Wed 24 Apr 2019

Kadisdik Gresik Sebut Guru SMP PGRI Tidak Berwibawa Dipersekusi Murid

Siswa SMP PGRI Pelaku Persekusi Guru di Gresik Minta Maaf.

Gresik, hetanews.com - AA, siswa SMP PGRI Wringinanom, Kabupaten Gresik akhirnya meminta maaf kepada Nur Khalim, guru honorer yang dicengkram lehernya karena tak terima diminta masuk kelas saat masih nongkrong di warung kopi ketika jam masuk sudah dimulai. Bahkan, berani merokok di dalam kelas saat pelajaran hendak dimulai.

Dan Senin (11/2) hari ini, Kapolres Gresik, AKBP Wahyu S Bintoro bersama Dinas Pendidikan memberikan edukasi hukum ke sekolah dengan harapan, kejadian serupa tidak akan terulang kembali.

"Yang saya sayangkan dan sesalkan, yang pertama, kenapa murid itu merokok di dalam kelas? Dan yang kedua, kenapa juga Pak Gurunya kok terlihat kurang tegas dan tidak berwibawa di depan murid seperti itu," sesal Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Mahin.

Sementara Kapolres Gresik berharap, peristiwa di SMP PGRI Wringinanom ini bisa menjadi pelajaran berharga, "Jangan sampai perilaku dan sikap tidak tepat berujung pada pelanggaran pidana," harap Wahyu.

"Dan dengan kejadian ini, agar bisa menjadi pelajaran berharga, bahwa perilaku dan sikap harus dijaga. Lebih-lebih sikap dan perilaku kepada orang yang lebih tua," sambungnya.

Peristiwa ini sendiri terungkap, saat video seorang siswa mencengkram leher gurunya karena tak terima ditegur merukok di dalam kelas, beredar di media sosial, salah satunya di akun Facebook (FB) Wringinanom pada Sabtu (9/2).

Menyikapi kejadian ini, polisi turun tangan untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, Minggu (10/2) pagi, Kapolres Gresik melakukan mediasi di Aula Polsek Wringinanom, sebagai bentuk upaya diversi sesuai Pasal 6 Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Dikatakan Wahyu, proses mediasi yang dilakukan pihaknya kemarin, dihadiri Kepala Dinsa Pendidikan Kabupaten Gresik, Mahin, bersama Kepala Cabang Dinas PGRI Kecamatan Wringinanom, Soeroso, dan Kapolsek Wringinanom AKP Supiyan serta Babinsa.

Beberapa pejabat, seperti Dadang Setiawan dari Kementerian Sosial, Reza Wahyuni (Satgas PPA Jatim), Rusdi (Kepala SMP PGRI Wringinanom), Nurul (wali kelas), Sugiyo (anggota DPRD Gresik), Rahayu (Kemendikbud perwakilan Jatim) dan Nur Khalim sendiri selaku guru yang menjadi korban persekusi sang mudrid.

Wahyu menceritakan, awalnya kejadian, Sabtu (2/2) pekan lalu, AA dan rekan-rekannya diketahui masih nongkrong di warung kopi di sekitar sekolah. Padahal sudah sudah waktunya jam masuk kelas.

Sementara Nur Khalim yang kebetulan mengisi pelajaran IPS waktu itu, atas seizin kepala sekolah meminta AA dan rekan-rekannya masuk.

Namun, setelah AA dan rekan-rekannya masuk kelas, langsung melakukan perbuatan tak menyenangkan kepada gurunya dengan mencengkram leher sang guru. Bahkan merokok di dalam kelas. "Pak Khalim sudah memberikan teguran, tapi malah diperlakukan tidak baik," ungkap Wahyu.

Selanjutnya, Kamis, tanggal 7 Febuari, pihak sekolah memanggil wali murid karena adanya laporan kejadian tersebut, dan hari Jumat (8/2) keesokan harinya, wali murid datang ke sekolah. "Tapi belum ada perjanjian, guru yang bersangkutan juga tidak ingin memperkarakannya karena pada hari Senin, tanggal 4 Februari, AA sudah menghadap dan meminta maaf. Selain itu, juga karena AA akan menghadapi ujian nasional," terang Wahyu lagi.

Tak hanya itu, masih kata Wahyu, "Pak guru selaku korban dan AA sepakat untuk melakukan perdamaian. AA sendiri juga sudah membuat surat pernyataan menyesal, meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya," tandas alumnus Akpol 1998 tersebut.

sumber: merdeka.com

Editor: sella.