HETANEWS

Warga Mengaku Tahu Ada Penebangan Kayu di Kawasan Perladangan Mariah Gunung

Akses jalan pertanian yang dibuka oleh UD Makmur di Nagori Jorlang Huluan, Kecamatan Pamatang Sidamanik. Pemerintah setempat berinisiatif melakukan kerjasama dengan UD Makmur untuk pekerjaan ini dengan sejumlah ketentuan. Salah satunya ialah UD Makmur diperbolehkan mengambil hasil bumi (kayu alam) dari lokasi perladangan tersebut dengan ganti rugi yang telah disepakati. (foto/pranoto)

Simalungun, hetanews.com- Sejumlah masyarakat yang bermukim, di Nagori Jorlang Huluan, Kecamatan Pamatang Sidamanik, mengaku mengetahui adanya aktifitas penebangan kayu, di atas lahan perladangan yang kini dikelola pihak UD Makmur.

Beberapa diantaranya, bahkan ikut menandatangani surat perjanjian pernyataan kerjasama dengan pihak UD Makmur, terkait pembukaan akses pembukaan jalan pertanian di wilayah itu.

"Iya benar saya tahu ada pembukaan perladangan di sana, setahu saya tanah itu dahulu milik 9 orang warga pertama yang menduduki tempat ini (Mariah Gunung)," kata salah seorang warga, bermarga Sigiro yang ditemui hetanews.com, Rabu (6/2/2018).

Begitupun dengan apa yang disampaikan R. Samosir, selaku orang yang mewakili masyarakat sebagai pihak kedua dalam kontrak perjanjian kerjasama.

Menurutnya, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kerjasama antara masyarakat dengan UD Makmur, terkait penebangan kayu di wilayah itu.

"Pangulu sudah mengetahui dan ikut menandatangani kontrak perjanjian kerjasamanya. Jadi kami warga disini enggak ada yang keberatan. Malah kami senang ada pihak yang mau membantu membuka akses jalan pertanian," ungkapnya.

Baca juga: Soal Penebangan Kayu, UD Makmur Tepis Isu Keterlibatan Oknum Politisi PDI-P

Baca juga: Mangapul Purba: Saya Tidak Berbisnis Kayu Lagi

Terpisah, hetanews.com kembali meminta penjelasan dan konfirmasi kepada Pangulu Nagori Jorlang Huluan, Sumandi Damanik, terkait keterangan yang diberikan warga setempat.

Menurutnya, lokasi penebangan kayu, merupakan perladangan warga, namun telah lama tidak produktif disebabkan minimnya akses jalan pertanian menuju tempat itu.

"Sudah sempat masyarakat mengolah lahan itu, ditanami pohon jengkol dan komoditas kopi. Tapi yang menjadi kendala, tidak ada akses jalan pertanian untuk bisa dilintasi kendaraan. Maka kita ambil kebijakan, bekerja sama dengan pengusaha untuk membuka jalan. Dan pengerjaan ini sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) nagori," papar Sumandi.

Penulis: pranoto. Editor: gun.