Sat 23 Mar 2019
Menyambut HUT Hetanews.com ke 5, kami membuka peluang terhadap jurnalis-jurnalis muda (usia 21-31) untuk bergabung dengan kami di seluruh wilayah Sumatra Utara (Sumut).
Kirim lamaran dan CV ke alamat Redaksi di Jalan Narumonda Atas No 47, Pematangsiantar-21124, Tel (0622-5893825) HP: 082167489093 (Reni)/ 082274362246 (Tommy Simanjuntak) atau Email: redaksihetanews@gmail.com. Pengumuman ini berlaku dari 7 Maret sampai 7 April 2019. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Lisnawati Sirait Prihatin dengan Maraknya Narkoba di Simalungun

Lisnawati Sirait. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Meski pihak Polres Simalungun, Kejaksaan  dan Pengadilan sudah sangat maksimal dalam pemberantasan  narkotika, namun tetap tak membuat jera para pelaku narkotika, khususnya di Simalungun.

Sesuai data dari Kejari Simalungun, dari sekitar 700 berkas pidana yang masuk tahun 2018, hampir setengahnya, didominasi  kasus narkotika.

Menanggapi hal ini, Lisnawati Sirait yang merupakan calon legislatif dapil Simalungun 6 dari Partai Perindo, mengungkapkan rasa prihatinnya.

Menurutnya, kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak. "Sebagai orangtua, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, mengajak semua pihak untuk saling mendukung dan berbuat dalam  memberantas narkotika dan obat terlarang dari Indonesia, khususnya Kabupaten Simalungun, “himbaunya.

Lebih lanjut, dikatakan Lisna, tampaknya hukuman yang berat tidak menjadikan efek jera atau rasa takut, bagi sebahagian orang. Dan malah cenderung ingin mencoba atau praktik hingga terjerumus dengan praktik-praktik narkotika, tambahnya.

Hal ini terlihat jelas dari penghuni Lapas Klas IIA Siantar-Simalungun, lebih dari setengahnya, merupakan narapidana kasus narkotika.

Juga persidangan pidana yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun yang setiap hari menyidangkan 30 hingga 60 tahanan. Sebahagian besar didominasi perkara narkotika, tegasnya. Tampaknya dari tahun ke tahun, kasus ini semakin meningkat saja, ujarnya. 

Pemberantasan sudah maksimal dilakukan pemerintah dengan hukuman yang tinggi. Tapi tidak membuat jera, bahkan semakin tinggi persentasenya. Oleh karena itu, kita perlu mengadopsi peraturan yang ada di luar negara kita, dalam hal penggunaan narkotika. Dimana,  pengguna tidak lagi dihukum, karena merupakan salah satu korban. Keberhasilan suatu hukum tidak melakukan pemidanaan terhadap pengguna, paparnya.

Dengan hukuman yang tinggi, tentu saja  merugikan negara dengan menanggung hidup, tempat tinggal dan memberi makan. Seharusnya denda yang dijatuhkan, dapat menjadi kas atau pendapatan negara. Dengan besaran yang terjangkau, bukan ratusan juta atau miliaran,  sehingga harus dijalani lagi dengan hukuman penjara, ungkapnya.

"Mari kita berantas narkotika dan zat terlarang lainnya yang dapat merusakkan generasi bangsa. Dimulai dengan diri kita sendiri dan keluarga. Jaga keluarga kita dengan memberi perhatian dan saling mengisi, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, katakan no drugs,"seru Lisnawati.

Penulis: ay. Editor: gun.