HETANEWS

Dituduh Menggelapkan Uang Oleh Purnama, Evi Sebut Uang Itu Diberikan Kepada Suami Purnama

Evi Sianipar saat bersama Ketua DPD Partai Nasdem Siantar Frans Herbet Siahaan ketika menggelar komfrensi pers.(Foto/Tom)

Siantar, hetanews.com - Disebut-sebut mengelapkan uang bahkan informasinya telah dilaporkan ke Polisi, Evi Yanti Masliana Sianipar sebagai terlapor membantuh tuduhan tersebut, dia menyebutkan uang diberikan oleh Pelapor Pendeta (Pdt) Purnama Silalahi diberikan oleh Evi kepada suami Purnama yakni Pdt Benyamin Sidabutar.

Sempat diberitakan dibeberapa media, Evi yang merupakan Calon Anggota Legislatif (Caleh) Partai Nasdem untuk DPRD Siantar dipanggil oleh Ketua DPD Partai Nasdem Kota Siantar Frans Herbet Siahaan, akhirnya Evi yang didampingi Ketua DPD Nasdem menggelar komfrensi pers di Kantor Nasdem Kota Siantar, Jalan Pattimura, Jumat (12/04/2019).

Dalam komfrensi pers tersebut Evi membantah tuduhan telah melakukan penipuan terhadap Pdt Purnama Silalahi, Evi mengaku dirinya Justru sebagai korban informasi bohong yang dilakukan oleh Pdt Purnam

“Kepada saya, dia (Pdt Purnama) mengaku suaminya telah meninggal dunia. Ternyata, suaminya masih hidup dan sehat, dan datang menemui saya,” tutur Evi.

Diterangkan Evi, pasca pemberitaan di media massa yang menyebutkan dirinya melakukan penipuan, ia dipanggil Ketua DPD Partai NasDem siantar, Frans Herbeth Siahaan. Frans meminta Evi menerangkan kejadian yang sebenarnya. Apalagi, Pdt Purnama sempat mendatangi kantor DPD Partai NasDem dan menanyakan keberadaan Evi kepada Frans.

Menurut Evi, beberapa bulan lalu saat mulai maraknya proses Pemilu Legislatif, ia berkenalan dengan Pdt Purnama, yang merupakan pengurus salah satu yayasan di Siantar. Dari perkenalan itulah, mereka akrab.

Kepada Evi, Pdt Purnama mengaku suaminya telah meninggal dunia. Saat itu, kata Evi, kepadanya Pdt Purnama mengatakan ia tengah menjalin hubungan dengan seorang pria di Jambi, berinisial S. Bahkan, Pdt Purnama menyebutkan ia dan S sudah merencanakan pernikahan.

Suatu hari, antara bulan November dan Desember, lanjut Evi, Pdt Purnama memberitahunya bahwa kekasihnya, S, mengalami kecelakaan di Jambi. Karena sibuk, Pdt Purnama meminta Evi datang ke Jambi untuk melihat kondisi S. Evi pun setuju. Jadilah ia berangkat ke Jambi.

“Malah turut bersama saya, adik kandung Pdt Purnama RS dan istrinya DP. Juga anak lelaki mereka, LS. Seorang lagi, teman kami, Jh. Jadi kami berlima naik mobil ke Jambi,” ungkap Evi.

Namun di Jambi, sambung Evi, ia terkejut karena ternyata S mendekam di penjara karena terlibat penyalahgunaan narkoba. Nah, saat mereka di Jambi, melalui sambungan telepon, Pdt Purnama mengatakan mau mentransfer uang Rp50 juta untuk S.

“Karena RS sebagai adik kandungnya mengaku tidak hafal nomor rekening bank miliknya, jadinya uang itu ditransfer ke rekening saya, sebesar Rp50 juta. Setelah uang masuk ke rekening, langsung saya ambil tunai semuanya,” beber Evi lagi.

Di hadapan RS, DP, LS, dan Jh, uang tersebut dibagi tiga bagian dan masing-masing dimasukkan ke amplop. Lalu mereka mendatangi S ke tempat ia ditahan.

Hanya saja, uang tersebut tidak bisa diserahkan ke S. Sebab di sekitar mereka duduk, ada CCTV. Lantas, mereka berunding dan memutuskan kembali ke Siantar. Terkait uang untuk S, akan dicari cara untuk menyerahkannya.

Dalam perjalanan pulang, saat singgah makan di salah satu tempat, RS meminta uang tersebut dari Evi.

“RS minta satu amplop. Isinya Rp14.500.000. Karena yang minta adik kandung Purnama, saya kasih. Kata RS saat itu, jangan dulu kasih tau Purnama kalau ia meminta uang. Nanti saja kalau ditanya. Apalagi, kata RS, ternyata suami Purnama belum meninggal,” terang Evi yang mengaku sebelumnya tidak ada pembicaraan soal pemindahan tempat penahanan RS dari Jambi ke Siantar.

Tiba di siantar, Evi melaporkan misi mereka untuk memberikan uang kepada S gagal. Namun tidak ada pembicaraan soal keberadaan uang Rp50 juta yang sempat ditransfer Purnama ke rekening Evi. Termasuk soal uang Rp14.500.000 yang diminta RS.

Hingga beberapa hari kemudian, lanjut Evi, ada seseorang menelepon dia. Orang tersebut mengaku dari salah satu kelurahan dan menawarkan diri bisa mendulang suara untuk Evi saat Pemilu. Evi pun tertarik dan keduanya berjanji bertemu di suatu tempat.

Ternyata orang tersebut merupakan pengacara, bernama Jonly Sinaga. Ia datang bersama timnya dan kliennya, yakni Benyamin Sidabutar. Sementara Evi, didampingi salah seorang temannya, SK. Pertemuan, diadakan di kediaman SK di kawasan Siantar Sitalasari.

Kepada Evi, Benyamin memperkenalkan diri sebagai suami sah Purnama.

“Pak Benyamin malah membawa akta  pernikahannya dengan Purnama,” tukas Evi.

Kepada Evi, Benyamin menanyakan uang yang ditransfer Purnama kepadanya. Saat itu, tambah Evi, dia bingung. Akhirnya dia memutuskan tidak mau terlibat dalam hubungan rumah tangga Purnama dan Benyamin. Alhasil, ketika Benyamin meminta sisa uang Rp35.500.000, setelah sebelumnya Evi mengatakan uang Rp14.500.000 telah diambil RS.

“Uang Rp35.500.000 saya serahkan ke Pak Benyamin di depan pengacaranya, Pak Jonly Sinaga. Serta dilengkapi tanda terima,” sebut Evi.

Waktu pun berlalu. Hingga suatu hari Evi teringat dan mengirim pesan melalui WA kepada Purnama. Melalui WA, Evi menjelaskan soal keberadaan uang milik Purnama, yakni telah diambil RS dan Benyamin.

Purnama tidak terima. Ia keberatan dan meminta uangnya dikembalikan. Jika tidak, maka ia akan menempuh jalur hukum.

Evi sempat meminta Purnama agar menelepon langsung Benyamin. Namun menurut Benyamin kepadanya, tak pernah sekali pun Purnama menelepon dia.

“Setelah itu, kami tidak ada komunikasi lagi. Hingga kemudian ada pemberitaan yang menyebutkan Purnama telah melaporkan saya ke polisi,” tukas Evi, yang mengaku siap dipanggil polisi terkait laporan Purnama.

Sementara itu, suami Purnama, Benyamin Sidabutar yang turut hadir dalam komfrensi pers mengatakan, ia mengetahui istrinya meminta Evi mengantar uang ke Jambi dari asisten rumah tangga (ART)-nya. Lantas ia berusaha mencari nomor telepon Evi. Namun baru diperoleh setelah Evi kembali ke Siantar.

“Kami bertemu, saya bakwa akta nikah. Lalu saya minta uang itu,” kata Benyamin seraya menambahkan ia berulang-ulang menelepon Purnama, namun tidak pernah diangkat.

Ditanya kenapa Benyamin meminta uang tersebut, dia menduga jika uang yang diberikan Purnama kepada Evi adalah uang dari Yayasan mereka.

"iya udah sering dia kayak gitu," sebut Benyamin dengan nada tinggi.

Ketua DPD Partai NasDem Pematangsiantar Frans Herbert Siahaan mengatakan, setelah ada berita tentang Evi yang dilaporkan ke polisi, ia langsung memanggil yang bersangkutan.

“Apapun ceritanya, sejauh ini kita memegang asas praduga tidak bersalah. Jika nantinya Evi ditetapkan sebagai tersangka, tentu akan ada kebijakan dan keputusan,” katanya.

Sebelumnya, sesuai pemberitaan dibeberapa media Purnama menceritakan bahwa Evi berjanji dapat memindahkan saudaranya dari Lapas Jambi ke Lapas Pematangsiantar.

Menurut Purnama,Evi pernah datang ke rumahnya untuk meminta dukungan suara. Ketika berbincang-bincang, Purnama menceritakan keluhan pemindahan nara pidana. Lalu, Evi mengaku kenal dekat dengan pejabat Kemenkumham.

"Nanti bisa saya urus ke Kanwil, ke Dirjen, dan lainnya. Itu katanya, tetapi janji itu tak kunjung terwujud,” ujarnya.

Karenanya, Purnama memutuskan meminta kembali uang yang sempat ia berikan kepada Evi. Namun, Evi mengaku uang itu sudah dikembalikan kepada suami Purnama. Tetapi, suami Purnama tidak tahu di mana keberadaannya.

Menurut Purnama, pengembalian uang seharusnya tidak kepada siapapun, kecuali dirinya selaku pihak yang menyerahkan uang tersebut kepada Evi.

"Siapa yang memberikan uang, maka harus kepada yang memberikan uang itulah dikembalikan," pungkasnya.

Penulis: tom. Editor: tom.