Mon 18 Feb 2019

KPU Asahan: Hoax dan Politisasi SARA Bahaya Laten Setelah Narkotika dan Korupsi

Ketua KPU Asahan, Hidayat SP (pegang mikropon) saat memberikan arahan kepada peserta diskusi publik di Kampus UNA, Kisaran (foto/Istimewa)

Asahan, hetanews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Asahan bersama Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sumatera Utara, bekerjasama dengan Universitas Asahan (UNA) menggelar diskusi publik menjelang pemilu 2019 dengan tema “Lawan Hoax dan Tolak Politisasi Sara”. Acara tersebut berlangsung di Komplek UNA, Jalan Latsitarda Nusantara Kisaran, Kamis (7/2/2019) kemarin.

Dalam diskusi tersebut, Ketua KPU Kabupaten Asahan, Hidayat S.P. dalam arahannya mengatakan paling tidak ada empat hoax yang sudah dihembuskan untuk menyerang penyelenggara pemilu khususnya KPU.

“Jadi Hoax ini memang sudah menyerang penyelenggara pemilu, termasuk KPU dan pengawasnya yakni Bawaslu," jelas Hidayat dihadapan sekitar 250 mahasiswa/i dan aktifis serta ormas se-Kabupaten Asahan.

Menurut Hidayat, ada empat hoax yang sudah diarahkan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan untuk menyerang KPU dan jajarannya. Pertama, terkait kotak suara yang diisukan terbuat dari kardus. Kedua, terkait surat suara tercoblos 7 kontainer. Ketiga, adanya informasi 14 juta orang gila yang masuk kedalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan yang keempat adanya sekitar 31 juta pemilih siluman.

Semua informasi hoax itu, dikatakan Hidayat sangat jauh dari fakta-fakta kepemiluan yang ada. Maka dari itu, Hidayat mengajak peserta diskusi publik bisa cerdas untuk melihat keadaan saat ini. Dikatakannya, KPU dan jajarannya sudah bekerja secara maksimal dalam mempersiapkan pemilu.

“KPU Kabupaten/Kota merupakan perpanjangan tangan dari KPU RI. Maka ada upaya untuk menangkal hoax terkait fakta-fakta kepemiluan yang benar, jadi ini yang akan kami lakukan sampai ke jajaran paling bawah,” tegas Hidayat.

Sementara itu, Wakil Rektor II Universitas Asahan (UNA), Drs Zulkifli Simatupang, M.Pd, mengatakan bahwa hoax itu memang sengaja diciptakan untuk menyerang pribadi atau kelompok tertentu, ia juga menegaskan bahwa sangat perlu dilakukan inisiatif melawan hoax, karena informasi menyesatkan seperti hoax melupakan subtansi bernegara.

“Kondisi saat ini membuat kita lupa pada substansi bernegara. Bahwa substansi bernegara ini untuk mensejahterakan rakyat, memberikan kemudahan bagi rakyat, itu substansi bernegara,” ujar Zulkifli Simatupang.

Lebih lanjut Zulkifli juga mengatakan, bahwa tindakan melawan hoax bisa dimulai dari diri sendiri dengan banyak membaca dan memverifikasi informasi yang diterima.

 “Karena kelompok masyarakat yang rentan hoax adalah kelompok yang jarang mendapatkan informasi yang benar, itu sebuah hal yang pasti,” tambahnya.

Masih menurut Zulkifli kondisi saat ini sudah sangat kritis karena virus hoax sangat mengganggu kerukunan di masyarakat, berangkat dari hal tersebut ia mengajak semua pihak tanpa terkecuali pada pemilu April 2019 mendatang untuk berpolitik secara santun dan beretika.

“saat ini kita lambat laun telah kehilangan subtansi berpolitik, hal - hal yang bersifat urgen sudah tak lagi dinaggap sebagai masukan, kita sebagai dituntut untuk kritis khususnya para Mahasiswa/i,” tandasnya

Sedangkan Presidium JaDI Sumut, Benyamin Pinem, mengamini apa yang dikatakan Zulkifli. Menurutnya perlu upaya yang lebih keras untuk melawan hoax dan menolak politisasi SARA. JaDI Sumut dikatakan Benyamin mempunyai komitmen untuk ikut menciptakan iklim demokrasi yang damai. Sebagai komunitas mantan penyelenggara pemilu, JaDI Sumut dikatakan Benyamin menginginkan Pemilu 2019 berjalan lancar.

Dikatakanya, diskusi publik jelang pemilu 2019 yang dilaksanakan JaDI Sumut sudah dilakukan di tiga titik, yakni di Universitas Medan Area (UMA), Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut dan Universitas Asahan (UNA).

Selanjutnya JaDI Sumut juga akan menggelar diskusi serupa pada Jumat (8/2) besok, di Universitas Al Washliyah Labuhan Batu. Dalam kegiatan diskusi publik ini, JaDI Sumut selalu melibatkan jajaran KPU dan Bawaslu sebagai narasumber. Selain itu, pelibatan akademisi juga menjadi point penting JaDI Sumut dalam melaksanakan diskusi yang bertujuan melawan hoax dan politisasi SARA.

Penulis: ren. Editor: gun.