HETANEWS

Bupati Tidak Setuju Penebangan Pinus di Kawasan Samosir

Rapidin Simbolon. (Sumber YouTube)

Samosir, hetanews.com - Banyaknya penebangan pohon yang terjadi secara masif yang dilakukan secara besar, dengan skala yang luas, bukan hanya di Hutan Tele, tapi juga marak di Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir.

Hal itu terungkap, ketika Satuan Reskrim Polres Samosir, mengamankan sebuah truk bermuatan pohon pinus dan tampak baru ditebang, pada Sabtu malam (23/3/2019), lalu, di Jalan Raya Simanindo Buhit, Pangururan.

"Benar, kami telah menangkap truk bermuatan pinus milik seorang inisial G, pada Sabtu malam lalu, dan saa tini sedang kita periksa dengan mendatangkan ahli kehutanan untuk melihat status hutan di lokasi TKP serta melihat keabsahan kepemilikan hutan pinus dan dokumen jual belinya," ujar AKP Jonser Banjarnahor ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis (28/3/2019), sekitar pukul 15.5 WIB.

Lanjut Kasat Reskim, bahwa dari penyelidikan yang mereka lakukan, dan sesuai keterangan dari Dinas Kehutanan, kayu yang dibawa truk tersebut milik masyarakat dan bukan dari hutan lindung (lahan register)

dan dokumen yang ditunjukkan dari si pengusaha adalah dokumen jual beli dari pemilik kayu, berinisial S. 

Selanjutnya, setelah melakukan pemeriksaan dengan tuntas, maka pihak Polres Samosir akan melakukan gelar perkara, katanya."Gelar perkara akan segera kita laksanakan," tegas Jonser.

Menyikapi maraknya penebangan pohon di wilayah kabupaten Samosir, yang dikhawatirkan akan menimbulkan kembali bencana bagi warga, Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, dengan tegas menyatakan prihatin dan tidak setuju dengan penebangan-penebangan tersebut.

"Untuk penebangan pohon di Kecamatan Ronggurnihuta, saya juga tidak setuju. Karenanya mari satukan langkah dengan para penggiat lingkungan untuk menyelamatkan danau toba," tegas Rapidin Simbolon ketika dikonfirmasi awak media melalui sellulernya, pada Rabu (27/3/2019).

Menurutnya, secara pribadi dan institusi, Pemkab Samosir tidak setuju dengan kegiatan perusakan lingkungan, di wilayah Kabupaten Samosir.

"Iyaa.., pasti saya sangat menentang keras pengrusakan lingkungan (di Samosir,red) bila tidak mengikuti dan mentaati segala aturan dan perundangan yang mengaturnya," tambah Rapidin Simbolon.

Sebelumnya diberitakan, akibat tingginya curah hujan, mengakibatkan lebih dari 5 hektar lahan atau areal pertanian di tiga desa, yakni Desa Sarimarrihit, Desa Habeahan Naburahan, dan Desa Aek Sipitudai, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir dihantam banjir bandang, pada Kamis (21/3/2019), sekitar pukul 16.00 WIB, lalu.

Camat Sianjur Mula-mula, Rudi Sitorus, ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan peristiwa itu. Dia menyampaikan, lahan yang terkena dampak banjir rata-rata tanaman padi dengan umur tanam sekitar 2 bulan.

"Banjir terjadi akibat curah hujan yang cukup deras, dan menghantam sekitar 5 hektar lahan pertanian padi dengan umur tanam 2 bulan," terang Rudi. 

Penulis: stm. Editor: gun.