HETANEWS

Kisah Pilu Rasilu, Dipenjara 1,5 Tahun setelah Becaknya Terserempet Mobil

Rasilu (38) pengayuh becak yang divonis 1 tahun 6 bulan penjara hanya bisa menangis saat bercerita terkait musibah yang dialaminya di ruang kunjungan Rumah Tahanan Kelas II a Ambon di kawasan Waiheru, Kecamatan Baguala, Kamis (28/2/2019). (fotot/Rahmat Rahman Patty)

Ambon, hetanews.com - Butuh waktu lama untuk menemui Rasilu saat kami tiba di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Ambon di kawasan Waiheru, Kecamatan Baguala.

Negosiasi dengan sipir hingga Kepala Rutan harus dilakukan sebelum mewawancarai tukang becak yang divonis 1 tahun 6 bulan penjara itu. Setelah lebih dari 1 jam menunggu, pintu gerbang penjara akhirnya dibuka dan wartawan dipersilakan masuk oleh seorang sipir berbadan tegak. Sebelum menuju ruang kunjungan, harus menemui terlebih dahulu seorang pegawai lapas. Selanjutnya setelah berdiskusi singkat, kemudian diantar untuk menemui Rasilu.

Tak ada sedikit pun senyum dan tawa yang terpancar dari raut wajah Rasilu, tukang becak yang kini rela mendekam di Rutan Kelas II a Ambon karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa penumpangnya pada 23 September 2018 lalu.

Dengan wajah yang tampak murung, pria berusia 38 tahun ini berusaha bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan wartawan yang mulai memasuki ruang kunjungan di bagian sisi kiri rutan, Kamis (28/2/2019) siang.

Di ruangan berukuran 4x6 inilah, Rasilu kemudian menumpahkan segala keluh kesahnya, hingga harapan dan doa atas segala cobaan hidup yang amat berat dihadapinya saat ini. Rasilu menceritakan, sebelum musibah tersebut menimpanya, dia tidak pernah menyangka bahwa niatnya untuk merantau ke Kota Ambon akan berujung petaka hingga membawanya ke penjara. “Saya tidak menyangka nasib saya akan seperti ini. Saya datang ke Ambon demi keluarga saya, demi kehidupan anak dan istri saya di kampung,” kata Rasilu.

Rasilu memutuskan untuk mengadu nasib ke Kota Ambon sejak Juli 2018 lalu. Saat itu dengan berat hati dia menumpangi kapal menyebrangi lautan dan meninggalkan anak dan istrinya di Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, hanya karena ingin keluarganya tidak hidup susah di kampung halaman.

Namun takdir tak dapat ditolak. Baru dua bulan bekerja banting tulang mencari nafkah sebagai pengayuh becak di Kota Ambon, Rasilu tertimpa musibah. Peristiwa yang tidak pernah diharapkannya itu terjadi saat dia sedang mengantar seorang penumpang bernama Maryam menuju Rumah Sakit dr Latumeten Ambon.

Menurut Rasilu, Maryam yang saat itu dalam kondisi sakit diantarnya bersama seorang saudara Maryam dari Lorong Silale, Kecamatan Nusaniwe, menuju rumah sakit sambil menyusuri Jalan Sultan Babullah. Namun tanpa diduga, sebuah mobil melaju dari arah belakang dan langsung menyerempet becak yang ia bawa.

Alhasil kecelakaan tak dapat dihindari hingga menyebabkan Maryam meninggal dunia setelah beberapa saat dirawat di rumah sakit seusai kejadian itu. “Saya kaget saat itu dan langsung mencoba menghindar dari mobil hingga becak terbalik, apalagi saat itu hujan jadi jalan licin.

Tapi mobil itu langsung pergi begitu saja,” katanya. Atas kejadian itu, Rasilu lalu ditahan polisi dan selanjutnya menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Ambon hingga pada akhirnya hakim memvonisnya bersalah dan menghukumnya selama 1 tahun 6 bulan penjara pada sidang putusan yang digelar 20 Februari, dua pekan lalu.

Hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan yang dijatuhkan majelis hakim kepada Rasilu itu hanya turun 4 bulan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang sebelumnya menuntut Rasilu dihukum selama dua tahun penjara.

Meski hukuman yang diterima Rasilu di luar dugaan, namun dia tetap berusaha untuk selalu sabar dan ikhlas menjalani takdir kehidupan yang diterimanya. Menurut Rasilu, dia sama sekali tidak pernah menyangka hakim akan memvonisnya dengan penjara selama 1 tahun 6 bulan. “Saya pikirnya nanti hukumannya satu atau dua bulan, karena pihak keluarga korban juga sudah mencabut laporan dan membuat surat pernyataan, tapi ternyata tidak, ya ikhlas saja,” katanya.

Rasilu mengatakan, saat ini ia hanya bisa pasrah dan bersabar menerima kenyataan yang dihadapi sambil terus berdoa agar cobaan yang diterima saat ini cepat berlalu. Dia juga berharap agar keluarganya tetap mendoakannya sehingga kelak mereka bisa berkumpul lagi. “Prinsip saya sabar dan terus sabar, yang penting doa dari keluarga tidak pernah putus, dan itu yang saya harapkan,” katanya.

Rindu anak istri Sebagai kepala keluarga, Rasilu menyadari bahwa cobaan yang menimpanya sangatlah berpengaruh terhadap kondisi keluarganya di kampung halaman. Lebih-lebih bagi lima orang anaknya yang masih membutuhkan perhatian.

Rasilu bercerita saat musibah tersebut menimpanya, dia tak berhenti mengingat istri dan anak serta ibunya yang sudah tua di kampung halaman. Bahkan hingga saat ini, dia mengaku kerap tidak bisa tidur saat mengingat ornag-orang yang ia sayangi itu. “Saya rindu sekali anak dan istri saya di kampung, saya rindu sekali ibu saya, dia sudah tua sekali dan saya sangat rindu kepadanya,” ucap Rasilu sambil meneteskan air mata.

Suasana semakin sedih saat Rasilu mulai menceritakan kondisi ibunya yang mulai sakit-sakitan karena usianya yang semakin menua dan istrinya yang terus banting tulang untuk menafkahi kelima anaknya. Menurut Rasilu, sang istri berulang kali menghubunginya dan terus menceritakan kondisi keluarganya di kampung halaman yang semakin sulit setelah ia ditahan.

Saat itu,Rasilu kemudian meminta istrinya agar menemui kakak Rasilu. “Saya minta istri saya untuk meminjam uang untuk beli beras dari kakak saya. Tapi kasihan mereka juga sudah berkeluarga sampai berapa kali mereka harus membantu keluarga saya. Ibu saya juga sudah tua sudah 80 tahun dan dia terus sakit-sakitan,” katanya.

Kondisi yang menimpa Rasilu membuat dia jarang tidur di malam hari karena terus memikirkan keluarganya. Meski begitu, dia mengaku terus berdoa agar segala kesulitan yang menimpa keluarganya dapat dilalui dengan sabar. “Istri saya juga mengalami hal yang sama, dia sering terbangun di malam hari dan menangis saat melihat anak-anak,” katanya.

Rasilu mengatakan, saat ini dia hanya bisa pasrah dan terus berdoa agar keluarganya di kampung halaman tetap diberikan ketabahan dalam menjalani cobaan yang ada. Dia menyadari keluarganya sangatlah terbebani dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Meski begitu dia meminta agar mereka terus berdoa dan berdoa. “Saya di sini juga setiap hari selalu mendoakan mereka, saya berdoa agar mereka semua terus sehat dan diberikan kekuatan oleh Tuhan,” ujarnya.

Jangan putus sekolah

Rasilu menikahi istrinya, WO (35) pada tahun 2003 atau tepatnya 16 tahun silam. Dari hasil pernikahannya itu, Rasilu dan istrinya dikaruniai lima orang anak, yakni NA (14) , Ang (12), Al (9), LA (5) dan Ah yang baru berusia 1 tahun. Dari kelima anaknya itu, tiga orang di antaranya sedang bersekolah di kampung halaman, yakni NA yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP, Ang kelas 1 SMP dan Al kelas 3 SD.

Meski kini Rasilu tidak lagi dapat bekerja untuk memberikan biaya sekolah kepada ketiga anaknya, namun dia terus berharap agar anak-anaknya tidak sampai putus sekolah. “Saya ini orang tidak sekolah dan saya tidak ingin anak-anak saya putus sekolah sama dengan saya. Saya ingin mereka tetap bisa sekolah karena saya banting tulang selama ini hanya demi masa depan anak-anak saya,” kata Rasilu dengan berurai air mata.

Dia bercerita, putri pertamanya, NA sangat bercita-cita ingin menjadi dokter. Sedangkan putri keduanya, Ang ingin melanjutkan pendidikan ke pesantren sehabis menamatkan sekolah di kampung halamannya.

Sadar akan cita-cita kedua anaknya itu, Rasilu kemudian bertekad untuk pergi merantau mencari uang guna memenuhi keinginan dan cita-cita mereka. Sementara istrinya harus rela menjadi buruh paruh musim di perkebunan jambu dan berjualan es di sekolah anak-anaknya. “Saya sayang istri saya. Dia harus pergi mengambil jambu meter dari kebun orang, 1 kilo itu dia dapat Rp 2.000. Dia juga terus berjualan es untuk membantu biaya anak-anak saya,” ujarnya.

Menurut Rasilu, putri pertamanya pernah mengutarakan isi hati agar sebaiknya dia berhenti saja dari sekolah agar dapat membantu sang ibu. Saat itu Rasilu mengaku dia hanya bisa menangis karena putrinya tersebut telah ikut merasakan penderitaan sang ibu. “Ia (NA) bilang ke saya kalau dia mau berhenti dari sekolah saja, dia mau membantu ibunya untuk mencari biaya sekolah kepada adik-adiknya yang masih kecil.

Jujur saya langsung menangis, saya sedih,” ujarnya dengan nada suara bergetar. Dalam kondisi serba sulit, Rasilu masih tetap berharap kelak anak-anaknya dapat terus sekolah hingga menjadi orang yang berguna agar kelak dapat membahagiakan keluarga. "Harapan saya biar sudah seperti ini saya ingin mereka tetap sekolah, dan saya janji setelah keluar dari sini saya akan mewujudkan semua cita-cita anak saya,” katanya.

Rasilu di mata teman

Rasilu adalah sosok yang baik dan periang. Di mata teman-temannya sesama pengayuh becak, Rasilu dikenal sangat baik hati dan menjadi pekerja keras. Menurut Kasim (35), sebelum tertimpa musibah, Rasilu selama ini kerap bekerja tanpa mengenal waktu hingga larut malam.

Semua itu dilakukannya karena dia ingin agar keluarganya di kampung halaman dapat hidup lebih baik. “Dia itu orangnya baik, dan juga selalu tarik becak sampai larut malam. Dia selalu bercerita kepada saya kalau anak-anaknya butuh uang untuk biaya sekolah,” kata Kasim saat ditemui di pangkalan becak Lorong Silale.

Menurut Kasim, becak yang dipakai untuk mencari nafkah dipinjam Rasilu dari seorang pengusaha becak di Ambon. Perjanjiannya, setiap pekan Rasilu harus menyetor Rp 100,000 kepada pemilik becak.

Kasim mengatakan saat rekannya itu tertimpa musibah, dia dan teman-temannya yang lain sangat merasa terpukul, karena sosok Rasilu selama ini dikenal sangat baik terhadap sesama dan tidak pernah membuat masalah di antara mereka. “Kita merasa sedih karena dia orangnya sangat baik. Saat kejadian itu kami juga ke kantor polisi untuk menjenguknya, membawa makanan dan rokok kepadanya,” kata Kasim.

Kasim sendiri tidak mengerti mengapa Rasilu yang dinilainya tidak bersalah harus menjalani hukuman hingga 1 tahun 6 bulan di penjara. Padahal keluarga korban telah menarik laporan dan membuat pernyataan kalau musibah yang terjadi tidak disengaja. “Kita heran saja, kan keluarga sudah cabut laporan, tapi begitu kita ini orang kecil tidak mengerti hukum,” katanya.

Pihak keluarga sendiri mengakui bahwa mereka ikhlas dan menerima kematian Maryam atas musibah yang terjadi pada 23 September 2018 lalu. Menurut Novi, kematian Maryam sama sekali tidak disengaja. Pihaknya langsung mencabut laporan polisi dengan harapan kasus tersebut dapat dihentikan. "Sebagai keluarga kami ikhlas, karena itu kami mencabut laporan polisi,” ujarnya.

Novi sendiri merupakan salah satu korban dalam insiden kecelakaan becak tersebut. Novi saat itu ikut mengantar Maryam menuju rumah sakit. Namun saat berada di depan Masjid Raya Al Fatah, musibah tersebut datang hingga Maryam meninggal dunia. “Saudara saya meninggal setelah dibawa ke rumah sakit dan menjalani perawatan kurang lebih 15 menit. Saya sendiri ikut menjadi korban dalam musibah itu, bahu saya sangat sakit saat itu,” katanya.


 

sumber: kompas.com

Editor: sella.