Mon 22 Apr 2019

Sindir OPM-KKB, Putera Papua Mahasiswa S2 Sebut Jangan Mengatasnamakan Rakyat Papua

Personil TNI menyelamatkan korban banjir sentani. (Kanan) Steve Rick Elson Mara.

Papua, hetanews.com - Seorang putera Papua, menyanjung peran TNI dalam penanganan bencana alam di  Sentani, Papua, dan menyindir kelompok gerombolan separatis bersenjata dan pihak-pihak yang selama ini berjuang mengatasnamakan perjuangan rakyat Papua.

Pendapat Steve Rick Elson Mara yang saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Pertahanan, tentang bagaimana dirinya memandang TNI dimuat di situs web kodam17cenderawasih-tniad.mil.id, Senin lalu.

Menurut mahasiswa Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional ini bencana Alam menjadi ancaman nyata yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia.

Komponen utama dan komponen cadangann serta komponen pendukung, katanya, harus bersinergi dalam menangani bencana alam di Indonesia.

TNI yang memiliki tugas fungsi utama menjaga integrasi wilayah Indonesia, katanya, telah menambah beban tugasnya untuk membantu meringankan beban dan menyelamatkan korban bencana alam di Papua.

Ia menilai, seakan-akan TNI tidak peduli bahwa diri, keluarga dan hartanya pun ikut jadi korban bencana.

Tetapi mereka tampa mengenal lelah, siang malam mendedikasikan diri, tenaga keringat dan hartanya untuk kemanusiaan tampa memandang perbedaan, Suku, Agama, Ras dan Antar golongan.

“Sedangkan, disisi lain kelompok gerombolan separatis bersenjata dan pihak-pihak yang selama ini berjuang mengatasnamakan perjuangan rakyat Papua tidak melakukan tindakan apapun sebagai wujud peduli kepada kemanusiaan khususnya terhadap warga Papua yang sedang menderita.''

Ia menghimbau kepada siapapun yang berbeda haluan dengan NKRI baik yang mempersenjatai diri secara illegal tanpa hak, maupun yang berjuang lewat jalur politik, entah itu KNPB, UMLWP, pihak-pihak yang menamakan diri pekerja kemanusiaan, oknum pejabat daerah, anggota dewan, oknum pendeta dan lain-lain, berhentilah mengatas-namakan rakyat Papua.

Menurut Steve Rick Elson Mara, perjuangan mereka bukan untuk kami putra-putri Papua. “Kalian berjuang hanya untuk kepentingan sendiri, kalian hanya mencari keuntungan sendiri di atas penderitaan kami,” tulisnya.

Menurut Steve Rick Elson Mara, rakyat Papua tidak butuh merdeka, karena hakikatnya mereka telah merdeka di dalam bingkai NKRI.

“Buktinya saat ini saya sendiri sedang menempuh pendidikan di Universitas Pertahanan Negara (UNHAN) di Jakarta dengan fasilitas negara.

Dimana mahasiswanya berasal dari seluruh penjuru tanah air Indonesia tanpa adanya kesenjangan. Tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan antar golongan,” tulisnya.

Sebelumnya seorang pendeta asal Papua, mengabarkan situasi terkini di daerah konflik Nduga, Papua.

Sebelumnya Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Egianus Kogoya membantai 25 pekerja PT Istaka (17 tewas, 4 orang)  di Nduga, Minggu (2/12/2018)..

Pemerintah mengerahkan pasukan baik dari TNI dan Polri guna melakukan pengejaran KKB Egianus Kogoya dan sudah 6 orang gugur dan 7 orang luka-luka.

Kelompok KKB dan pihak tertentu menyebut pengerahan TNI/Polri ini membuat warga Nduga terintimidasi dan mengungsi.

Disebutkan dalam rilis tertulis Kepala Penerangan XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi kepada redaksi pada Minggu (24/3),Upaya penegakan hukum dan pengejaran KSB ini terus dilakukan tanpa kenal lelah oleh aparat TNI Polri, walaupun dalam upaya ini sudah menimbulkan sedikitnya 6 orang gugur dan 7 orang luka-luka.

Pdt. Nathaniel Tabuni menyampaikan hal tersebut langsung dari depan Kantor Distrik Mbua, Kabupaten Nduga.

Pernyataan ini direkam oleh seorang jemaatnya kemudian dikirim ke awak media pada, Senin (18/3/2019).

“Apkam (aparat keamanan) dari TNI Polri tidak akan membunuh masyarakat sipil yang tidak berdosa, Apkam hanya mengejar TPN OPM. Justru sebaliknya TNI sangat membantu dan melindungi rakyat,” ujarnya.

Menurut Pdt. Nathaniel Tabuni, kondisi keamanan di Distrik Dal, Yal dan Mbua, Kabupaten Nduga tetap aman.

Kehidupan rakyat normal membaur dengan aparat keamanan. Pendeta Tabuni menyayangkan adanya sekelompok orang yang memanfaatkan kondisi Nduga dan rakyat sebagai proyek untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan membuat isu-isu yang menurutnya bohong.

Tabuni pun meminta agar semua anak sekolah yang saat ini berada di Gereja Kingmi Jemaat Woneroma, Kota Wamena, Kab. Jayawijaya segera dikembalikan dan dibawa ke Nduga.

Personel TNI menolong orang tua di Nduga
Personel TNI menolong orang tua di Nduga (kodam 17 cendrawasih)

“Semua tenaga pengajar yaitu guru dan anak-anak sekolah harus kembali beraktifitas di Distrik Mbua karena fasilitas SMA, SMP dan SD Inpres ada di Distrik Mbua,” ujarnya.

“Anak-anak sekolah jangan dijadikan untuk kepentingan pribadi atau proyek, karena itu dosa,” tegasnya.

Pendeta Tabuni juga berpesan agar Bupati Nduga segera kembalikan anak-anak yang ada di Gereja Kingmi Jemaat Wonorema ke Kabupaten Nduga.

Jika hal itu tidak dilakukan, ia berkesimpulan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten punya kepentingan.

“Jangan jadikan rumah saya sebagai proyek,” ujarnya.

Pendeta Tabuni (kanan) membeber kondisi terkini di Nduga
Pdt Nathaniel Tabuni (kanan) membeber kondisi terkini di Nduga (facebook)

Kurang lebih 200-an dari 600 lebih pelajar SD hingga SMA/SMK dari berbagai kampung dan distrik di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua terancam tidak bisa mengikuti ujian nasional (UN).

Demikian hal ini disampaikan oleh Raga Kogeya, anggota tim relawan kemanusiaan untuk Nduga kepada wartawan di Kota Jayapura, Papua, Kamis.

"Ada sekitar 200-an anak asal Nduga yang bisa saja tidak ikuti UN tahun ajaran 2019," katanya, pekan lalu.

Menurut dia, ratusan anak atau pelajar asal Nduga itu kini berada di tenda-tenda darurat di halaman Gereja Kingmi, Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya.

Personel TNI akrab bersama anak-anak di Nduga
Personel TNI akrab bersama anak-anak di Nduga (kodam 17 cendrawasih)

"Mereka ini merupakan bagian dari 2.000 lebih pengungsi dari Nduga, imbas dari kekerasan awal Desember 2018," ujar Raga.

Raga mengemukakan, anak-anak tersebut enggan pulang kembali ke daerah asalnya, karena masih trauma tragedi penyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya terhadap para pekerja Jalan Trans Papua dari PT Istaka Karya.

"Mereka berada di Papua karena mengikuti orangtuanya yang mengungsi. Selain itu ada juga 80-an guru yang juga dari Nduga bersama mereka," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pelajar asal Nduga tersebut menginginkan mengikuti UN di Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Wamena dan tidak ingin ujian di Kenyam, Kabupten Nduga.

"Mereka bahkan masih takut jika melihat aparat keamanan, karena trauma. Mereka tinggal di sanak keluarga di Wamena dan tiap subuh berjalan kaki untuk ke sekolah yang kami dirikan secara darurat. Mereka mau ujian di Wamena saja," ujar Raga.

Sebelumnya, pada awal Februari 2019, Wakil Bupati Nduga, Wentius Nimiangge mengklaim jika kondisi keamanan di beberapa wilayah, khususnya ibu kota kabupaten setempat sudah berangsur kondusif, di mana roda pemerintahan dan pendidikan yang mulai berjalan normal.

"Kondisi keamanan sudah berangsur kondusif di ibu kota dan pendidikan juga sudah terlaksana. Ujian itu adalah agenda nasional, jadi semua sekolah harus siap memberikan materi serta bertanggung jawab," katanya.

Menurut Wentius, meski secara keseluruhan di beberapa wilayah belum sepenuhnya kondusif, pihaknya mengimbau agar masyarakat yang mengungsi ke daerah lain hingga ke Wamena, dapat segera kembali dan beraktivitas seperti biasa.

"Untuk UN, bagi sekolah yang tidak ada gangguan di wilayahnya bisa digelar di daerahnya masing-masing dan yang masih ada gangguan seperti dari Yuguru sampai sampai di Mbua diarahkan ke Kenyam," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lanny Jaya berkoordinasi dengan Pemkab Nduga terkait 745 kepala keluarga (KK) yang mengungsi ke daerah itu.

Sekda Lanny Jaya Christian Sohilait ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Senin (26/3/201), mengatakan koordinasi itu perlu dilakukan agar Pemkab Nduga bisa mengetahui bahwa ada warganya yang sedang di daerah kami.

''Saya sedang buka komunikasi dengan pihak terkait di Nduga, saya sudah hubungi beberapa pihak terkait,'' katanya.

Menurut dia, koordinasi itu penting agar ada sinergitas antara para pemangku kepentingan terutama Kabupaten Lanny Jaya dan Kabupaten Nduga untuk menangani para pengungsi tersebut.

''Kami pada pekan depan akan mengirimkan 18 ton beras rastra ke Distrik Kuyawage lewat jalan darat. Harapannnya warga Kuyawage bisa berbagi untuk para pengungsi dari Nduga,'' katanya.

Sekda berharap koordinasi yang dibangun bisa segera ditindaklanjuti sehingga semakin cepat menangani para pengungsi, terutama anak-anak yang usia sekolah dan yang akan ujian.

'';Bagaimana menangani mereka, bagaimana memberikan pelayanan kesehatan dan hal lainnya, sehingga kami terus bangun komunikasi dengan Nduga,'' katanya.

Sebanyak 745 kepala keluarga (KK) dari berbagai kampung dan distrik di Kabupaten Nduga telah mengungsi ke Kabupaten Lanny Jaya, Papua.

''Mereka (pengungsi) masuk paling besar itu di Distrik Kuyawage, setelah ada kontak tembak di Nduga. Di Kuyawage itu ada 704 KK, di Distrik Wano Barat 24 KK, Distrik Balingga Selatan 14 KK, di Balingga 3 KK,''kata Christian Sohilait.

  • OPM Tolak Victor Yeimo

Tokoh Organisasi Papua Merdeka yang berada di dalam belantara hutan memberikan peringatan kepada Victor Yeimo, mantan ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Seperti dilansir dari pasificpos.com, dalam sebuah video berdurasi 3 menit tersebut nampak salah satu tokoh OPM menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Victor Yeimo menghambat perjuangan bangsa Papua untuk merdeka karena apa yang dilakukannya hanya sekedar untuk mencari makan dan kepentingan pribadinya.

Dalam video tersebut keberadaan Victor Yeimo di luar negeri untuk menyuarakan kemerdekaan Papua dipertanyakan, karena diketahui OPM sendiri sudah memberikan mandat resmi kepada ketua United Liberation Movement Of West Papua (ULMWP) Benny Wenda untuk melakukan lobi di dunia internasional.

Apa yang dilakukan Victor Yeimo tersebut dianggap hanyalah sebuah manuver untuk menghambat kemerdekaan bangsa papua karena didasari oleh uang dan kepentingan pribadi. 

Dalam video tersebut juga disampaikan jika KNPB sendiri dibentuk hanya sebagai media untuk menyuarakan kemerdekaan Papua bukan untuk melakukan lobi lobi politik, hal itu semakin mengindikasikan ketidakjelasan KNPB dalam Perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua. 

Diakhir Video Para pejuang papua merdeka yang sedang melakukan persembunyian di hutan tersebut mengultimatum agar Victor Yeimo segera menghentikan Manuvernya jika tidak Mereka (Red:OPM) sendiri yang akan menghentikannya.

"Kamu tidak hormat tetua yang ada di hutan sini. tidak pernah datang mau bicara, atas nama organisasi papua merdeka saya ultimatum Victor Yeimo untuk hentikan kegiatan, jika tidak kami sendiri yang akan tembak kamu di sini, kamu pasti balik ke papua to". ujar tetua dalam video tersebut.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.