HETANEWS

Andi Arief Dinilai Harusnya Masuk Bui, Bukan Direhabilitasi

Andi Arief (tengah) saat akan menjalani proses rehabilitasi di Kantor BNN, Cawang, Jakarta

Jakarta, hetanews.com - Andi Arief dinilai harusnya masuk bui bukan direhabilitasi terkait kasusnya bersentuhan dengan narkotika. Sebab, Andi dinilai bukan korban tapi penyalahguna narkotika.

Mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Sulistiandriatmoko menjelaskan, Andi bukan korban peredaran narkotika. Merujuk penjelasan pasal 54 Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, 'korban penyalahgunaan Narkotika' adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Sulis menilai Andi masuk dalam kategori penyalahguna narkotik sesuai pasal 1 ayat 15 UU Narkotika. Mereka adalah orang yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan narkotika.

Dalam kasus ini, Sulis melihat mens rea (sikap batin dan niat pelaku) jelas. "Mengeluarkan uang dan menyewa kamar hotel, apa kalau bukan mens rea. Dengan tujuan menikmati. Sikap batinnya jelas itu, untuk menikmati. Itu jelas sekali," kata Sulis dalam sebuah diskusi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Dengan kondisi itu, menurut Sulistiandriatmoko, Andi bukan korban peredaran narkotika sehingga harusnya bukan direhabilitasi, melainkan dipenjara.

Ketua Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) Henry Yosodiningrat mengaku kecewa dengan sikap polisi yang lebih memilih merehabilitasi Andi dibandingkan menjeratnya dengan pidana penjara.

Henry menilai, menurut hukum Andi sudah memiliki alat bukti yang kuat untuk dijerat hukum dan dipenjarakan.

"Menurut hukum, berdasarkan scientific evidence adalah alat bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana narkotika dengan ancaman pidana penjara 4 tahun," tuturnya..

Henry mengakui dalih kepolisian memulangkan Andi Arief tersebut merujuk Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika. Padahal di dalam aturan itu disebutkan bahwa orang yang direhabilitasi adalah pengguna yang mengalami ketergantungan dan tidak ditemukan narkoba pada dirinya, serta wajib lapor kepada instansi yang ditunjuk.

"Andi Arief ini kan mengalami ketergantungan, tetapi dia tidak melapor dan segera ditangkap. Hasilnya juga positif menggunakan sabu dan ditemukan juga bukti berupa bong alat untuk nyabu," katanya.

Maka menurut Henry, Andi seharusnya tidak berhak untuk direhabilitasi karena akan melanggar PP Nomor 25 Tahun 2011 serta jadi preseden buruk bagi negara dalam menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. "Karena generasi muda nanti akan menggunakan narkotika, karena toh nanti juga akan direhab bukan ditahan," ujarnya.

Sedangkan Sulis menilai, Andi bisa dijerat dengan pasal 127 untuk mempertanggungjawabkan tindak penyalahgunaan narkotika. Dalam pasal itu, disebut penyalahguna narkotika dari golongan I hingga III dapat dipidana penjara dalam rentang waktu satu hingga empat tahun.

"Secara hukum positif, sebagaimana UU yang berlaku, kepada Andi Arief bisa diterapkan dengan Pasal 127 (UU Narkotika). Artinya, dia harus mempertanggungjawabkan penyalahgunaannya terhadap narkotika itu di meja persidangan," kata dia.

Polisi menangkap Andi Arief dengan barang bukti alat hisap sabu-sabu di Hotel Menara Peninsula, Minggu (3/3/2019) malam. Polisi menyatakan hasil laboratorium dari Andi Arief positif mengandung zat metamfetamin alias sabu-sabu. Menurut UU Narkotika, metamfetamin, termasuk narkotika golongan I.

Sesuai pasal 127, harusnya Andi diajukan ke meja hijau dan diancam penjara paling lama empat tahun. Namun tiga hari kemudian, polisi membebaskannya dengan dalih, Andi hanyalah korban. Tapi dia harus menjalani rehabilitasi.

sumber: beritagar.id

Editor: sella.