Wed 24 Apr 2019

Fakta-fakta Hebohnya Kapten Leo, Mulai Sertijab Dandim Hingga Etika Prajurit

Kapten Inf Leo Sianturi (screenshot)

Siantar, hetanews.com – Kapten Inf Leo Sianturi sempat menghebohkan banyak kalangan setelah video kekecewaannya beredar luas di masyarakat. Leo kecewa dengan pelayanan RS Tentara, tempat ia dirawat semula sebelum pindah rawatan ke RS Vita Insani.

Danramil 10 Balimbingan Kodim 0207 Simalungun itu mengaku tersinggung dibuat perawat  Dewi yang berucap pasien yang tidak dijaga oleh keluarga tak akan mendapatkan perawatan. Namun hal ini tegas sudah dibantah oleh Dewi.

Sertijab Dandim 0207 Simalungun

Hebohnya kasus ini, Jumat (25/1) ternyata saat bersamaan tengah berlangsungnya serah terima jabatan (Sertijab) Komandan Kodim 0207 Simalungun dari Letkol Inf Robinson Tallupadang kepada Letkol Inf Frans Kishin Panjaitan di Korem 022 Pantai Timur, Jalan Asahan, Simalungun.

Komando Dsitrik Militer (Kodim) merupakan satuan setingkat diatas Komando Rayon Militer (Koramil). Artinya, Koramil berada di bawah kendali Komando Distrik Militer. Sedangkan satuan diatas keduanya adalah Komando Resort Mililter/Korem.

Minta Perhatian Presiden dan Panglima TNI

Video berisi kekecewaan Danramil Kapten Inf Leo Sianturi sendiri saat ia sudah tidak berada di RS Tentara. Video yang tersebar luas di masyarakat menunjukkan lokasi di depan Kantor BPJS Kesehatan Kota Siantar, Jalan Perintis Kemerdekaan.

Dalam video, Leo mengaku kecewa terhadap pelayanan RS Tentara dan menuding jika dirinya yang seorang Perwira TNI AD tidak dilayani. Tak hanya itu, Leo juga meminta Presiden Jokowi dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto agar memperhatikan nasibnya.

“Saya kecewa dengan RS Tentara, kecewa pelayanan tidak bisa. Saya seorang perwira, tidak berfungsi perwira, sakit, opname tidak bisa. Rtidak bisa di RS tentara tanpa dirawat, sakit saya seorang Perwira. Tidak berfungsi saya. Tidak ada artinya angkatan darat di rumah sakit. Ini lah nasib saya ini, mulai dari Prajurit sampai Perwira.Pelayanan rumah sakit tidak bagus, ini saksinya Kapten Inf Leo Sianturi,” katanya dalam video.

Pak Presiden tolong saya pak Presiden. Saya tentara akan kembali ke masyarakat, sakit hati saya, saya sakit. Tolong Panglima, tolong saya. Saya Prajurit tidak dihargai. Tolong saya Pak Panglima TNI, Panglima angkatan darat, Panglima Kodam I Bukit Barisan,” ujarnya dalam video yang lain.

Konferensi pers terkait hebohnya Kapten Inf Leo Sianturi. (foto/lazuardy fahmi)

Tersinggung dan Tak Ada Penelantaran

Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah (Dandenkesyah) Letkol CKM Suhartono yang membawahi RS Tentara menyebut peristiwa pengusiran maupun penelantaran Kapten Leo tak benar adanya. Suhartono menjelaskan Kapten Leo mengidap sakit Arthritis Gout atau asam surat masuk rumkit pada Kamis (24/1) sekira pukul 14.00 WIB. Esoknya, Jumat (25/1) Leo dihampiri oleh perawat Dewi yang baru saja aplausan/ganti shift.

“Pada saat itu perawat bertanya ke pasien apakah sudah makan, bagaimana kondisi. Kemudian ada ketersinggungan yang diucap perawat membuat pasien (merasa) tidak nyaman. Tapi sebenarnya itu (perawat bertanya) sudah suatu Protap. Jadi tidak ada kami terlantarkan, tapi karena ketersinggungan pasien marah-marah,” ujarnya.

Baca juga: Heboh Danramil ‘Diusir’ Rumah Sakit di Siantar, TNI: Itu Tidak Benar

Perawat Dewi dalam kesempatan itu membantah menyebut pasien yang tidak bersama keluarga tidak boleh dirawat.

“Memang benar saya tanya ibu kemana (istri Leo) dan bapak itu bilang ‘saya sudah cerai dengan istri saya’. Kemudian saya nanya anaknya dan nyarankan agar dijaga oleh anak. Bapak itu jawab anaknya ada di Bandung dan 1 lagi di pendidikan (Tentara),” ujarnya.

“Saya klarifikasi soal keterangan jika pasien tidak dijaga keluarga maka tidak boleh dirawat itu tidak benar adanya,” kata Dewi.

Etika Prajurit

Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 022 Pantai Timur, Mayor Inf Djarwadi dalam konferensi pers itu mengatakan tidak sepakat dengan tindakan yang dilakukan Leo. Sebagai seorang prajurit, Leo menurut Djarwadi harus menjunjung etika.

“Kalau saya apa yang disampaikan Sianturi ini salah, karena sepihak. Sepihak dia saja. Harusnya dia konfirmasi dulu, kalau dia kan prajurit. Prajurit kalau ada yang kurang pas dimana dia berobat harusnya dia lapor ke atasan, mungkin ke Dandim (Komandan Kodim) selaku atasannya. Dandim nanti akan menyampaikan ke Dandenkes, katanya ada anggotanya berobat tidak dilayani. Nanti seperti itu. Kalau dia melapor kemana-mana itu tidak punya etika seorang prajurit seperti itu,” ujarnya.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Kapten Leo, Seorang Prajurit Harusnya Bersikap Seperti ini

Penulis: bt. Editor: bt.