HETANEWS

Aksi Mandi Bondar, Ditengah Arus Deras Perubahan Sosial Anak

Sebuah atraksi lompat indah yang ditunjukkan salah seorang anak. Mereka masih melakukan aktivitas ini ditengah perubahan sosial seusia mereka ditempat yang berbeda. (foto/pranoto)

Simalungun,hetanews.com- Minggu pagi (13/1/2019), pandangan kru hetanews.com tiba-tiba terpanah dengan aktifitas sekelompok anak remaja dan anak-anak, di sebuah desa yang tidak jauh dari pusat Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Suasana siang itu, di sebuah Bondar (istilah lain dalam menyebut aliran irigasi pertanian oleh anak-anak) jauh dari hening, tidak seperti hari-hari biasanya, dimana mereka sibuk dengan rutinitas di sekolah.

Hari Minggu jadi begitu spesial buat mereka. Semuanya tertawa lepas dan interaksi sosial itu jelas memberikan fakta, bahwa tidak semua anak-anak di negeri ini telah terkontaminasi dampak kecanggihan teknologi secara negatif.

Mengingatkan apa yang dilantunkan grup musik Bob Nakal pada lagu berjudul Generasi Tunduk. Grup band asal Siantar ini divokali Hari Ramadhansyah Damanik, menceritakan tentang kondisi sosial masyarakat khususnya kaum pemuda, yang tidak lagi menikmati momen kebersamaan.

Hadirnya smartphone jelas membawa perubahan terhadap peradaban manusia. Perlahan, teknologi internet bahkan mulai mempengaruhi pembentukan kultur baru yang kemudian dikenal dengan istilah "generasi milenial".

Di era ini, jarak dan kecepatan komunikasi antara satu individu dengan individu atau kelompok lainnya, dapat berlangsung dalam hitungan detik dengan sebuah media dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik di udara.

Aksi menangkap ikan tradisional dengan jaring perangkap ala remaja Nagori Bah Butong 1, Kecamatan Sidamanik. Ini salah satu bentuk pengalaman survival yang biasa dilakukan remaja di kawasan pedesaan. (foto/pranoto)

Mungkin ada benarnya apa yang disampaikan Maharaja Jayabhaya, dalam Kitab Asrar karangan Sunan Giri Tahun Saka 1540=1028  "Bumi saya suwe saya mengkeret (Bumi semakin lama semakin mengerut).

Faktanya, dewasa ini internet telah menjadi barang konsumsi dan telah menyentuh golongan usia dini. Berbagai aplikasi game, hiburan, dan media pembelajaran telah dapat di akses melalui genggaman tangan. 

Hingga akhirnya kita semakin akrab dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Anak-anak tidak mengenal lagi permainan tradisionalnya, tidak lagi bermental survival di alam dengan berjibaku lumpur dan bercengkrama dengan teman seusianya.

Muliandika, salah seorang remaja diantara belasan remaja dan anak-anak lainnya di sebuah Bandar itu, terlihat riang menikmati suasana liburan sekolah dengan menceburkan diri di aliran air irigasi sambil memegangi jaring perangkap ikan.

"Kami belum dapat ikannya, tapi kami senang bisa ngumpul bareng kawan-kawan disini. Cuacanya juga lagi cerah, pas untuk mandi-mandi,"ujarnya sambil teriak.

Mereka ada disini, ada ditempat ini. Ditengah derasnya arus perubahan dengan sistem-sistem aturan yang semakin tidak dapat diterima akal, derai tawa mereka masih mampu menjadi pendingin teriknya persaingan antar individu di bumi ini.

Maha Besar Engkau Tuhan Yang Telah Menciptakan Bumi dan Isinya Dengan Seimbang.

Penulis: pranoto. Editor: gun.