HETANEWS

Setelah Jawab Andi Arief, Mahfud Md Beri Jawaban Telak Rizal Ramli-Said Didu Yang Masih Nyinyir

Mahfud MD Jawab Kritikan Rizal Ramli dan Said Didu Soal KPU

Jakarta, hetanews.com - Mahfud MD menjawab kritikan Rizal Ramli dan Said Didu terkait KPU yang juga dialamatkan pada dirinya.

Hal ini berawal dari cuitan Rizal Ramli yang meminta Mahfud MD melihat kejadian di lapangan terkait pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Penasihat Ekonomi Calon Presiden Prabowo Subianto itu menyarankan agar Mahfud MD tak hanya melihat dari sisi KPU.

Menurut Rizal Ramli, Pemilu diibaratkan pesawat terbang yang harus zero defect. Zero defect adalah konsep untuk menekan dan meminimalkan jumlah cacat maupun kesalahan yang terjadi dalam sebuah proses.

Masih kata Rizal Ramli, saat ini, status KPU nyaris sama dengan kasus Boeing 737Max. Sebab, semua maskapai penerbangan tak percaya lagi dengan Boeing 737Max dan membatalkan pesanan Boeing 737Max.

Sekadar diketahui, Boeing 737Max merupakan armada dari Boeing yang terlibat dua kecelakaan pesawat secara beruntun.

"Mas @mahfudmd tolong lihat kejadian di lapangan, jangan hanya di KPU."

"Pemilu ini diibaratkan pesawat terbang yang harus zero defect."

"KPU sekarang ini nyaris sama statusnya dgn kasus Boeing 737Max semua maskapai penerbangan ga percaya lagi dan batalkan 737 Max.jangan sampai," tulis Rizal Ramli.

Cuitan Rizal Ramli tersebut kemudian dibalas Mahfud MD yang membahas soal kesalahan input data Form C1 di Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU.

Mahfud MD, bila menengok kejadian di lapangan, pihaknya sama-sama tahu sebab kedua kandidat juga sama. Terkait hal tersebut, akan ada forum yang menangani, dalam hal ini KPU, Bawaslu, polisi, hingga MK.

Mahfud MD meminta Rizal Ramli memperjelas soal entry data Form C1. Kata Mahfud, kesalahan input data form C1 di Situng Pemilu adalah 0,0004 alias 1 banding 2.500 dan menimpa kedua kandidat Pilpres 2019.

Mahfud MD bahkan bersedia memberikan bukti lewat Direct Message pada Rizal Ramli.

"Mas @RamliRizal . Ini soal entry data C1 di situng @KPU_ID ."

"Kejadian di lapangan sih kita sama2 tahu, ke-2-nya sama."

"Nanti ada forumnya di KPU, Bawaslu, Polisi, dan MK."

"Clearkan soal entry C1 dulu: Yg salah adl 0,0004% (1/2500) dan menimpa 2 paslon."

"Kalau perlu bukti sy DM, Mas," tulis Mahfud MD.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu kembali merespons cuitan seorang sahabatnya, Said Didu yang mengkritik kesalahan entry data di KPU.

Dalam cuitannya, Said Didu menulis, kriteria sistemik pada IT berbeda dengan sistemik pada Pemilu. Kriteria sistemik pada IT jika input data tidak sesuai fakta, input data dipilih-pilih yang menguntungan satu calon, mengubah data, hingga mengunci data agar persentase tetap.

"Sekedar tambahan info buat prof @mohmahfudmd bhw kriteria sistemik pd IT beda dg sistemik pd pemilu."

"Sistemik pada IT jika: 1) input data tdk sesuai fakta."

"2) input data dipilih-pilih yg menguntugkan salah satu calon."

"3) mengubah data."

"4) mengunci data agar prosentase akhir tetap," tulis Said Didu.

Pada cuitan lainnya, Said Didu menyebut, sistem IT milik KPU amburadul atau dirancang untuk kecurangan. Hal ini menilik dari kejadian pada sistem KPU seperti penjumlahan tidak autokoreksi hingga tidak terjadi otomatisasi data penyesuaian gambar.

Said Didu pun meminta Mahfud MD tidak lagi memuji IT KPU.

"Dari kejadian yg sederhana pada sistem IT KPU spt penjumlahan tdk autokoreksi, otomatisasi data dg penyesuaian gambar tdk terjadi dll menunjukkan bhw sistem IT @KPU_ID amburadol atau mmg dirancang utk curang."

"Biar tdk terlalu jauh, mhn prof @mohmahfudmd berhenti memuji IT KPU," kata Said Didu.

Dalam balasannya, Mahfud MD, perbedaan data pada Situng KPU akan terbukti saat rekapitulasi perolehan suara secara manual. Menurut Mahfud MD, setelah hitung manual, baik yang memuji maupun mencela IT KPU akan manggut-manggut.

Setelah proses di KPU selesai, giliran MK yang akan diserang, kata Mahfud MD. Mahfud MD bilang, hal tersebut merupakan ritual politik sejak 2004 dan sebagai bagian dari demokrasi.

Di akhir cuitan, Mahfud seakan memberikan selamat pada Said Didu yang merupakan fans klub Manchester City karena The Citizen menang 2-0 lawan Manchester United di Liga Inggris.

"Nanti semuanya akan terbukti pd saat hitung manual."

"Stlh hitung manual yg memuji maupun yg mencela IT KPU akan manggut2."

"Kuncinya kan di situ. Stlh itu giliran MK yg akan diserang."

"Itu ritual politik sejak tahun 2004. Bagus jg, sih, demokrasi."

"City semalam menang ya Pak @saididu," balas Mahfud MD.

Sebagaimana diketahui, Rabu (24/4/2019) kemarin, Mahfud MD menyambangi KPU untuk memastikan tak ada kecurangan yang dilakukan KPU, sebagaimana narasi yang banyak muncul di publik belakangan ini.

"Kami datang ke sini karena risih juga merasa terganggu dengan perkembangan terakhir di mana ada tudingan-tudingan dan dugaan yaitu terjadi kecuangan yang bersifat terstruktur di KPU," kata Mahfud di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Mahfud, meskipun terjadi beberapa kesalahan entry data scan formulir C1 ke sistem Situng KPU, tetapi hal itu bukan berarti KPU curang.

Apalagi, kesalahan entry data tak seberapa jumlahnya jika dibandingkan jumlah keseluruhan TPS. "Dari situ menjadi sangat enggak mungkin kalau ada rekayasa terstruktur."

"Kalau emang terstruktur artinya berpersen-persen (kesalahan entrynya), ini cuma satu per 2.500," ujar Mahfud.

Meski begitu, Mahfud menyebut, kesalahan entry data C1 juga tidak dapat dibenarkan. Namun demikian, KPU masih punya waktu untuk memperbaikinya.

Kesalahan entry itu pun tidak hanya merugikan atau menguntungkan salah satu paslon, tetapi keduanya.

KPU juga menjamin transparansi penghitungan dan rekapitulasi suara, lantaran setiap petugas dan saksi di TPS memegang formulir C1 atau hasil penghitungan suara.

"Jadi jangan tindak sendiri-sendiri dan jangan terus kembangkan hoaks yang seakan-akan di sini ada rekayasa," tegas Mahfud.

Dalam kedatangannya ke KPU, Mahfud MD tidak sendirian. Ia hadir bersama sejumlah tokoh lain seperti putri Presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid, Alissa Wahid, dan Ahli Statistik IPB Asep Syaifuddin. Mereka menamakan diri sebagai Gerakan Suluh Kebangsaan.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.