HETANEWS

Buat Keributan di Harla NU ke – 93, 11 Anggota FPI Disidangkan

Para terdakwa digiring ke ruang sidang, Rabu (25/4/2019), lalu. (Foto/WH)

Tebingtinggi, hetanews.com - Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi kelas IB, menggelar sidang perdana terhadap 11 orang anggota Front Pembela Islam (FPI) setempat, yang terlibat dalam kasus keributan di acara Harla NU ke 93, pada Rabu (27/2/2019), lalu.

Sidang yang berlangsung secara terbuka untuk umum dalam agenda dakwaan tersebut, dibagi menjadi dua Majelis Hakim, mengingat jumlah terdakwa sebanyak 11 orang, masing-masing dalam berkas terpisah, Rabu (25/4/2019), lalu.

Majelis Hakim pertama dipimpin  oleh Darma Setiawan SH.CN, selaku hakim ketua, dibantu masing-masing hakim anggota, diantaranya, Sangkot Lumban Tobing SH MH, Diana Gultom SH, dan Panitera Pengganti (PP), Santoso SH.

Dan Majelis Hakim kedua, dipimpin oleh Wira Indra Banga SH, Albon Damanik, SH MH, Nelly Rahma Sury Lubis SH MH dan PP, Eri Agus Saputra SH.

Sidang tersebut, tampak dihadiri anggota FPI, beserta keluarga para terdakwa dan dalam pengawalan ratusan personil Polres Tebingtinggi dan Sat Pol PP setempat, guna mengantisipasi terjadinya kerusuhan dalam persidangan tersebut.

Seperti yang tertuang dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tebingtinggi, yaitu Tulus Sianturi SH,  Okto Samuel Silaen SH, Heppy K Sibarani SH, Alvin Ziawa SH, Rahnad Hidayat SH dan Sai Sintong SH, disebutkan masing – masing terdakwa, yaitu Amiruddin Sitompul alias Amir, baik secara sendiri-sendiri, maupun secara bersama-sama sebagai orang yang melakukan atau turut serta melakukan dengan saksi Suhairi alias Gogon, saksi Muhammad Husni Habibi Nasution alias Habibi, saksi M. Anjas Alias Budi, saksi Muhammad Fauzi Saragih alias Fauzi, saksi Syahrul Amri Sirait alias Syahrul, saksi Arif Darmadi alias Darma, saksi Abdulrahman Als Rahman, Saksi Ilham Alias Iam, Saksi Oni Qital alias Oni dan saksi Rachmad Fuji Santoso alias Rahmad (dilakukan penuntutan secara terpisah).

Pada hari Rabu, 27 Februari 2019 sekitar pukul 11.40 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu lain, pada tahun 2019, di Jalan Sutomo, tepatnya di lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, telah melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti, baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, yang dilakukan secara bersama-sama.

Berawal diadakan pertemuan sebelum terdakwa bersama teman terdakwa, menghadiri kegiatan Tabligh Akbar di Lapangan Merdeka.

Para terdakwa telah mengadakan rapat di markas kantor FPI yang berlokasi di Simpang Kampung Keling Kota Tebingtinggi, tepatnya di rumah Ust.Muslim Istiqomah, pada hari Selasa, 26 Februari 2019, sekira pukul 20.30 WIB, lalu.

Adapun yang hadir dalam kegiatan rapat FPI di rumah Ust Muslim Istiqomah, diantaranya, Ust. Muslim Istiqomah selaku ketua FPI, terdakwa Amiruddin Sitompul, Suhairi Alias Gogon, Muhammad Fauzi Saragih, dn Muhammad Husni Habibi Nasution alias Habibi.

Dalam rapat tersebut, mereka membahas dan membicarakan adanya kegiatan Tabligh Akbar, di Lapangan Merdeka,i pada hari Rabu, 27 Februari 2019 yang akan dimulai sejak pukul 08.00 WIB.

Untuk dapat menghadiri kegiatan Tabligh Akbar tersebut, maka siapa saja yang bisa hadir disaat berlangsungnya acara tersebut. Ketua FPI, Muslim Istiqomah, ada menyampaikan  kepada anggota FPI dengan mengatakan,“Siapa saja bebas untuk merekam video dan memfoto kegiatan berlangsungnya Tabligh Akbar pada hari Rabu, tanggal 27 Februari 2019 sekira Pukul 08.00 WIB”.

Karena berdasarakan informasi yang diperoleh oleh anggota FPI, bahwa kegiatan Tablig Akbar dalam rangka memperingati hari lahir Nahdatul Ulama (NU) yang ke -93 juga dilaksanakan acara Pelantikan IPNU (Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nadhatul Ulama).

Ketua Fron Pembelea Islam (FPI) DPW Tebingtinggi, mengajak kelompok ormas FPI melalui layanan whatsapp agar ikut untuk membubarkan acara tersebut, menggusir banser NU dari acara tersebut, mengajak semua warga FPI  datang ke acara tersebut untuk  berfoto 2 jari dan memfoto, menvideokan serta menviralkan foto serta video warga-warga yang bubar dalam acara tersebut.

Dalam kegiatan Tablig Akbar itu, hadir Wali Kota Tebingtinggi, Pejabat Polda Sumut, Ibu - ibu Perwiritan se-kota Tebingtinggi, masyarakat, pelajar, Ormas Islam, diantaranya, Muhammadiyah, Alwayhliyah, Al – Ittidahiyah, KPU (Komisi Pemilihan Umum), Bawaslu, Puja Kusuma, Forkompimda, ASN, dan Warga NU.

Dan kegiatan Tabligh Akbar tersebut juga memiliki izin resmi dari pihak Polres Tebingtinggi yaitu Surat Izin Nomor: SI / 10 / II/YAN.2.1/2019/INTELKAM, tanggal 22 Febuari 2019.

Acara tersebut adalah acara keagamaan yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tausyiyah oleh Ustadz KH. Ahmad Muwafiq, SAg.

Namun dalam acara tersebut, salah satu anggota ormas FPI yang bernama Amiruddin Sitompul alias Amir, menemui saksi Najarudi Siregar (Kasat Intel Polres Tebingtinggi) yang sedang bertugas melakukan pengamanan pada acara tersebut.

Terdakwa menemuai Kasat Intel untuk membubarkan acara tersebut.

Para terdakwa digiring ke ruang sidang, Rabu (25/4/2019), lalu. (Foto/WH)

Tidak berapa lama kemudian, setelah terdakwa Amiruddin Sitompul selesai berbicara dengan Kasat Intel, tiba-tiba saksi Suhairi alias Gogon, berjalan mendekati para jemaah sambil berteriak dengan keras “ Bubar, bubar, ajaran sesat… sesat” sambil memperlihatkan baju kaos dalam warna hitam bertuliskan “#2019 Ganti Presiden” yang dipakainnya, serta mengangkat tangan kanannya dengan kode 2 (dua) jari, yaitu jari telunjuk dan jari jempol.

Kemudian saksi Muhammad Husni Habibi Nasution, ikut berteriak dengan berkata“Bubar…..Bubar…..Bubar” sambil mengangkat kedua tangannya keatas menghadap kepada para perserta jemaah yang hadir di acara tersebut untuk memprovokasi peserta yang hadir dan teman-teman pelaku agar acara Tabligh Akbar tersebut dihentikan.

Kemudian petugas Polri yang berjaga langsung mengamankan saksi Suhairi alias Gogon dan saksi Muhammad Husni Habibi Nasution, namun dihalangani oleh anggota FPI yang lain, yaitu terdakwa Amirunddin Sitompul dan saksi M. Fauzi Saragih, saksi Syahrul Amri Sirait, saksi Rachmad Fuji Santoso alias Rahmad, saksi Arif Darmadi alias Darma, saksi Ilham alias Iam, saksi Oni Qital, saksi Abdul Rahman alias Rahman dan saksi M. Anjas alias Budi, sambil ikut bergerak ke arah tenda acara.

Kemudian mendorong halauan/hadangan petugas pengamanan, sehingga terjadilah  dorong-dorongan antara kelompok tersebut dengan Polisi yang bertugas.

Para pelaku tidak terima atas tindakan yang dikerjakan ataupun yang dilakukan oleh petugas pengamanan,  sehingga para pelaku melakukan perlawanan dengan cara menodorong - dorong petugas pengamanan. Dan saat itulah, saksi Suhairi alias Gogon memukul saksi Errick Riza Alamsyah, salah satu Polisi yang bertugas dan mengenai mata saksi sebelah kiri dan kepala saksi.

Selanjutnya salah satu orang pelaku lainnya yang berbadan gemuk, juga ikut memukul kepala dan perut saksi, tetapi Saksi tidak mengenalinya. Dan saksi Errick Riza Alamsyah mengatakan kepada rekan kerjanya, yaitu saksi Edi Syahputra yang saat itu di sebelah saksi, “Aku dipukul.. aku dipukul….” dan saksi Edi Syahputra mengatakan kepada saksi Errick Riza Alamsyah “Gogon… Gogon yang mukul”.

Karena kepala saksi Errick Riza Alamsyah pening, sehingga saksi terjatuh ke tanah. Lalu saksi Edi Syahputra memegang dan mengangkat  tubuh saksi Errick Riza Alamsyah dan langsung membawa kerumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan pengobatan.

Kemudian Polisi yang bertugas berhasil mengamankan dan mengangkut para pelaku ke kantor Polres Tebingtinggi, guna pemeriksaan selanjutnya.

Baca juga: Ormas FPI Buat Rusuh di Tabligh Akbar Tebingtinggi, 8 Orang Diamankan Polisi

Karena perbuatan para terdakwa, mengakibatkan acara Tabligh Akbar tersebut berjalan tidak sebagaimana mestinya dan langsung terhenti, karena masyarakat yang hadir dalam acara tersebut ketakutan dan bubar. Dan salah satu acara, yaitu ceramah tidak selesai.

Demikian juga acara selanjutnya, yaitu doa dan pelantikan IPNU dan IPPNU tidak dapat dilaksanakan.

Dan akibat dorongan-dorongan terdakwa dan teman-temannya, menyebabkan salah satu personil yang melaksanakan pengamanan acara, atas nama Errick Riza Alamsyah, mengalami kemerahan di bagian putih bola mata kiri, pembengkakan di kelopak bawah mata panjang 2 (dua) sentimeter dan pembengkakan di kepala bagian atas diameter 1 (satu) sentimeter.

Analisa ahli secara medis, bahwa kemerahan di bagian putih bola mata kiri, pembengkakan di kelopak bawah mata panjang 2 (dua) sentimeter dan pembengkakan di kepala bagian atas diameter 1 (satu) sentimter tersebut diduga akibat benturan dengan benda tumpul.

Atas Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 160 jo pasal 55 KUHP, pasal 175 jo pasal 55 KUHP.

Penulis: wh. Editor: gun.