Sat 23 Mar 2019
Menyambut HUT Hetanews.com ke 5, kami membuka peluang terhadap jurnalis-jurnalis muda (usia 21-31) untuk bergabung dengan kami di seluruh wilayah Sumatra Utara (Sumut).
Kirim lamaran dan CV ke alamat Redaksi di Jalan Narumonda Atas No 47, Pematangsiantar-21124, Tel (0622-5893825) HP: 082167489093 (Reni)/ 082274362246 (Tommy Simanjuntak) atau Email: redaksihetanews@gmail.com. Pengumuman ini berlaku dari 7 Maret sampai 7 April 2019. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Pengemudi Ojek Online Cabuli Siswa SMP Dibebaskan, Arist Merdeka: Mencederai Hak Hukum Anak

Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, ketika berkunjung ke Polres Siantar, beberapa waktu lalu. (foto/hza)

Siantar, hetanews.com - Terkait dibebaskannya DMTH (35), pengendara ojek online (Ojol) yang merupakan terduga predator kejahatan seksual terhadap korban, Melati (nama samaran), siswi SMP di Siantar, dengan alasan telah berdamai, dianggap  mencederai penegakan  hukum.

Arist Merdeka Sirait, selaku Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, menyampaikan, bisa bayangkan, apa jadinya jika  kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia, diselesaikan dengan pendekatan damai dan pencabutan laporan, lalu menghentikan penegakan hukumnya.

"Sesungguhnya Polresta Siantar dalam penanganan kasus kejahatan seksual yang diduga dilakukan DMHT terhadap Melati ini  tidak perlu menghentikan perkara hanya karena sudah ada perdamaian antara korban dan pelaku," ujar Arist, lewat keterangan tertulisnya yang diterima hetanews.com, Sabtu (16/3/2019), sekira pukul 08.45 WIB.

Sebut Arist Merdeka Sirait, perlu diingat, sebagaimana yang dimaksud UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto padal 76D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomo2 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa kasus kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa dan harus ditangani juga secara luar biasa (extraordinary), serta pidana pokoknya juga mesti diterapkan luar biasa.

Tak hanya itu saja, Aris kembali menyampaikan, mengingat hukuman bagi predator kejahatan seksual dapat diancam dengan pidana pokok minimal 10 tahun maksimal 20 tahun dan bahkan dapat diancam dengan hukuman seumur hidup.  Dengan demikian  tidak ada alasan bagi Polresta Siantar untuk menghentikan kasus kejahatan seksual ini hanya lantaran ada perdamaian.

Lebih jauh dikatakannya, untuk penghentian kasus kejahatan seksual yang diduga dilakukan DMHT terhadap korban, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga yang diberikan otoritas dan mandat memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, bersama dengan otoritas Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Siantar dan Simalungun akan segera mengagendakan bertemu Kapolresta Siantar untuk melakukan kordinasi atas perkara ini khusus kepada Kasatreskrimum Polresta Siantar.

Untuk diketahui, berdasarkan kronologi peristiwa bahwa  kejahatan seksual terhadap S bermula ketika Pelaku  DMTH bertemu dengan S siswi kelas 8 SMP, di Jalan Haji  Ulakma Sinaga, Kabupaten Simalungun.

Ketika bertemu di pinggiran jalan itu, korban sedang sendirian, lalu DMTH kemudian mendekati korban dan mengaku sebagai Polisi. Kemudian DMTH mengatakan, bahwa korban terlibat tindak pidana penyalahgunaan  narkotika.

Baca juga: Polisi Narkoba Gadungan Terlibat Cabul Dibebaskan, Praktisi Hukum: Kasusnya Bisa Dilanjut

Mendengar itu, korban pun ketakutan hingga akhirnya mengikuti ajakan DMTH dengan mengendarai sepeda motor. DMTH  membawa S keliling-keliling Kota Siantar,  sebelum akhirnya masuk ke rumah sakit Horas Insani, di Jalan Medan, Kecamatan Siantar Martoba. Setibanya di sana,  DMTH langsung membawa S ke kamar mandi Rumah Sakit, kemudian pelaku memulai petbuatan bejatnya dengan meraba-raba bagian sensitif seperti menciumi payudara dan kemaluan korban.

Setelah DMTH melampiaskan nafsu bejatnya, kemudian DMTH mengantar korban ke salah satu salon, di Jalan Haji Ulakma Sinaga Siantar, tempat dimana ibu korban sedang bersalon. Disana lah, kemudian korban menceritakan  kepada ibunya apa yang sudah dialami.

Penulis: hza. Editor: gun.
Komentar 1