HETANEWS

TKN Arya Sinulingga Tertawa Terbahak-bahak saat Dahnil Anzar Sebut Prabowo Tentara yang Pro Reformasi

Jakarta, hetanews.com - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga berdebat dengan Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar. Perdebatan keduanya tampak dalam program 'Apa Kabar Indonesia Malam' tvOne, Selasa (12/3/2019).

Di acara tersebut, keduanya berdebat soal komitmen calon presiden (capres) Prabowo Subianto terhadap demokrasi. Awalnya, Dahnil menyinggung soal Prabowo yang ingin menciptakan demokrasi di perguruan tinggi.

"Kita butuh atmosfir demokrasi yang sehat, khususnya untuk perguruan tinggi. Kami ingin mendorong supaya perguruan tinggi itu bisa menjadi pusat oposisi, dalam tanda kutip mengkritik dengan bebas," papar Dahnil.

Dahnil menilai, saat ini ada pengekangan di perguruan tinggi. "Itu yang dirasakan. Saya mantan orang di perguruan tinggi. Saya katakan, Bang Sandi sedang mempertimbangkan supaya suara menteri untuk pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri yang 35 persen itu ingin kita pertimbangkan untuk ditarik supaya perguruan tinggi negeri maupun swasta itu bisa otonom," papar Dahnil.

Arya kemudian mendapat gilirannya untuk menyampaikan pendapat. "Saya punya jawaban sederhana. Mas Dahnil ini dulu waktu reformasi masih kecil. Kan dia manggil om ke saya kan. Masih kecil," ledek Arya.

Dahnil dan pembawa acara tertawa mendengarnya. Arya melanjutkan pemaparannya. Ia menilai, Dahnil tidak mengetahui bagaimana nama Pak Prabowo di dalam kampus.

"Bagaimana kami dulu, aktivis-aktivis itu mendengar nama pak Prabowo itu, semua juga tahu tahun 98. Jadi kalau dikatakan Pak Prabowo akan membawa demokrasi di kampus, akan jauh dari harapan," ujar Arya.

"Sandi itu cawapres, bukanlah dia presidennya. Kita tahu Pak Prabowo lah presidennya. Dan kita tahu bagaimana komitmen Pak Prabowo terhadap demokrasi."

Arya lantas memberikan contoh bentuk kepemimpinan Prabowo di partai Gerindra. "Apakah ada demokrasi untuk dapat pemilihan jadi ketuanya? Enggak ada. Semuanya satu tangan ke Pak Prabowo," ungkap Arya.

"Jadi Pak Prabowo itu belum ada sebuah mekanisme demokrasi yang dia bangun. Belum ada bukti sebuah demokrasi yang dia bangun. Karena di partai sendiri pun dia tidak seperti itu."

"Jadi kalau diharapkan beliau akan membawa demokrasi di perguruan tinggi, sangat diragukan. Kita tahu semua siapa beliau," jelasnya.

Dahnil pun kembali mendapatkan gilirannya untuk memberikan pemaparan. Dahnil menyinggung soal era reformasi.

"Banyak tokoh reformasi, termasuk pak Amien Rais dan segala macem yang terlibat dalam era reformasi menyebutkan, salah satu tentara yang pro reformasi bahkan banyak mendukung Amien Rais dan sebagainya itu adalah Pak Prabowo," kata Dahnil.

Mendengar itu, Arya tampak terbahak-bahak. Ia tak menyampaikan apapun, hanya terus terbahak sementara Dahnil masih terus melanjutkan pemaparannya.

"Termasuk reformasi TNI itu sosoknya adalah pak Prabowo," kata Dahnil.

"Waduh, di mana itu bos?," komentar Arya setelahnya.

Namun, Dahnil tak menghiraukannya. "Pak Prabowo menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Ketika beliau berhenti sebagai TNI, maka pilihan beliau adalah mendirikan partai politik. Karena beliau percaya bahwa partai politik adalah instrumen demokrasi," papar Dahnil.

"Pak Prabowo selalu menyampaikan di Gerindra, siapapun bisa menjadi ketua umum. Tapi kan beliau selalu dipilih sebagai ketua umum."

"Jadi kalau ada tuduhan mengatakan Pak Prabowo tidak mempraktikkan demokrasi, justru ketika beliau mendirikan partai politik, itu adalah simbolisasi pesan bahwa Beliau percaya dengan demokrasi adalah cara kita membangun bangsa," tandasnya. Wowtribun


Simak videonya:

Editor: sella.