Thu 21 Feb 2019

Poldasu Bantah Ketua KAUMI Diperiksa Sedang Sakit

Kombes Pol. Tatan Dirsan Atmaja. (Int)

Medan, hetanews.com - Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol. Tatan Dirsan Atmaja, bantah isu yang beredar, Ketua Kesatuan Aksi Umat Islam (KAUMI) Sumatera Utara (Sumut), Ustadz H Irfan Hamidi, dikabarkan koma usai menjalani pemeriksaan di Polda Sumut.

"Penyidik Poldasu tidak mungkin melakukan pemeriksaan jika keadaan Ustadz Irfan sedang sakit, apalagi dia saat datang ke Poldasu didampingi kuasa hukumnya. Lagi pula, diawal pemeriksaan, selalu ada pertanyaan, apakah yang bersangkutan saat ini dalam keadaan sehat. Yang bersangkutan mengatakan sehat," jelas Tatan kepada wartawan, Selasa (12/2/2019) malam.

Juru bicara Poldasu itu, menjelaskan kronologis dan alasan Ustadz Irfan dimintai keterangan oleh penyidik Polda Sumut.

Yaitu berawal pada  7 Januari 2019, Subdit Cyber Ditreskrimsus Poldasu telah menerima pelimpahan berkas laporan polisi LP /385/XII/2018/SU/SPKT PEL BLWN tanggal 03 Desember 2018 tentang perkara penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap anggota Babinkamtibmas Polsek Belawan, bernama Aiptu Budi yang dituding ikut sebagai pengedar narkoba.

Kemudian, menuding anggota Bhabinkamtibmas tersebut sebagai perusak dan tidak ada gunanya dimasyarakat, yang diduga dilakukan oleh H. Irfan Hamidi.

Bahkan, kata Kabid Humas, pesan tersebut dikirimkan atau diteruskan kepada Kapolsek Belawan, Kasat Narkoba, Kasat Binmas, serta Camat Belawan.

Dan berdasarkan keterangan saksi, kalimat tersebut juga dikirim atau diteruskan oleh Irfan ke group WhatsApp DPP KAUMI, beber Kabid Humas.

Berdasarkan laporan itu, sambung Tatan,  pada 11 Januari 2019 dilakukan penyelidikan, serta mengumpulkan keterangan dari saksi saksi dan terlapor, serta mengamankan barang bukti. Lalu, melakukan gelar perkara pada 17 Januari 2019 dan kemudian status perkara dinaikkan ke tingkat penyidikan.

“Kemudian pada tanggal 21 Januari 2019, penyidik memanggil H.Irfan untuk datang memberikan keterangan, pada Kamis,  24 Januari 2019. Namun yang bersangkutan tidak hadir karena sakit dan mengirimkan surat sakit dari Rumah Sakit Colombia Asia Medan dengan keterangan dokter perlu istirahat selama 14 hari mulai dari 25 Januari 2019 hingga 08 Februari 2019," kata Kabid Humas.

Selanjutnya, jelas mantan Wakapolrestabes Medan itu, penyidik kembali melakukan surat panggilan kedua, pada 2 Feb 2019 untuk dilakukan pemeriksaan sebagai saksi dan diminta hadir pada tanggal 6 Februari 2019.

Namun lagi-lagi Irfan kembali tidak dapat memenuhi panggilan penyidik karena alasan sakit. "Tanggal 7 Feb 2019, pihak H. Irfan Hamidi, mengirimkan surat keterangan rawat dari RS Colombia, yang menyatakan, bahwa pada tanggal 6 Februari 2019, H. Irfan Hamidi masih dirawat di RS. Colombia,"jelas Kabid Humas.

Untuk memastikan alasan tersebut, pada  8 Feb 2019 pagi, penyidik kemudian mengecek dan mendatangi RS. Colombia untuk menanyakan kondisi kesehatan H. Irfan Hamidi, tapi pihak RS. Colombia Asia menyampaikan bahwa H. Irfan Hamidi, sudah keluar dari Rumah Sakit.

Kemudian,  8 Feb 2019, sekira pukul 15.30 WIB, H. Irfan Hamidi, beserta keluarga dan pihak Lawyer datang ke Subdit Cyber Ditkrimsus untuk memberikan keterangan sebagi saksi.

 “Selanjutnya penyidik memeriksa H. Irfan Hamidi sebagai saksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan atau BAP saksi. Pemeriksaan dilakukan secara profesional dan tanpa adanya paksaan,” ujar Kabid.

Namun, setelah selesai dilaksanakan pemeriksaan saksi, secara mendadak kondisi kesehatan H. Irfan Hamidi turun, selanjutnya penyidik memanggil Dokter dari Biddokes Poldasu untuk memeriksa kondisi kesehatan H. Irfan Hamidi. “Atas rekomendasi Dokter Biddokes,  H. Irfan Hamidi harus di rujuk ke Rumah Sakit,” ujar Kabid.

Selanjutnya Biddokes menyiapkan ambulance Biddokes dengan rencana untuk segera membawa H. Irfan Hamidi ke RS Bhayangkara. “Tetapi dari pihak keluarga H. Irfan Hamidi menolak menggunakan Ambulance Biddokes dan memilih menggunakan mobil pribadi utk membawa ke RS. Colombia Asia Medan,” jelas Kabid Humas.

Sampai kemudian muncul isu yang mencoreng, bahwa telah terjadi pemaksaan pemeriksaan kepada seorang Ustadz, walau kondisinya sedang sakit saat diperiksa.

“Padahal Saudara Irfan bersama koleganya dan kuasa hukum datang dengan niat dan kesadaran sendiri setelah merasa diri cukup sehat untuk menghormati dan memenuhi panggilan dari penyidik. Kita juga pasti akan maklum apabila pihak yang dikirimi surat panggilan sedang sakit dan tidak mungkin melakukan pemaksaan untuk diperiksa,” jelas Kabid Humas.

Kabid Humas juga menyampaikan salah satu poin utama dan pertama dari BAP yang ditanyakan adalah apakah yang diperiksa sehat jasmani dan rohani. “Dan itu dibuktikan dengan adanya BAP saksi yang didampingi kuasa hukum dan menerangkan bahwa dirinya sehat saat diperiksa,” tutup Kabid.

Sebelumnya, beredar video dan foto Ustaz Irfan  di media sosial dan grup WhatsApp sedang sakit diperiksa. Video dan foto itu disertai keterangan bahwa Ustadz Irfan sakit usai diperiksa polisi. “Haji Irvan,  tokoh melayu Belawan dipaksa bawa ke Ditreskrimsus Poldasu dalam keadaan sakit dan dalam rekomendasi istirahat total oleh dokter akhirnya koma di ruang pemeriksaan Ditreskrimsus Poldasu. Saat ini di larikan ke RS Columbia dalam keadaan kritis dan koma,” demikian isi pesan berantai tersebut.

Penulis: adr. Editor: gun.