HETANEWS

Penjual Mangga Musiman di Samosir Pertaruhkan Pinjaman dari Koperasi

Pinnaria Pandiangan (66) alias Op Benget Simanihuruk, pedagang mangga musiman modal pinjaman koperasi harian.(foto/stm)

Samosir, hetanews.com - Di era kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo dan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, berbagai program ditawarkan guna peningkatan pelayanan sosial.

Ada program Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan beras rastra, bedah rumah dan lainnya telah dilakukan.

Semuanya itu, merupakan upaya pemerintah dalam pengurangan kemiskinan dan permasalahan gizi buruk (stunting).

Sebagian besar dari program itu,  telah dirasakan banyak warga Indonesia, namun belum dengan Pinnaria Pandiangan (66), alias Op Benget Simanihuruk, warga Huta Binanga Borta, di Dusun I, Desa Lumban Suhi-suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

Op Benget yang sudah menjanda sejak tahun 1989 ini, memiliki 7 orang anak, 5 diantaranya laki-laki dan 2 perempuan. Kini dia hidup satu rumah dengan anak ketiganya yang mempersunting boru Pasaribu dan dikaruniai 3 anak, cucu Op Benget.

Mengisi kesehariannya yang harus membantu menghidupi rumah tangga anaknya (mengalami sedikit gangguan mental sepulang merantau dari Tangerang), menantu dan ketiga cucunya yang sudah 7 bulan bersamanya.

Op Benget kini menjadi pedagang mangga musiman dan jajanan ringan, seperti kerupuk dengan mengandalkan uang pinjaman dari koperasi harian di pinggir jalan nasional, di Binanga Borta, Desa Lumban Suhi-suhi Toruan.

Selain berjualan, Op Benget yang juga terampil dalam pembuatan ulos (bertenun) Karo sejak tahun 1970, tetapi karena faktor usia yang sudah masuk kategori lanjut usia (Lansia), kini hanya mampu menenun sebanyak 3 lembar dalam 1 bulan, dengan modal 1 lembarnya Rp 200.000, lalu dijual seharga Rp 300.000/lembar. Hasil itulah dipergunakannya untuk mencukupi kebutuhan dapur.

Ketka disambangi wartawan, Sabtu (9/3/2019), Op Benget yang kini tinggal di rumah berdinding papan berlantaikan tanah, berharap mendapat perhatian dari pemerintah.

Karena selama ini belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, selain raskin dan 1 unit tenda kerucut, 1 buah lemari yang diberikan Pemkab Samosir pada tahun 2017 lalu yang kini digunakannya untuk jualan mangga dan kerupuk.

Rumah tinggal Op Benget dengan anak ketiganya, menantu dan 3 cucu berdinding papan, dan berlataikan tanah. (foto/stm)

"Pernah dapat bantuan 1 unit tenda dan 1 buah lemari dari Pemerintah Kabupaten Samosir. Itu diberikan tahun 2017 lalu. Selain itu, belum pernah terima bantuan. Kalau dari desa paling raskin dan baju seragam lansia di 2018 kemarin," tutur Op Benget.

Diceritakan, berjuang menghidupi ketujuh anak-anaknya selama ini, dengan kondisi perekonomian yang hanya pas-pasan, hanya dapat pasrah dengan selalu mengandalkan doa, berharap anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang layak.

Berdagang mangga dengan modal pinjaman koperasi harian, Op Benget hanya bisa sedikit ada keuntungan ketika dimusim libur. Hari-hari biasa, penjualan hanya mencapai Rp 50.000, katanya.

"Untuk bisa berputar, saya pinjam koperasi harian. Mangga ini saya beli dari toke. Mau saya beli sampai 50 kg, tapi kadang dalam satu hari 1 kg pun tidak terjual. Kadang 50 kg baru habis dalam seminggu," kata Op Benget.

Paling sambung Op Benget, kalau musim libur, bisa menjual sampai 20 kg. "Hanya musim libur yang bisa habis hingga 20 kg. Kalau hari biasa, kadang hanya 1 kg, kadang tidak ada yang terjual," ucap Op Benget.

Selain berharap perhatian dari pemerintah, Op Benget juga meminta perhatian pihak PLN karena meteran PLN berdaya 450 watt di rumahnya yang kurang stabil.

"Kalau sudah memasak nasi menggunakan penanak nasi (rice cooker), semua lampu harus dimatikan. Kalau tidak meteran langsung balik. Tolonglah agar diperbaiki PLN," pinta Op Benget.

Lagi, sebagai pedagang di pinggir jalan, Op Benget juga mau memperhatikan kebersihan di sekitar tempatnya berjualan. Untuk itu Op Benget juga ingin difasilitasi tong sampah. "Saya mau bayar, asal lah dibuat tong sampah disini," ujar Op Benget.

Diakhir perbincangan, dia berharap besar adanya perhatian pemerintah, apalagi terhadap anak yang kini tinggal bersamanya dan sudah memiliki anak, kiranya layak sebagai penerima PKH. 

Penulis: stm. Editor: gun.