HETANEWS

Mengenal Klobot, Rokok Kretek dari Kulit Jagung Warisan Nenek Moyang Indonesia

Rokok kretek Klobot di Malang.

Malang, hetanews.com - Tangan Mujiati (68) telaten menata batang-batang rokok kretek klobot di atas tampah bambu di hadapannya. Per 10 batang, rokok diikat dengan sebuah kertas warna cokelat agar tertata rapi dan memudahkan saat dibungkus.

Selembar kertas pembungkus diambil dari tumpukan, sebelum membentuk lipatan tertentu. Rokok yang sudah terikat sebelumnya diraih, dan kembali ditata di atas kertas dengan lipatan khsusus.

Sesaat dengan kecepatan tangannya, rokok tersebut sudah rapi terbungkus kertas. Bentuknya limas dan mengerucut di bagian ujung rokok, sementara membesar di bagian pangkalnya.

Tidak lupa Mujiati menempelkan label perusahaan berbentuk serupa ketupat pada pembungkus. Setiap 10 bungkus akan kembali dikemas dengan ukuran lebih besar menjadi satu pres, begitupun setiap 25 pres akan dibungkus menjadi satu bal.

"Sejak usia 18 tahun saya bekerja sebagai buruh linting rokok klobot, sampai sekarang," kata Mujiati di Kota Malang, Minggu (13/1).

Rokok klobot merupakan produk khas nusantara. Disebut rokok klobot, lantaran kertas pembungkusnya menggunakan kulit jagung dengan proses pengolahan tertentu.

Rokok klobot sudah menjadi warisan turun-temurun nenek moyang yang keseluruhan proses pembuatannya dilakukan secara manual, hingga bisa dinikmati masyarakat.

Sayang produksi rokok klobot terus menurun dari tahun ke tahun lantaran peminatnya semakin berkurang. Karyawannya pun otomatis berkurang, tidak seperti 10 atau 20 tahun lalu.

"(Sekarang) Ada 9 orang yang bekerja, ngepak 2 orang dan ngelinting 7 orang," kata Nasripah, teman Mujiati menambahkan.

Nasripah sendiri sehari-hari di bagian melinting. Karena kertas paper (pembungkus) yang berbeda dari rokok biasa dan prosesnya manual, sehingga perolehan tidak secepat menggunakan mesin atau sigaret kretek mesin (SKM).

Nasripah dan Mujiati sehari-hari bekerja dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB di pabriknya di kawasan Mergoso, Kota Malang. Bayaran yang diterimanya Rp 63.000 per 1.000 batang yang diselesaikan.

"Bedanya rokok klobot ini dari kulit jagung, pembuatannya dari tangan, tidak pakai gilingan. Jadi kan bersih, kotor sedikit dibersihkan," jelasnya.

Kalau takaran campuran tembakau, cengkeh, chaos dilakukan dengan ukuran tertentu oleh perusahaan agar mendapatkan rasa yang tetap. Begitupun dengan klobot yang didapatkan sudah melalui proses tertentu oleh perusahaan.

Rokok kretek yang diproduksi selanjutya dikirimkan ke sejumlah kota di antaranya ke Madura, Banyuwangi dan lain-lain. Mujiati berharap rokok-rokok produksinya itu terus dinikmati masyarakat, sehingga bisa menopang hidupnya dan karyawan-karyawan lain. "Semoga terus dinikmati, bisa dipertahankan," katanya.

sumebr: merdeka.com

Editor: sella.