sendiri dianggap sebagai pelaku kejahatan yang serius dan kemungkinan bisa melakukan tindakan itu kembali. Dan dari hasil tes psikologis yang dilakukan oleh Tokputza menyatakan bahwa "Ada prospek untuk rehabilitasi". 

Sementara itu, sang pengacara Craig Caldicott mendesak Hakim Liesl Chapman untuk memberikan keringan hukuman terhadap sang klien. 

"Sederhananya, jika kita menambahkan semua kalimat kita punya beberapa hukuman seumur hidup. Dan ini bukan perkara mudah, tetapi saya menyarankan agar hukuman itu dibuat sedemikian rupa sehingga memberinya harapan untuk dibebaskan," ujarnya.

sumber: merdeka.com

Editor: sella.