Mon 18 Mar 2019
Menyambut HUT Hetanews.com ke 5, kami membuka peluang terhadap jurnalis-jurnalis muda (usia 21-31) untuk bergabung dengan kami di seluruh wilayah Sumatra Utara (Sumut).
Kirim lamaran dan CV ke alamat Redaksi di Jalan Narumonda Atas No 47, Pematangsiantar-21124, Tel (0622-5893825) HP: 082167489093 (Reni)/ 082274362246 (Tommy Simanjuntak) atau Email: redaksihetanews@gmail.com. Pengumuman ini berlaku dari 7 Maret sampai 7 April 2019. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Grace Natalie Ingatkan Kondisi Intoleran di SUMUT

Grace Natalie ditemui usai acara diskusi di Aula STT HKBP Pematangsiantar, Sabtu 9 Maret 2019. (foto: Hughes)

Siantar, hetanews.com - Dalam rangka safari solidaritas di Sumatera Utara, Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, berkunjung ke Kota Siantar, Sabtu (9/3/2019). 

Politisi PSI ini hadir sebagai narasumber dalam acara diskusi ilmiah bertema Membangun Masyarakat Toleran Indonesia di Aula STT HKBP Nomensen, Sabtu sore.

"Dalam rangka safari solidaritas di Sumatera utara, ketepatan ada undangan acara ini, topiknya sangat menarik, mengenai toleransi di Indonesia," kata Grace ditemui usai acara diskusi.

Politisi perempuan bernama lengkap Grace Natalie Louisa ini mengatakan, terkait persoalan toleransi di Provinsi Sumatera Utara, ada beberapa peristiwa besar yang telah terjadi.

Diantaranya peristiwa GBI Filadelfia dan kejadian yang menimpa Ibu Meliana, yang kondisinya masih mendekam di Lapas Tanjung Gusta. Menurut Grace, peristiwa tersebut adalah bagian kasus diskriminasi dan intoleransi.

"Jadi ini upaya kami, agar masyarakat itu sadar bahwa saat ini kita mengalami normalisasi intoleransi. Makin banyak dan berulang terus peristiwa peristiwa intoleransi seperti ini," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat agar tidak mentolerir tindakan intoleran dan mengajak untuk jangan toleran terhadap tindakan yang intoleran.

"Jika kita tidak bersikap, maka justru mentolerir yang intoleran," kata dia.

"Yang kita rasakan saat ini sebenarnya, apa yang disebut normalisasi toleransi, yang lama-lama kita menjadi biasa, dibiarkan, lama-lama kita tidak akan merasa lagi bahwa itu merupakan peristiwa intoleransi," ungkapnya.

Ketua PSI ini mengajak agar masyarakat tetap toleran, untuk menjaga keanekaragaman suku dan bahasa di Indonesia. 

"Jika tidak ada rasa toleransi, apalagi adanya prodak hukum maupun Perda (peraturan daerah) yang intoleran, yang tidak menghargai keanekaragaman, bagaimana nasib bangsa ini," tandasnya.

Sebelumnya, Grace Natalie memaparkan buah pikirnya terhadap kondisi toleransi di Indonesia dalam diskusi ilmiah bersama Mahasiswa STT HKBP Nomensen. 

Diskusi ini dimoderasi oleh salah seorang Mahasiswi STT bernama Victoria Lubis. Diskusi ini dihadiri oleh Mahasiswa dan Dosen STT HKBP.

Penulis: gee. Editor: edo.