HETANEWS

Waspadai Pasca Pemilu Mengalami Gangguan Jiwa, Stres, dan Depresi, Berikut Ulasannya Apa Itu Depresi

Foto: Supeno (28), warga Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat yang tinggal di selokan karena depresi.

Jakarta, hetanews.com-Di Amerika Serikat, istilah post election stress disorder (PESD) atau gangguan stres pasca pemilu telah lama dikenal.

Dalam survei yang dilakukan American Psychological Association (APA) pada 2016-2017, stres pasca pemilu di AS meningkat tajam dalam sepuluh tahun terakhir.

Laporan tersebut menemukan, gejala stres yang dialami meliputi sakit kepala, gelisah, cemas, hingga depresi. Banyaknya orang yang mengalami PESD, bukti dan data awal dari studi ilmiah menunjukkan bahwa kondisi ini nyata.

"Begitu banyak orang yang tampaknya merasa berkecil hati, bingung, dan tertekan oleh iklim politik dan masa depan bangsa. Gejala stres yang mereka alami bisa menyebabkan masalah dalam fungsi pribadi, sosial, dan pekerjaan," tutur psikiater klinis Thomas G. Plante di Psychology Today.

Untuk mengelola stres tersebut, Plante menyarankan untuk berolahraga dan melakukan relaksasi agar bisa menurunkan gairah fisiologis.

Kegiatan seperti yoga, meditasi, latihan fisik, dan berdoa dapat memberi banyak manfaat di situasi seperti ini.

Kemudian Plante mengatakan, gejala psikologis dapat ditangani dengan mau menerima kenyataan, menerima apa yang tidak dapat diubah dan melakukan upaya untuk mengubah apa yang masih bisa diubah.

Terpenting, dukungan sosial dari orang lain dan orang terdekat akan membantu para calon anggota legislatif yang gagal untuk tetap sehat dan mengurangi stres.

Sementara itu, dalam kolom opini The Augusta Chronicle pernah dibahas juga tentang kondisi stres pasca pemilu, dan hal ini dianggap sangat normal.

"Kami mendesak Anda untuk tidak berlebihan dalam menyalahkan orang lain terkait kegagalan pemilu," tulis artikel yang dimuat pada (9/11/2018) itu.

  • Berkaitan dengan kondisi stres pasca pemilu, apakah itu bisa disebut gangguan mental?

Psikiater Dr. Allen Frances pernah berkata bahwa hal itu mungkin lebih tepat bila disebut stres, bukan gangguan mental.

"Bukan gangguan mental bila merasakan emosi sebagai respons terhadap stres atas kehidupan," ujar Frances yang juga seorang profesor dan ketua emeritus dari Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Duke University School of Medicine.

Penanganan stres dan gangguan kejiwaan tentu berbeda. Dalam hal ini, Frances setuju dengan pemulihan yang dianjurkan Plante seperti telah dipaparkan di atas.

  • Apa Beda Stres dan Depresi? Ini Kata Ahli

Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang umum, dapat menyebabkan periode kesedihan yang berkepanjangan dan memicu pikiran bunuh diri.

Di lain sisi, stres juga masalah yang umum dan serius, tapi ia sering diremehkan dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Untuk diketahui, depresi dan stres adalah hal yang berbeda. Keduanya memiliki gejala yang berbeda, baik ketika dirasakan oleh diri sendiri, teman, anggota keluarga, dan rekan kerja.

Psikiater dr. Dimitrios Paschos mengatakan, depresi merupakan kondisi klinis yang memiliki beberapa gejala yang jelas.

"Ini merupakan penyakit umum yang cukup banyak menyerang populasi dunia. Sama seperti gangguan kardiovaskular, depresi dikategorikan sebagai sebuah penyakit," ujarnya.

Berbeda dengan depresi yang diklasifikasikan sebagai penyakit, stres disebut hadir dalam jutaan bentuk dan memiliki arti berbeda bagi setiap orang, apakah itu stres karena masalah keluarga, tekanan pekerjaan dan keuangan, juga kesepian.

Sesuatu yang dianggap seseorang sebagai tugas sehari-hari dan dapat diselesaikan dengan mudah, bisa menjadi sumber stres bagi yang lainnya. Jadi, menurut Paschos, streslebih sulit untuk didefinisikan.

"Stres bukan istilah yang kami rujuk dalam pengertian medis. Meski begitu, kami memiliki banyak cara untuk mengukur kecemasan. Banyak orang mengatakan ‘stres’ padahal sebenarnya mereka berbicara tentang kecemasan," jelasnya.

Kecemasan, dalam konteks klinis, berarti dua hal.

Yang pertama, respons dari tubuh – misalnya ketika Anda merasa tegang, jantung berdebar lebih cepat, sulit menjaga keseimbangan, dan berkeringat ketika sesuatu yang buruk akan terjadi.

Yang kedua, ada komponen berpikir. Biasanya orang-orang akan terus khawatir atau merenung. Dengan ini, stres bisa dikaitkan dengan masalah kecemasan.

Dalam kalimat yang lebih ringkas, ahli farmasi, Kevin Leivers, memaparkan perbedaannya.

"Depresi adalah kesedihan terus menerus dalam jangka waktu yang panjang dan membutuhkan perawatan. Sementara stres terbentuk dari tekanan emosional dan mental," jelas Kevin.

Meskipun mampu meningkatkan risiko, namun stres tidak didefinisikan sebagai penyakit mental.

Dr. Jane Devenish, ahli farmasi dari NHS Standards and Services, mengakui bahwa gejala kedua kondisi ini terkadang saling tumpang tindih.

Ia pun menjelaskan perbedaannya. "Secara signifikan, depresi berbeda dari stres. Saat mengidap depresi, mood Anda selalu buruk dan itu memengaruhi kehidupan sehari-hari. Sementara, stres hanyalah salah satu pemicunya,” kata Devenish.

Sama seperti stres, depresi juga bisa menimbulkan gejala sakit fisik. Selain itu, gejala emosionalnya mengganggu konsentrasi dan cara Anda memandang diri sendiri.

Saat orang mengalami depresi, umumnya ia akan merasa putus asa, terisolasi, tidak merasa terhubung dengan orang lain, dan tak lagi menikmati kehidupannya. Jika tidak segera ditangani, depresi akan membuat seseorang ingin bunuh diri.

Orang-orang yang mengidap depresi, membutuhkan bantuan dari ahli. Bisa berupa obat-obatan atau terapi.

Jika Anda melihat teman atau keluarga yang menunjukkan tanda-tanda depresi seperti menarik diri dari lingkaran sosial, mengabaikan hal-hal yang biasanya disukai, dan selalu putus asa, jangan hakimi mereka.

"Jika kenalan Anda mengalami gejala deprese, hal terbaik yang harus dilakukan adalah memastikan mereka tahu bahwa Anda peduli dan dapat bercerita kapan saja," pungkas Devenish.

  • Bagaimana Stres Bisa Menyebabkan Stroke? Dokter Jelaskan

Banyak yang menganggap bahwa stres tidak dapat menyebabkan stroke. Kebanyakan bahkan menghubungkan stres dengan penyakit mental.

Namun, ternyata stres juga dapat menyebabkan stroke yang berujung pada kematian.

Ironisnya, dikatakan dr. Sahat Aritonang, Sp.S, M.Si, Med, FINS, dokter spesialis saraf dari RS Pondok Indah, kebanyakan dari mereka yang mengalami stroke akibat stres berusia produktif.

“Banyak dari manajer-manajer yang darah tinggi akibat stres tapi tidak berobat, setiap hari pesan junk food. Jadi, intinya kembali ke pola hidup. Dia tidak aware dengan faktor risikonya,” ujar Sahat dalam diskusi tentang stroke yang dilakukan, Kamis (11/10/2018) lalu sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Stroke merupakan suatu gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis, baik fokal maupun global, yang berlangsung lebih dari 24 jam.

Biasanya, ini disebabkan oleh adanya penyumbatan atau kebocoran pembuluh darah di otak. Otak, meskipun berada di kepala, juga menjadi mesin penggerak bagi anggota tubuh lain.

Ketika salah satu pembuluh darah di otak tersumbat atau pecah, maka sistem alirannya tidak akan sempurna dan berpengaruh pada sistem gerak anggota tubuh lain.

Sahat menjabarkan, ketika kita mengalami stres, maka tubuh akan menghasilkan hormon-hormon stres yang dapat meningkatkan kecepatan gerak aliran darah dan membuat pembuluh darah meregang dan menjadi ringkih, terutama yang ada di otak.

“Ketika pembuluh darah tersumbat, maka darah tidak bisa menyalurkan makanan ke wilayah yang seharusnya dituju. Akhirnya, daerah tersebut akan mati. Kalau pecah, dia akan membanjiri daerah sekitarnya dan darah itu ketika berada di dalam pembuluh darah, dia bagus, tapi ketika di luar, dia berubah menjadi racun,” jelas Sahat.

Kabar baiknya, menurut Sahat, hanya 12 persen kasus stroke yang disebabkan pecahnya pembuluh darah, dan 86 persen stroke akibat penyumbatan.

Kabar buruknya, jika pembuluh darah pecah, risiko kematiannya akan lebih tinggi. Namun demikian, Sahat tidak menyarankan Anda untuk menghindari stres.

Dia justru menyarankan untuk mengelola rasa stres tersebut. “Karena dalam pekerjaan, stres tidak bisa dihindari, tapi bisa kita kelola. Dengan pola hidup yang baik, dan tidak berlarut-larut memikirkan sebuah masalah, mencari jalan keluar bisa kelola stres kita,” jelasnya.

Stroke memang menjadi penyakit yang perlu diperhatikan.

Dua per tiga dari penderita stroke mengalami kecacatan selamanya, dan sepertiga di antaranya mengalami kesulitan dalam berbicara, meski sudah disembuhkan.

Ini menjadi penting bagi Anda yang merupakan tulang punggung keluarga. Sebab, ketika Anda mengalami stroke, keluarga juga ikut mengalami kerugian. 

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.