HETANEWS

Rombongan Kafilah dari Pakpak Barat Pertama Tiba di Kota Tebingtinggi

Para kafilah peserta STQH Sumut yang berasal dari Pakpak Barat, ketika mengikuti pendaftaran ulang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi. (foto/rps)

Tebingtinggi, hetanews.com - Para rombongan kafilah yang akan mengikuti Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke 16 tingkat Sumatera Utara (Sumut), telah tiba di Kota Tebingtinggi, diantaranya, dari Kabupaten Pakpak Barat dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Rombongan kafilah Tapanuli Tengah tiba di pemondokan, kawasan Jalan Nangka, Kelurahan Rambung, Kecamatan Tebingtinggi Kota, Senin (8/4/2019).

Sementara dari 32 daerah peserta STQH ke 16 tingkat Sumut yang diselenggarakan di Kota Tebingtinggi, rombongan kafilah Kabupaten Pakpak Barat adalah kafilah pertama yang tiba di Kota Tebingtinggi, pada Minggu (7/4/2019) sore, lalu.

Ketika ditemui, disela-sela melakukan pendaftaran ulang, di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, official pendamping kafilah Tapanuli Tengah, Abran mengaku, senang dengan penyambutan yang dilakukan oleh tuan rumah.

Pria yang akrab dipanggil Bram ini, mengatakan, bahwa seluruh kafilah dari Tapanuli Tengah, merasa bersyukur karena lokasi pemondokan mereka berada di tengah kota dan berdekatan dengan tiga lokasi kegiatan, yakni Lapangan Merdeka, Gedung Hj Sawiyah dan Gedung Balai Pertemuan Kartini yang berada di Jalan Imam Bonjol, Kota Tebingtinggi.

"Rumah pemondokan kami lumayan bagus dan nyaman ditempati, mulai dari pelayanan akomodasi, konsumsi dan sambutan yang kami terima hingga saat ini baik, semoga tidak ada kendala selama mengikuti kegiatan STQH tingkat Sumut,” sebutnya.

Disebutkan Bram, jika kafilah dari Tapanuli Tengah beranggotakan 12 orang yang nantinya akan mengikuti cabang Tilawah Dewasa putra/putri, Tilawah Anak putra/putri, Hifzil Qur’an 1 juz putra/putri serta Hifzil Qur’an 5 juz putra/putri, dan kafilah Tapanuli Tengah tidak mengikuti seleksi cabang Hadits yang baru pertama kali diseleksikan tahun ini, karena sebelumnya tidak dilaksanakan. "Cabang Hadits baru kali ini ditandingkan jadi kami tidak mengikutinya, Insya Allah tahun depan kalau anggaran pemerintah daerah ada, mungkin dari Kabupaten Tapanuli Tengah akan ikut,” jelasnya.        

Para kafilah peserta STQH Sumut yang berasal dari Tapanuli Tengah, ketika mengikuti pendaftaran ulang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi. (foto/rps)

Sementara itu, Akhyar, official pendamping kafilah Pakpak Barat, menyampaikan, bahwa kafilah Pakpak Barat tiba di Tebingtinggi lebih awal karena sebelumnya kafilah Pakpak Barat mengikuti TC selama seminggu, di Kota Medan.

"Jadi dari Medan kami langsung ke Kota Tebingtinggi agar para peserta STQH dari Pakpak Barat tidak bolak-balik,” jelas Akhyar.

Ketika disinggung mengenai fasilitas akomodasi dan konsumsi selama mengikuti STQH, di Tebingtinggi, Akhyar mengaku, jika lokasi pemondokan kafilah Pakpak Barat yang disediakan, di kawasan Jalan Meranti, Kelurahan Deblot Sundoro, Kecamatan Padang Hilir, juga cukup baik dan nyaman ditempati.

Sebelumnya, Akhyar mengaku sempat merasa khawatir karena dari 5 lokasi tempat pertandingan yang telah ditentukan oleh panitia di Kota Tebingtinggi hanya lokasi Lapangan Merdeka, Jalan Sutomo saja yang mereka ketahui, namun setelah diperkenalkan dengan petugas penghubung yakni, Agung Pratama dan M Furqon Syahputra, Akhyar mengaku kafilahnya bisa lega dan lebih percaya diri dalam mengikuti STQH tingkat Sumut di Tebingtinggi.

"Maklumlah kami baru sekali ini berkunjung ke Kota Tebingtinggi, namun sambutan warga kota ini sangat baik dan kita berharap tidak ada kendala selama mengikuti seleksi STQH di Tebingtinggi ini,”harapnya.

Akhyar menambahkan, jika kafilah Pakpak Barat yang beranggotakan 30 orang peserta dan official tersebut akan mengikuti seluruh cabang yang akan dipertandingkan pada STQH ke 16 tahun ini.

"Kafilah Pakpak Barat akan mengikuti seluruh cabang yang akan dipertandingkan, dari 20 orang peserta, sebanyak 4 orang berasal dari kalangan mahasiswa dan selebihnya adalah santri yang berasal dari beberapa pondok pesantren,” jelasnya.

Penulis: rps. Editor: gun.