HETANEWS

Pihak Kampus Matikan Arus Listrik Saat Mahasiswa Lakukan Aski Penggalangan Dana, Mahasiswa Pun Protes

Aksi Protes Mahasiswa Terhadap Pihak Kampus Mereka.(Foto/Ivan)

Medan, hetanews.com - Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan menggelar aksi damai dengan melakukan aksi demo di depan kampus, Jl. Sutomo No.4A, Perintis, Medan Timur Kota Medan,Rabu  (20/03/2019).

Pasal nya para mahasiswa menggelar aksi tersebut karna mereka menuntut kerusakan alat musik pribadi mahasiswa yang digunakan dalam aksi pencarian dana di depan kampus, kerusakan peralatan musik yang terbilang tidak murah tersebut terjadi karna sumber arus listrik yang digunakan mahasiswa dicabut secara paksa oleh pihak rektorat.

Tak terima peralatan mereka rusak mahasiswa menuntut perbaikan dari pihak kampus, Dicky mahasiswa universitas HKBP Nomensen yang belajar di Fakultas Bahasa dan Seni menuturkan sebagai mahasiswa yang menjunjung Tri Dharma Perguruan tinggi yang didapat dari kampus, namun ia menyebutkan tidak melihat adanya hak mahasiswa dalam menyampaikan pendapat dan berkreativitas.

"Bahkan kami bertanya landasan peraturan - peraturan yang ditegakkan pihak kampus namun ditanggapi dengan emosional dan meninggalkan mahasiswa ketika sedang mediasi, kami merasa pihak kampus melakukan pembodohan terhadap mahasiswa,"katanya

"memang secara sistem BEMU kampus di nonaktifkan sejak 2007, inilah yang menjadi akar permasalahan tidak ada nya wakil mahasiswa di birokrasi kampus, sehingga aspirasi dan ekspresi mahasiswa tidak mampu di serap dengan baik, kehidupan kemahasiswaan adalah bagian integral dalam sistem pendidikan nasional sebagai kelengkapan kegiatan kurikuler,"paparnya

Lanjut Dicky merujuk berdasarkan Salinan Keputusan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 155/U/1998 yang menyatakan bahwasanya  Tujuan pendidikan tinggi adalah memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan tarap kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

"Atas dasar ini lah kami melakukan penggalangan dana untuk penanaman pohon dan mengedukasi masyarakat di pedesaan nanti nya. Kami tidak meminta uang, kami minta hak kami sebagai mahasiswa bahwa kampus merupakan wahana dan wadah bagi mahasiswa,"ucapnya.

Berdasarkan keterangan seorang  mahasiswa lainnya yakni dari fakultas Hukum yang  juga menyuarakan hal yang sama, mengatakan mereka bukanlah kriminal, yang mereka lakukan adalah yang positif.

"kenapa lah kampus ini udh kek pabrik ijazah, jadi gak bisa lagi mahasiswa berkreatifitas? Padahal kita kan bukan kriminal, kek yang dilakukan kawan-kawan FBS ini kan positif kali, belum tentu mahasiswa di luar sana mau bekerja keras panas-panas an untuk melakukan kegiatan sosial, padahal kawan kawan ini sudah menghibur bersosial pula, bahkan kami rela memberikan sedikit dari kantong kami untuk mendukung kegiatan sosial ini,"ucap salah seorang mahasiswa.

Dicky menjelas mahasiwa FBS berisinisiasi melakukan penggalangan dana berupa pentas musik untuk kegiatan penanaman seribu pohon di Parapat mendatang. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat, lingkungan dan alam. 

Pentas musik yang diadakan sejak 16 Maret itu ditentang oleh pihak rektorat dikarenakan tidak memiliki surat ijin melakukan kegiatan.

"orang itu gak bisa nunjukkan pasal berapa ada peraturan macam itu, tapi yaudah kita akhirnya bikin surat permohonan ijin dengan syarat jam 5 sore harus bubar. Bahkan peralatan kami sudah rusak karna sumber listrik yang dibayarkan dari uang kuliah mahasiswa di cabut secara paksa, peralatan musik pribadi dan sound system yang kami gunakan  kami kumpulkan dengan cara meminjam dan bahkan sampai membeli mengalami kerusaka,"ucapnya.

Hingga hari ketiga, 18 Maret 2019, kegiatan penggalangan dana harus berakhir dikarenakan aksi pencabutan arus listrik oleh pihak rektorat. Pencabutan arus listrik dilakukan dua kali berturut turut hingga menyebabkan sound pribadi mahasiswa terbakar.

"Yang dipermasalahkan arus listrik? Sedangkan seperti yang kita tau kita semua bayar BOP kan? Dan kami juga meminta pertanggungjawaban dan solusi atas tindakan pihak Wakil Rektor III atas kerusakan peralatan kami dan solusi tentang peraturan kampus yg secara sepihak mengekang mahasiswa dalam berkreatifitas"  ucapnya kepada hetanews.

Penulis: ivan. Editor: tom.