HETANEWS

Anak-Anak Muda Parapat Sajikan Kreatifitas pada Wisatawan Danau Toba

Sekumpulan anak muda melakukan kegiatan bermusik dengan menggunakan peralatan musik perkusi sederhana, Selasa (12/2/2019). (foto/david)

Simalungun, hetanews.com – Ada yang unik dan menarik di pemandangan pinggiran Danau Toba, tepatnya di  Pantai Bebas, Jalan Siantar - Parapat, Parapat, Kabupaten Simalungun yang menjadi ikon wisata, bertuliskan I Love Simalungun. Tampak sekumpulan anak muda melakukan kegiatan bermusik dengan menggunakan peralatan musik perkusi sederhana, pada Selasa (12/2/2019), lalu.

Hetanews.com mengkonfirmasi kegiatan kreatif anak - anak muda tersebut yang ternyata merupakan sekumpulan anak muda asli Parapat, di bawah naungan Sanggar Seni  Pondok Kreatif Parapat, yang merupakan sanggar independen yang dibentuk oleh Ando P. Sipayung, dengan seniman - seniman Parapat. Diantaranya, Niko Simangunsong, Prengki Sidabutar, Roy Sirait, Josli Sirait, Josua Sihombing, Heri Gultom, Power Sitorus, Hampego Silitonga, Jems Simarmata, Michael Sidabutar, Jona Sidabutar dan Amor Sidabutar.

Ando mengatakan, grup ini semuanya anak muda yang berdomisili di Parapat, Tigaraja dan Ajibata. Ada yang  masih bersekolah di  SD 50 Parapat, SMP N 1 Parapat, SMA N 1 Parapat, Mahasiswa USU dan Universitas HKBP  Nommensen juga alumni Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU).

"Kegiatan yang sudah berlangsung ini, merupakan pengabdian kepada masyarakat, khususnya anak-anak di Girsang 1, dengan pengenalan alat musik tradisi dan tehnik  permainannya. Membuat seni pertunjukan kepada tamu/para wisatawan yang berkunjung ke Parapat. Sanggar Seni Pondok Kreatif akan rutin menggelar kegiatan jamming ini setiap hari Minggu. Hari biasa kita membuat pelatihan anak–anak ke sekolah-sekolah dan ke desa-desa," paparnya kepada hetanews.com, Kamis (14/2/2019).

Dengan bersinergi, tutur Ando, anak-anak muda asli Parapat tersebut memiliki tujuan dan motivasi untuk mengembangkan kawasan Danau Toba, sebagai kawasan wisata yang menarik. Juga berusaha menginfluens kesadaran wisata kepada masyarakat sekitar danau, khususnya di Parapat.

Sekumpulan anak muda asli Parapat, di bawah naungan Sanggar Seni Pondok Kreatif Parapat, yang merupakan sanggar independen yang dibentuk oleh Ando P. Sipayung bersama seniman-seniman Parapat. (foto/david)

“Tujuan Sanggar Seni Pondok Kreatif ini, supaya ada wadah para generasi untuk melestarikan budaya, untuk menarik wisatawan berkunjung ke Danau Toba, khususnya ke Parapat dan sebagai bentuk ekonomi kreatif di kawasan wisata Danau Toba,” terang alumni Etnomusikologi USU tersebut.

Lanjutnya, grup ini akan membuat workshop/pelatihan ke desa-desa dan semua sekolah dasar (SD) yang ada di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Dalam  waktu dekat akan diberangkatkan ke Silaban, Kabupaten Humbahas, tepatnya di Sanggar 'Martahan Sitohang ' untuk pelatihan pembuatan musik tradisi. Seperti hasapi, sulim, tagading, dll. Yang merupakan bagian dari organologi alat musik tradisi Batak, serta pelatihan langsung bermain alat musik tradisi oleh ahlinya Martahan Sitohang.

Pertunjukan sederhana yang dilakukan Sanggar Seni Pondok Kreatif Parapat tersebut ternyata menarik animo wisatawan yang berkunjung. Respon tamu sangat positif, bahkan tak sedikit dari wisatawan yang mampir untuk berfoto dan mendokumentasikan pertunjukan anak-anak muda tersebut.

“Ini sih keren kali, Bang, senang melihat ada hiburan di Parapat. Bukan hanya foto yang bagus, tapi sangat memberikan kesan nantinya  setelah meninggalkan Parapat,” ucap Raisa Vanessa, salah seorang pengunjung Pantai  Bebas Parapat.

Namun sanggar Seni Pondok Kreatif yang saat ini bermarkas di MJ, Jalan Bukit Barisan, Tiga Raja, Parapat, tak hanya melakukan kegiatan bermusik. Setelah pertunjukan selesai, pemuda pemuda kreatif itu juga melakukan bersih-bersih di Kampung Kristen sekitaran sanggar.

“Selain bermusik, kami juga sering kebersihan lingkungan seperti membersikan sampah dan gotong royong. Dalam berseni juga  walau pun banyak kendala di grup ini, karena alat kita terbatas hanya sulim. Kita secara kolektifan meminjam alat musiknya, seperti Jull Coffee Shop dan Yayasan Pusuk Buhit Sakti. Tapi semangat kami untuk berkarya tidak pantang meyerah, dan kalau ada pemerintah dan masyarakat memberi wadah, kami terima dengan senang hati,” pungkas Ando.

Penulis: david. Editor: gun.

Ikuti kami di Twitter, Instagram, Youtube, dan Google News untuk selalu mendapatkan artikel berita terbaru dari Heta News.

Komentar 1