HETANEWS

Kisah Pemilih Bernama 'Tuhan' di Kabupaten Jember

Jember, hetanews.com - Hampir 1,5 jam untuk bertemu Tuhan (68). Ya, Tuhan yang satu ini adalah seorang laki-laki yang tinggal di Jl Manyar Lingkungan Krajan RT 01 RW 06 Kelurahan Slawu Kecamatan Patrang, Jember.

Surya bertandang ke rumah Tuhan. "Bapak baru datang dari sawah, sebentar kemudian berangkat lagi ngarit (mencari rumput)," ujar istri Tuhan, Misnati.

Memang begitulah rutinitas Tuhan sehari-hari. Berangkat ke sawah pukul 06.00 Wib, pulang ke rumah saat waktu Salat Dzuhur, kemudian berangkat lagi ke sawah, kemudian pulang sore hanya untuk Salat Ashar dan berangkat lagi mencari rumput. Menjelang waktu Maghrib, lelaki dua anak itu pulang dari mencari rumput.

"Kalau gak kerja ke sawah ya gimana bisa makan," tutur Misnati kepada Tribunjatim.com.

Suaminya bukanlah pemilik sawah, namun hanya menjadi buruh harian lepas. Dia kerja di sawah milik orang lain.

Tuhan memelihara dua ekor sapi. Itu pun bukan milik sendiri namun milik orang lain yang dipelihara Tuhan dengan sistem gaduh (kerjasama pengembangan ternak).

Beberapa hari terakhir rumah Tuhan didatangi wartawan. Kehadiran awak media ke rumah tersebut, sempat menimbulkan tanda tanya dari keluarga, termasuk dari Tuhan sendiri.

Dan untuk mencari rumah Tuhan terbilang sulit, jika bertanya kepada warga setempat di mana rumah orang bernama 'Tuhan' atau juga 'Tohan'. Bagi lidah warga etnis Madura, kata Tuhan terucap menjadi Tohan. Meskipun bertanya di mana rumah Tuhan ataupun Tohan, warga sekitar tidak mengetahuinya.

Hal ini juga dialami Surya ketika mencari rumah Tuhan. Padahal bertanya kepada warga yang tempat usahanya tidak jauh dari rumah Tuhan. Namun ketika Surya menyebut nama Pak Farid, orang tersebut langsung mengenali dan menunjukkan arah ke rumah Tuhan.

"Orang sini memang tidak tahu nama daging (asli) bapak. Tahunya Pak Farid, diambil dari Farida, anak sulung kami," lanjut Misnati.

Bagi kalangan orang Madura, orang tua kerap dipanggil dengan nama anak sulung mereka. Hal itu lumrah sebagai panggilan sehari-hari. Nama Tuhan akan terpampang jelas, saat melihat namanya di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Pukul 17.00 Wib lebih, Tuhan pulang dari mencari rumput. Lelaki berambut keriting itu, tertawa lebar saat mengetahui ada orang dari luar lingkungannya kembali mendatangi dirinya.

"Kenapa ya, tidak ada apa-apa kan. Kemarin saya kaget, karena sampai disusul ke sawah. Katanya ada Ita dan orang yang nyari saya," kata Tuhan.

Ita yang dia sebut adalah petugas KPPS di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 12 di lingkungan rumahnya. Tuhan tercatat sebagai pemilih di TPS 12 Kelurahan Slawu Kecamatan Patrang.

Tuhan menuturkan dirinya hanyalah orang kecil.

"Saya hanya orang kecil, tidak tahu apa-apa. Soal Pemilu ya pokoknya tiap ada coblosan saya ikut memilih, tidak pernah absen. Dari dulu begitu. Saya orang kecil, ikut yang punya kuasa saja," kata Tuhan kepada Tribunjatim.com.

Ketika ditanya apakah dia sudah punya pilihan, Tuhan menjawab diplomatis.

"Soal pilihan itu nanti, rahasia saya," ujarnya sambil terkekeh.

Tuhan yang memiliki gangguan pendengaran itu secara terbuka bercerita perihal namanya. Ia menegaskan, namanya memang Tuhan. Nama itu pemberian orang tuanya dan tidak akan diubah. Selama ini juga tidak ada masalah dengan nama tersebut. Apalagi, tidak banyak orang mengetahui nama aslinya.

"Kalau di tempat asal di Gebang Kedawung (Kelurahan Gebang) sana, itu rumah asli saya, nama panggilan saya Pocit. Kalau di sini, setelah menikah dan punya anak, saya dipanggil Pak Farid. Nama Tuhan itu asli pemberian orang tua," tutur Tuhan.

Menurutnya, saat kecil, dirinya bingung dengan namanya sendiri. Namun dia percaya kalau orang tuanya menyematkan nama Tuhan padanya setelah tertera di KTP.

Tuhan asal Kelurahan Slawu ini memiliki dua anak yang telah menikah semuanya. Tuhan bersama sang istri, dan adik iparnya tinggal di rumah tembok yang sederhana. Rumah tembok itu tanpa di plester dan lantai rumah itu tanah.

Tuhan asal Slawu ini termasuk dalam enam orang bernama Tuhan yang masuk di Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 di Kabupaten Jember.

Seperti diberitakan Surya sebelumnya, ada enam orang bernama Tuhan masuk di Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019 di Jember.

Menurut Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jember Ahmad Hanafi, bukan kali ini saja nama Tuhan ini masuk di DPT. Keenam orang bernama Tuhan itu sudah masuk sejak Pemilu 2014 lalu.

"Memang namanya Tuhan, dan di pemilihan sebelumnya sudah terdata. Rupanya sampai di Pemilu 2019 ini masih terdata sebagai pemilih dan nama mereka sudah masuk DPT," kata Hanafi kepada Surya, Kamis (21/2/2019).

Keenam orang itu berasal dari lima kecamatan yakni Arjasa, Balung, Kencong, Patrang, dan Sumberbaru. Ada dua orang bernama Tuhan yang berasal dari Kecamatan Sumberbaru.

Berdasarkan data dari KPU Jember, mereka sudah diketahui akan menyalurkan di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS). Warga bernama Tuhan asal Arjasa terdata bisa menyalurkan pilihannya di TPS 014 Desa Kemuninglor Arjasa. Kemudian Tuhan asal Kecamatan Balung tercatat sebagai pemilih di TPS 022 Desa Tutul.

Lalu Tuhan ketiga yang berasal dari Kecamatan Kencong tercatat bisa menyalurkan aspirasi di TPS 079 Desa Kencong. Lalu warga Patrang yang bernama Tuhan terdata di TPS 012 Kelurahan Slawu. Dan dua orang bernama Tuhan asal Kecamatan Sumberbaru tercatat sebagai pemilih di TPS 011 Desa Pringgowirawan, dan TPS 013 Desa Karangbayat.

sumber: tribunnewa.com

Editor: sella.