HETANEWS.COM

Pencemaran Nama Baik Kapolda Sumut, Muhammad Yusroh Hasibuan Divonis 9 Bulan Penjara di PN Kisaran

Muhammad Yusroh Hasibuan saat mendengarkan putusan Ketua Majelis Hakim, Ulina Marbun, di Ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, Kamis (11/4/2019). (Foto/Ren)

Asahan, hetanews.com -  Muhammad Yusroh Hasibuan, terdakwa kasus pencemaran nama baik Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, menjalani sidang dengan agenda pembacaan vonis, di Ruang Utama Cakra Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, Kamis (11/4/2019).

Dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Ulina Marbun, Yusroh akhirnya divonis bersalah, karena melanggar Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU No 19 tahun 2016 perubahan atas UU RI No 11 tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elekstronik.

Yusroh disebut secara sah dan meyakinkan dengan sengaja atau dalam keadaan sadar melakukan penghinaan terhadap jabatan seseorang.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Muhammad Yusroh Hasibuan, dengan pidana penjara selama sembilan bulan," ucap Ulina.

Selanjutnya, Yusroh yang ditahan sejak 6 November 2018 akan tetap berada di dalam tahanan sesuai putusan pengadilan tersebut.

Mendengar vonis itu, Yusroh yang dimintai pendapatnya oleh majelis hakim menyatakan pikir-pikir. Hal yang sama disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Batubara.

"Kami pun pikir-pikir yang mulia," ucap JPU David.

Seakan tak puas dengan vonis yang ia terima, Yusroh pun lantas berteriak saat hendak dibawa oleh petugas pengawal tahanan ke sel tahanan sementara di PN Kisaran.

"Hidup rakyat," teriak Yusroh sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas.

Sementara, penasehat hukum Yusroh, Maswan Tamba menyatakan kekecewaannya atas vonis yang diterima kliennya. Meski majelis hakim menjatuhi hukuman kepada Yusroh dibawah tuntutan JPU yakni 1 tahun 6 bulan penjara.

"Kami kecewa dengan vonis hari ini, begitu juga bagi kawan-kawan lainnya. Dengan jatuhnya hukuman ini berarti Yusroh terbukti bersalah. Vonis ini menunjukkan bahwa saat ini melakukan kritik dianggap perbuatan salah. Pengadilan melalui majelis hakimnya, hanya sebagai penyempurna kesalahan seseorang," kata Maswan.

Apalagi menurutnya, kritikan yang dilakukan Yusroh terhadap sebuah jabatan tidak bisa dipidana sama sekali.

"Yusroh hanya melakukan upaya kritik terhadap Kapolda yang ia nilai gagal dalam memimpin Polda Sumut," pungkasnya.

Seperti diketahui, kasus Muhammad Yusroh Hasibuan bermula pada 27 September 2018 silam. Saat itu terdakwa Yusroh mengirim sejumlah foto-foto aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa gabungan dari Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun yang pada intinya mengecam tindakan represif oknum aparat kepolisian terhadap mahasiswa di Kota Medan ke grup percakapan Whatsapp ‘Berita Batubara Online’.

Selanjutnya foto itu pun dikomentari salah seorang anggota grup dan bertanya, dimana aksi itu dilakukan?, pertanyaan tersebut lantas dijawab oleh Yusroh yang berbunyi ‘Siantar Simalungun, GMNI, GMKI, HMI, Himmah, BEM dan lain lain. Mengutuk tindakan represif oknum Polri. Copot Kapoldasu’.

Menurut keterangan ahli bahasa kata 'copot Kapoldasu' merupakan kalimat yang merendahkan nama baik seseorang terlebih orang tersebut merupakan pejabat yang seyogyanya harus dihargai serta dihormati.

Penulis: rendi. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!