Asahan,hetanews.com - Sekelompok Pemuda dan Mahasiswa yang mengatasnamakan 'Solidaritas Peduli Yusroh' yang terdiri beberapa lembaga aktivis penggiat hukum dan demokrasi, melakukan aksi, di depan Pengadilan Negeri (PN), Jalan Ahmad Yani Kisaran, Kamis (31/1/2019) siang.

Massa menilai, bahwa penangkapan, penahanan dan penersangkaan terhadap Muhammad Yusroh Hasibuan (28) oleh Reskrimsus Polda Sumut, terlalu dipaksakan dan dianggap sebagai bentuk kriminalisasi berkedok UU ITE.

Beberapa Pemuda dan Mahasiswa mengatasnamakan 'Solidaritas Peduli Yusroh' saat melakukan aksi di depan PN Kisaran. (Foto/Rendi)

Salah seorang peserta aksi, Zamal Setiawan (29), ketika dimintai komentarnya terkait tidak adanya petugas kepolisian yang mengawal jalannya aksi solidaritas yang berlangsung sekitar 1 jam-an ini, mengatakan, bahwa aksi tersebut merupakan aksi solidaritas dan bentuk dukungan moral terhadap Yusroh.

"Aksi ini hanya sebatas bentuk dukungan moral terhadap rekan juang kita (Yusroh, red) dan semacam 'campaign' menolak segala bentuk kriminalisasi yang dialamatkan kepada siapa saja yang merasa terbungkam di seluruh pelosok negeri. Saya rasa kita juga aksi solidaritas kita tidak perlulah mengajukan surat ke Polres setempat, karena kami tidak mengganggu pengguna jalan ataupun warga sekitar," ungkap Zamal yang juga Ketua LBH Cakrawala Nusantara Indonesia ini.

Muhammad Yusroh Hasibuan seusai sidang saat hendak menjabatkan tangan ke Majelis Hakim PN Kisaran. (Foto/Rendi).

Pantauan di ruang sidang Chandra, pembacaan dakwaan terhadap Yusroh berlangsung sekitar 30 menit  dan persidangan sendiri dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Ulina Marbun serta pembacaan dakwaan, dibacakan oleh Hadi Nur,  selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Batubara.

Untuk diketahui, kasus Yusroh, bermula pada September 2018 silam. Pada saat itu, Yusroh yang juga seorang jurnalis, di salah media online Batubara ini diduga sengaja mendistribusikan dan mentransmisikan pesan melalaui aplikasi jejaring What'sapp dengan menuliskan 'Siantar-Simalungun, GMNI, GMKI, HMI, HIMMAH dan BEM, mengutuk tindakan represif yang dilakukan oknum Polisi, Copot Kapolda Sumut' dan setelah itu menyebarkan pesan tersebut ke grup Berita Online Batubara.