HETANEWS

Terungkap Sosok Penyebar Isu Kiamat yang Bikin 52 Warga Jual Tanah dan Rumah Murah, Cuma Rp 20 Juta

Malang, hetanews.com - Doktrin kiamat sudah dekat menguak seiring beredarkan berita tentang 52 warga Ponorogo yang minggat. Mereka diduga meninggalkan kampung halamannya untuk berlindung di sebuah pondok pesantren di Malang karena percaya akan segera terjadi kiamat.

52 warga Ponorogo yang dimaksud yakni mereka yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan. Mereka pergi ke Malang setelah menjual aset-aset yang mereka miliki di dusun tersebut. Baik rumah, tanah hingga hewan ternak.

Kepindahan puluhan warga dusun tersebut mencuri perhatian setelah salah satu warga net, Rizki Ahmad Ridho membahasnya di laman Facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP) pada Senin (11/3) sekitar pukul 10.14 WIB.

"#kepoinfo seng omahe watu bonang enek ora jarene lemah' pdo.di dol.gek pindah neg malang kae kronologine pie.. Seng 2 krngu" jarene kenek doktrin seng kiamat disek dwe daerah kno gek jarene neh kui gae jaket MUSA AS..kui aliran opo lurrr.samarku mbat brawek neg daerah" lio..Ngnu wae..mergo rdok nyamari babakan ngne kie wedi ko mbat di gae edan lak io.jembuk (#kepoinfo yang rumahnya di Watu Bonang ada apa tidak. Katanya tanah semua dijual terus pindah ke Malang itu gimana kronologinya. Dengar-dengar katanya kena doktrin yang kiamat pertama daerah situ dan katanya ada yang pakai jaket MUSA AS. Itu aliran apa, khawatirku merembet ke daerah lain. Gitu aja. Soalnya agak membahayakan bab seperti ini takutnya malah membuat orang gila)," berikut tulisan yang diunggah Rizki dalam Grup ICWP.

Kemudian, peristiwa tersebut dibenarkan oleh kepala dusun hingga camat setempat. Menurut Kepala Dusun Krajan, Sogi, ada 16 KK atau 52 warganya yang sudah minggat. Meski begitu, ia menegaskan jika puluhan warga tersebut masih berstatus sebagai warga Ponorogo karena mereka pergi secara diam-diam tanpa mengurus surat pindah.

"KTP, KK masih (berstatus) warga Desa Watubonang, tidak ada yang resmi pamit ke perangkat desa," kata Sogi saat ditemui di lokasi, Rabu (13/3).

Camat Badegan, Ringga Irawan kemudian menambahkan jika puluhan warga hijrah ke Malang setelah mendapat bisikan atau doktrin tentang kiamat sudah dekat dari santri atau jemaah sebuah ponpes di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Selain tentang kiamat, puluhan warga tersebut juga juga dijejali fatwa soal perang dan ancaman kemarau panjang.

Baca juga: Heboh Isu Kiamat di Ponorogo, Puluhan Warga Hijrah ke Ponpes di Malang

"Pada awalnya mereka dipengaruhi atau diajak oleh Katimun (48), warga RT 05 RW 01 Dukuh Rrajan, Desa Watubonang yang merupakan jemaah santri di sana," kata Ringga.

Dalam rilis yang dikeluarkan Kecamatan Badegan, Ringga menjelaskan jika 52 warga tersebut diduga menjadi jemaah Thoriqoh Musa. Terkait isu kiamat sudah dekat, jemaah diminta pergi dan menjual semua aset di Desa Watubonang.

Sementara soal Ramadhan tahun ini yang akan diwarnai huru-hara, jemaah diminta membeli pedang seharga Rp 1 juta. Kemudian tentang kemarau panjang selama 3 tahun mulai 2019-2021, jemaah diminta menyetor gabah 500 kg per orang karena kemarau mengakibatkan paceklik.

Yang tak kalah menggegerkan, sebelum pindah, 52 warga Watu Bonang itu menjual semua hartanya. Di antaranya, sejumlah tanah berikut rumahnya dijual murah meriah, cuma Rp 20 juta.

Begitu juga ternaknya, dijual Rp 8 juta. Di balik geger kiamat di Watu Bonang itu, ada sosok yang bertanggung jawab. Dia adalah Katimun, warga setempat yang akhir-akhir ini rumahnya menjadi tempat berkumpul para warga yang takut kiamat itu.

Identitas Katimun itu disampaikan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni kepada wartawan. "Yang membawa ajaran ini ke Ponorogo atau ke Desa Watu Bonang itu, warga kami, namanya Katimun.

Jadi intinya, dia mengatakan kiamat sudah dekat, jamaah diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal di akhirat, atau dibawa dan disetorkan ke pondok. Jamaah harus salat lima waktu di masjid," kata Ipong Muchlissoni saat, Rabu (13/3/2019).

Ipong menuturkan, sekitar dua bulan lalu, usai pulang menimba ilmu di Malang, Katimun mendatangi rumah ke rumah, mempengaruhi warga dan menyebarkan ajarannya.

Kepada warga, Katimun menyampaikan bahwa kiamat sudah dekat. Selain meminta menjual aset yang dimiliki untuk bekal di akhirat atau dibawa ke pondok, Katimun juga meminta agar warga menyiapkan senjata atau membeli pedang seharga Rp 1 juta.

"Mereka bilang Ramadhan besok ini akan ada huru-hara, perang. Jamaah diminta untuk membeli pedang ke pak kyai, harganya Rp 1juta, yang tidak beli pedang diminta menyiapkan senjata di rumah, dan seterusnya lah," kata Ipong.

Dalam ajaran tersebut, juga dikatakan bagi anggota pengajian yang ikut ke Malang akan selamat dan terhindar dari kiamat. "Ini nggak masuk akal. Mereka sampaikan kalau ikut grup ini, kalau dunia ini kiamat, mereka tidak ikut kiamat," kata Ipong.

Ipong mengatakan pengikut kiai asal Kasembon itu tidak hanya berasal dari Ponorogo saja.

Informasinya berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur. "Ini memang nggak bisa didekati level kapolsek, nggak bisa, harus dari Polda Jawa Timur, Pemprov Jatim," imbuhnya. 

sumber: detik.com

Editor: sella.