HETANEWS

Tiga Oknum Guru SMKN 3 Siantar Dilaporkan Dugaan Penganiayaan dan Cabul

Konsultan hukum Sumut Watch, Daulat Sihombing, SH.,MH. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Sumut Watch melalui surat nomor: 10/SW/I/2019, tanggal 16 Januari 2019, melaporkan tiga oknum guru SMKN 3 Pematangsiantar ke Kadis Pendidikan Sumut. 

"Ketiga guru tersebut berinisial DP, EBB dan RS, diduga melakukan perbuatan cabul terhadap seorang siswi berinisial RJS," ucap Daulat Sihombing, SH.,MH., selaku advokat dan konsultan hukum Sumut Watch yang bergerak di bidang pemantauan dan pengawasan terhadap kebijakan publik di Sumut, Rabu (13/2/2019).

Dijelaskan Daulat, peristiwa cabul dan penganiayaan terjadi saat RJS masih berstatus pelajar di sekolah itu sekitar tahun 2018. "Baru dikuasakan kepada saya tertanggal 25 Agustus 2018, setelah yang bersangkutan tamat dari kelas 3 karena takut diintimidasi," jelasnya.

Perbuatan itu diduga dilakukan pada Senin, 19 Februari 2018, sekitar pukul 11.00 WIB di Ruang Rumpun (Ruang Guru Tata Kecantikan) SMKN 3 Pematangsiantar, Jalan Raya Medan-Pematangsiantar KM 10,5 Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun. Awalnya RJS sedang duduk di bangku Ruang Tata Rias bersama dua teman sekolahnya masing–masing berinisial PS dan SS. 

Lalu RS datang dan menghardik RJS lalu mengusirnya dari ruangan. “Ngapain kalian di situ? Keluar, keluar,” ucap Daulat meniru RS sebagaimana dituturkan RJS.

Tak berapa lama, guru lainnya DFP memanggil RJS ke Ruang Rumpun dan di situ sudah ada guru RS dan EBB yang langsung menginterogasi korban. EBB memerintahkan korban membuka bajunya dan pakaian dalam bagian atas.

Karena ketakutan, RJS melaksanakan perintah ketiga guru. Korban lalu disuruh berputar. Tak puas, keesokan harinya korban dipanggil lagi dengan interogasi lainnya.

"Bohong kau, kutenggoknya kau pergi sama Tanti dan Juni,“ kata DFP sambil mencengkeramkan kedua tangan dan kuku jarinya dengan sangat kuat ke kepala RJS. Bahkan kuku ibu jarinya melukai pelipis mata RJS hingga mengeluarkan darah.

Meski korban dalam kondisi berdarah-darah, DFP tidak perduli malah terus marah dan mengomel. Akhirnya oleh salah seorang guru memberikan pertolongan pertama kepada RJS. Akibat luka tersebut, RJS menderita sakit dan trauma setiap melihat ketiga oknum guru DFP, EBB dan RS. 

Menurut Daulat, perlakuan guru terhadap muridnya sungguh tidak pantas. Perbuatan itu merupakan bentuk tindak pidana yang terindikasi sebagai perbuatan cabul dan penganiayaan terhadap anak, sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 289 sampai Pasal 296 KHUP, Pasal 170 KUHP, jo Pasal 351 KUHP jo Pasal 82 UU No. 35 Tahun 2014 perubahan UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya.

Atas dasar itu, Sumut Watch menuntut kepada Kepala Dinas Pendidikan Sumut, agar memecat ketiga oknum guru berinisial DFP, EBB dan RS dari profesinya sebagai guru atau PNS, seraya memerintahkan Plt. Kepala Sekolah segera mencopot jabatan struktural atau fungsional oknum yang bersangkutan karena dinilai tidak pantas sebagai guru yang seharusnya mendidik, membina dan mengayomi.

Apalagi tindakan ketiga oknum guru ini, sebut Daulat Sihombing, tidak hanya terlibat dalam satu kejadian perkara, tetapi berulang dalam perkara lain yang menyusul akan segera dilaporkan ke aparat hukum.

Penulis: ay. Editor: bt.