Mon 22 Apr 2019

Usai Mutilasi Guru Honorer, Pelaku Mengaku Jual Koper Ibu Rp 200Ribu, Malamnya Ketakutan Lihat Arwah

Guru honorer Budi Hartanto, mayatnya dibuang dalam koper oleh pelaku bernama Aris Sugianto. (foto/ist)

Blitar, hetanews.com - Dua orang pelaku pembunuhan dan mutilasi guru honorer, Budi Hartanto (28) asal Kediri berinisial Ajis Prakoso (AP) dan Aris Sugianto (AS) ditangkap pihak polisi ungkap pengakuan.

Satu dari dua pelaku, AS atau Aris Sugianto merupakan warga Kabupaten Blitar yang berdomisili di Kediri. Pelaku AS atau Aris Sugianto tercatat sebagai warga Dusun/Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Tak hanya itu, ternyata jarak rumah AS atau Aris Sugianto dengan lokasi penemuan jasad korban tanpa kepala ini sekitar 1,5 kilometer.

Mayat Budi Hartanto guru honorer yang tanpa kepala ini diketahui ditemukan dalam koper tergeletak di pinggir sungai bawah Jembatan Karanggondang, Udanawu, Blitar, Rabu (3/4/2019).

Pelaku bernama AS atau Aris Sugianto ini pun menceritakan perihal koper yang ia gunakan untuk menyimpan jenazah sang guru honorer, Budi Hartanto.

Menurut pengakuan AS atau Aris Sugianto, koper yang ia gunakan ini merupakan milik sang ibunda berinisial N (55). Hal itu disampaikan ibu AS atau Aris Sugianto, N usai diperiksa di Mapolres Blitar Kota, Jumat (12/4/2019).

Pada Rabu (3/4/2019) pagi, bertepatan dengan penemuan mayat guru honorer Budi Hartanto yang tanpa kepala dalam Koper, AS atau Aris Sugianto sempat meminta maaf kepada sang ibunda perihal Koper tersebut.

N mengatakan, AS atau Aris Sugianto mengaku Koper miliknya telah dijual dan laku Rp 200 ribu. Alasan penjualan Koper tersebut menurut sang ibunda AS atau Aris Sugianto adalah untuk tambahan modal.

"Waktu itu, saya baru pulang salat Subuh dari masjid. Dia tiba-tiba langsung minta maaf ke saya. Dia bilang 'mak, saya minta maaf, Koper e kulo sade, payu Rp 200.000' (bu, saya minta maaf, kopernya saya jual, laku Rp 200.000. (Uangnya) 'Saya buat tambahan modal,'" kata N menirukan ucapan AS atau Aris Sugianto.

Ya. AS atau Aris Sugianto mengaku kepada ibunya bahwa uang hasil jual Koper tersebut tak lain adalah untuk modalnya berjualan nasi goreng

Menurut penuturan warga, AS atau Aris Sugianto ini berjualan nasi goreng dan masakan Malaysia. Namun, AS atau Aris Sugianto ini tercatat baru 10 hari berjualan nasi goreng.

Dan jika dihitung, jarak waktu AS atau Aris Sugianto mulai berjualan nasi goreng itu bertepatan sesuai ia memutilasi giuru honorer Budi Hartanto.

"Baru sekitar 10 hari buka nasi goreng di desa kami," ujar Sujirah, yang rumahnya bersebelahan dengan warungnya, Kamis (12/4/2019).

Karena masih baru, warga juga belum mengenalnya secara akrab. "Sejak datang orangnya berjualan nasi goreng. Dia tinggal sendirian," ujarnya.

Tak hanya itu, pada hari ditemukannya jenazah guru honorer Budi Hartanto tanpa kepala, sekitar pukul 07.00 WIB, ibunda juga melihat AS atau Aris Sugianto membakar pakaian di depan rumah.

Tetapi, N tidak tahu pakaian siapa yang dibakar anaknya di depan rumah. Ada dugaan, pakaian yang dibakar AS atau Aris Sugianto di depan rumah merupakan pakaian korban.

Dua hari setelah itu, N baru mendengar kabar ada penemuan mayat tanpa kepala dalam Koper di pinggir sungai Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Warga di desanya ikut ramai membicarakan kasus tersebut. Saat itulah, N merasakan 'firasat' tak enak di dalam hatinya perihal kejadian mutilasi tersebut.

N sempat diperlihatkan foto Koper berisi mayat tanpa kepala yang ditemukan di pinggir sungai.

"Ketika ditunjukkan foto Koper, dalam hati saya bilang, itu Koper milik saya. Tapi saya belum sadar soal itu, karena anak saya bilang kopernya dijual," ujarnya.

Kira-kira tiga hari setelah penemuan mayat Budi Hartanto muncullah kejadian aneh di warung tempat AS atau Aris Sugianto ( Aris Sugianto) berjualan nasi goreng.

Sujilah (65), tetangga sebelah warung nasi goreng mengungkapkan, dirinya mengetahui pelaku sempat menjerit -jerit ketakutan pada malam hari.

"Pelaku sempat menjerit-jerit seperti orang ketakutan. Padahal di warungnya juga ada temannya. Dia bilang 'wedi aku, wedi aku' (takut aku, takut aku)," kata Sujilah menirukan teriakan pelaku, Sabtu (13/4/2019).

Mengetahui ada suara ribut-ribut di warung depan rumahnya, Sujilah mengaku sempat mengintip untuk melihat kejadian di luar dari balik kelambu rumahnya.

Kata Sujilah, sejumlah tetangga lainnya juga ada yang mengintip. Pelaku terlihat berlari dari warungnya ke jalan dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan, padahal di warungnya juga ada sejumlah temannya.

Awalnya, Sujilah mengira jerit ketakutan Aris Sugianto ini karena mabuk. Namun keesokan harinya, Sujilah sempat menanyakan kejadian yang membuat Aris Sugianto menjerit-jerit ketakutan.

Pertanyaan itu dijawab oleh Aris Sugianto, yang mengaku pundaknya seperti kejatuhan kayu.

"Saat mencuci piring saya tanya, 'ada apa tadi malam jerit-jerit ketakutan?' Dia menjawab kaget karena pundaknya seperti kejatuhan kayu yang berat," ungkapnya.

Kejadian pelaku yang menjerit-jerit ini berlangsung sekitar tiga hari pasca penemuan mayat Budi Hartanto, guru honorer dalam Koper di bawah Jembatan Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Kemungkinan, pelaku AS atau Aris Sugianto ini kerap didatangi arwah dari korban, guru honorer Budi Hartanto yang dimutilasi tanpa kepala dan dibuang mayatnya ke sungai.

Sejak kejadian itu, warung nasi goreng yang dikelola Aris Sugianto kemudian tutup.

AS atau Aris Sugianto Berubah Kemayu usai pulang jadi TKI di Malaysia

Seorang pelaku berinisial AS atau Aris Sugianto pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Usai pulang kampung di Malaysia, AS atau Aris Sugianto membuka usaha dengan berjualan nasi goreng.

AS atau Aris Sugianto mengalami perubahan usai pulang kampung dari Malaysia.

Informasi yang dihimpun di sekitar rumah orang tua AS atau Aris Sugianto, warga menyebutkan perilaku AS atau Aris Sugianto berubah sejak pulang merantau dari Malaysia.

AS atau Aris Sugianto sering berperilaku seperti perempuan. Bahkan, warga beberapa kali melihat AS atau Aris Sugianto berdandan seperti perempuan saat berada di rumah.

"Warga sering melihat ada orang berdandan perempuan di rumah itu. Ternyata yang berdandan seperti perempuan ya AS atau Aris Sugianto itu," kata salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga itu menyebutkan pemuda di lingkungan pernah hendak menggerebek rumah orangtua AS atau Aris Sugianto. Sebab, warga curiga sering ada orang berdandan perempuan dan beberapa pria di rumah itu.

Tapi, saat hendak digerebek, orang yang berdandan perempuan itu ternyata AS atau Aris Sugianto.

Pada Hari Ditemukannya Mayat Tanpa Kepala Blitar, Pelaku Pembunuh Budi Hartanto Sempat Minta Maaf pada Sang Ibu.

"Dia pulang dari merantau di Malaysia baru sekitar dua tahunan ini. Lalu buka usaha sendiri," kata Ketua RT 2 RW 1 Dusun/Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Hadi, Jumat (12/4/2019).

Hadi mengatakan AS atau Aris Sugianto memang asli warga Desa Mangunan. Dia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Tapi, orangtuanya sudah bercerai.

Ayah AS atau Aris Sugianto tinggal di Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Sedangkan ibunya tinggal di Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Dua saudara AS atau Aris Sugianto tinggal bersama ayahnya di Ringinrejo, Kabupaten Kediri. AS atau Aris Sugianto awal juga ikut tinggal di rumah ayahnya di Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

Belakangan, setelah pulang dari Malaysia, AS atau Aris Sugianto tinggal bersama ibunya di Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Ibu AS atau Aris Sugianto juga merantau menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. Ibunya juga baru pulang ke Blitar.

Saat ibunya berada di Malaysia, AS atau Aris Sugianto biasa tinggal di rumah ibunya sendiri.

"Kalau AS atau Aris Sugianto, orangnya biasa-biasa saja di lingkungan, tidak ada yang menonjol. Saya juga kaget ada kabar ini," ujarnya.

Penangkapan AS atau Aris Sugianto dan AP

Diberitakan sebelumnya, polisi menangkap dua pelaku pembunuhan terhadap Budi Hartanto, guru honorer asal Mojoroto, Kota Kediri, yang jasadnya ditemukan dalam Koper di pinggir sungai Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Mereka adalah AP dan  AS atau Aris Sugianto. Satu dari dua pelaku, AS atau Aris Sugianto yang ditangkap polisi merupakan warga Kabupaten Blitar.

"Satu pelaku asal Kabupaten Blitar, tapi yang bersangkutan domisili di Kediri," tulis Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Frans Barung Mangera saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp (WA), Jumat (12/4/2019).

AS atau Aris Sugianto tercatat sebagai warga Dusun/Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Jarak rumah AS atau Aris Sugianto dengan lokasi penemuan jasad korban sekitar 1,5 kilometer.

Sedangkan AP atau Ajis Prakoso ditangkap polisi saat naik bus menuju Jakarta. Dia berinisial AP.

Pelaku pemutilasi guru honorer ini ditangkap saat berada dalam bus di Tol Dalam Kota Tegal Parang, Jakarta Selatan, Jumat (12/4/2019) pukul 07.50 WIB.

Penangkapan itu disampaikan oleh Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf. Ia mengatakan, penangkapan pelaku dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dari Polda Jawa Timur terkait ciri-ciri pelaku itu.

Saat itu, pelaku diperkirakan berada di dalam bus menuju Jakarta.

"Informasi dari Ditreskrimum Polda Jatim, pelaku mutilasi segera akan ke Jakarta dengan menggunakan bus. Kami lakukan penyekatan jalan tol termasuk di pintu masuk Cikarang utama," kata Yusuf, Jumat (12/4/2019).

Setelah penangkapan itu, polisi membuat laporan ke SPKT Polda Metro Jaya dan melimpahkan kasus tersebut ke Polda Jatim.

Potongan Kepala Guru Honorer Budi Hartanto Ditemukan Usai 9 Hari Ditemukan Koper

Teka-teki potongan kepala guru honorer asal Kediri, Budi Hartanto (28) yang dibunuh dan dimultilasi terungkap usai 9 hari kasus ini dibuka.

Lokasi penemuan kepala guru honorer yang dimutilasi ini pun mengingatkan kembali kepada pernyataan paranormal yang sempat diminta bantuannya oleh keluarga Budi Hartanto.

Tak hanya potongan kepala, pelaku mutilasi guru honorer Budi Hartanto pun sudah ditangkap oleh Polda Jatim, Jumat (12/4/2019).

Sebelumnya, diketahui jenazah Budi Hartanto ini ditemukan di dalam koper di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Blitar, Jawa Timur, (2/4/2019) lalu.

Korban Budi Hartanto ini diketahui berprofesi sebagai guru honorer di Sekolah Dasar dan juga guru seni tari.

Saat ditemukan, jenazah Budi Hartanto yang tertelungkup di dalam koper hitam tersebut ini hanya berupa badan saja, sedangkan kepalanya terpisah.

Usai 9 hari, Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera mengungkapkan, potongan kepala Budi Hartanto, guru honorer asal Kediri  tersebut selama ini disimpan rapat oleh pelaku berinisial AP.

Penyimpanan potongan kepala Budi Hartanto ini terletak di Sungai Kras, Dusun Plosokerep, Desa Bleber, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri paada Jumat (12/4/2019).

Lokasi potongan kepala guru honorer ini diungkap oleh pelaku AP. Pengakuan pelaku mutilasi, membuang potongan kepala korban di Dam Sungai Bleber.

Proses penyimpanan itu, ungkap Barung, dilakukan dengan cara dipendam dalam sepetak bidang tanah di kawasan tersebut.

"Di desa Kediri itu, bagian tubuh korban dibawa AJ,"katanya pada awak media, Jumat (12/4/2019).

Lokasi penemuan potongan kepala ini pun berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi penemuan koper berisi tubuh mayat. Ketika ditemukan, potongan kepala guru honorer itu terbungkus plastik dan karung.

Barung menerangkan, kondisi potongan tubuh itu tak lagi utuh karena telah lama mengalami proses pembusukan.

"Ya karena dikubur dan sudah melewati proses pembusukan," lanjutnya.

Seusai ditemukan, potongan organ bagian kepala itu kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Kota untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah melalui serangkaian otopsi oleh Tim Forensik Polda Jatim, dapat dipastikan potongan kepala itu adalah Budi Hartanto.

"Kamu sudah memastikan itu kepala korban karena sudah kami identifikasi. Darahnya identik dengan darah korban," ujarnya.

Keluarga Budi Hartanto turut melibatkan paranormal untuk mengetahui lokasi kepala dari guru honorer tersebut

Menurut kerabat Budi Hartanto, hasil penerawangan paranormal tersebut bagian kepala dari guru honorer tersebut sudah dilarung ke sungai.

"Sudah ada upaya ke salah satu paranormal. Dari hasil penerawangannya,anggota tubuh korban sudah dilarung ke sungai," ungkap salah satu kerabat korban, Senin (8/4/2019).

Namun tidak jelas di sungai mana bagian tubuh korban itu telah dibuang pelaku.

Sebelumnya juga ada paranormal yang menyebutkan bagian tubuh korban masih disimpan dan baru dibuang sehari setelah korban ditemukan.


 

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.