HETANEWS

Putus dari Sang Kekasih, Pelajar Berusia 18 Tahun di Sintang, Kalimantan Barat Tewas Gantung Diri

Gantung Diri Pelajar SMA di Sintang

Kalimantan, hetanews.com - Peristiwa gantung diri akibat persoalan asmara kembali membuat geger. Seorang remaja MR nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

MR yang diketahui seorang pelajar SMA Negeri di satu sekolah di Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang.

Korban ditemukan di rumah yang rumah yang berada di Dusun Sepadung, Desa Senangan Kecil, Kecamatan Ketungau Tengah, Sabtu (12/1/2019) sekitar pukul 11.30 WIB.

Sontak kejadian ini  membuat heboh warga di Kecamatan Ketungau Tengah. MR sudah ditemukan dalam posisi tergantung tali.

Tampak terlihat ember dengan penutup tak jauh dari tubuh korban yang tergantung.  Kemungkinan ember tersebut digunakan korban untuk memasang tali kemudian mengakhiri hidupnya.

Kapolsek Ketungau Tengah, Ipda Eko Supriyatno menyebutkan korban berusia 18 tahun. Korban pertama kali ditemukan oleh temannya sendiri. Sebelumnya, teman korban mendapatkan informasi terkait rencana nekad MR.

MR mengancam bunuh diri.   

"Sekitar jam 11.30, teman korban yang bernama Gimin mengecek ke rumah korban," kata Eko kepada awak media, Minggu (13/1/2019).

"Gimin memeriksa korban karena mendapatkan informasi dari pacar korban bahwa korban mau bunuh diri," beber Kapolsek.

Sesampainya di rumah korban, Gimin mencoba memanggil korban berkali-kali dan mengegedor pintu, namun tidak ada disahut.

"Merasa panik dan penasaran, teman korban ini mengintip lewat ventilasi rumah," tuturnya.

"Saat dilihat lewat ventilasi, teman korban ini terkejut melihat korban sudah dalam keadaan tergantung," jelas Kapolsek.

Lanjut Kapolsek, bahwa saudara Gimin kemudian memanggil temannya yang lain. Gimin juga memanggil tetangga rumah korban untuk mendobrak pintu rumah yang terkunci rapat.

"Setelah berhasil didobrak pintu tersebut, teman-teman korban ini melihat korban sudah dalam keadaan meninggal gantung diri," terang Kapolsek.

Untuk motif utama korban meninggal dengan keadaan gantung diri, Kapolsek mengatakan bahwa dugaan sementara ialah masalah asmara.

"Kemungkinan besar karena putus dengan pacarnya," ungkap Kapolsek.

"Sebab terakhir berkomunikasi dengan pacarnya ini, korban sempat mengancam akan bunuh diri," pungkasnya.

Gantung Diri di Sintang Pelajar
Gantung Diri di Sintang Pelajar (Istimewa)
  • Pemicu Gantung Diri

Bunuh diri merupakan cara yang dilakukan seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Mereka yang memutuskan untuk bunuh diri, melakukannya dengan cara gantung diri, minum obat-obatan melebihi dosis, menenggak cairan beracun, atau menggunakan senjata.

Pria berusia 40-an hingga 50-an memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri. Biasanya, hal tersebut dilakukan secara diam-diam sehingga sulit untuk dicegah.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali pemicu dan tanda-tanda seseorang yang ingin bunuh diri. Siapa tahu, orang-orang terdekat Anda menyimpan keinginan tersebut.

Maka, sudah menjadi kewajiban Anda untuk mencegahnya melakukan perbuatan itu. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya bunuh diri, di antaranya:

  • Gangguan bipolar

Orang yang memiliki gangguan bipolar akan mengalami perubahan mood yang sangat drastis. Yang tadinya merasa sangat gembira dan bersemangat, mendadak bisa berubah menjadi sedih, tidak bersemangat, dan bahkan depresi.

Kalangan ini memiliki risiko 20 kali lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri, jika dibandingkan dengan orang normal. Diperkirakan, satu dari tiga orang dengan gangguan bipolar akan mencoba bunuh diri setidaknya satu kali selama hidupnya. Penderita gangguan bipolar yang juga memiliki masalah kecemasan memiliki risiko mencoba bunuh diri yang lebih tinggi.

Depresi berat

Ciri-ciri orang yang mengalami depresi berat adalah merasa putus asa, suasana hati yang buruk, merasa lelah, atau kehilangan minat dan motivasi dalam hidup.

Ciri-ciri semacam ini dapat memberi dampak buruk bagi kehidupan orang tersebut secara menyeluruh. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu mereka untuk lebih mungkin mencoba untuk bunuh diri.

  • Anoreksia nervosa

Menjauhi makanan sebisa mungkin dan selalu berbohong bahwa mereka tidak lapar atau sudah makan, itulah tanda-tanda pengidap anoreksia nervosa.

Penderita gangguan makan ini merasa dirinya gemuk, sehingga membuat mereka terus-menerus menurunkan berat badan. Angka kematian karena bunuh diri cukup tinggi pada pada penderita gangguan makan ini, terlebih pada remaja wanita.

  • Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan ini disebut juga borderline personality disorder (BPD). Tanda utama seseorang memiliki gangguan kepribadian ambang adalah sering menyakiti diri sendiri.

Tanda lainnya adalah emosi yang tidak stabil dan terkadang kesulitan dalam bersosialisasi. Kalangan ini cenderung memiliki riwayat pelecehan seksualpada masa kecilnya dan memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri.

Diperkirakan lebih dari setengah orang-orang dengan gangguan ini akan melakukan percobaan bunuh diri setidaknya sekali selama hidupnya.

  • Skizofrenia

Sering berhalusinasi, perubahan perilaku atau percaya kepada hal-hal yang tidak benar adalah tanda-tanda orang dengan skizofrenia. Diperkirakan, 1 dari 20 orang dengan skizofrenia akan mencoba untuk bunuh diri.

Beberapa tanda yang mungkin diperlihatkan atau ditunjukkan oleh seseorang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri, misalnya: Mengutarakan keputusasaannya dalam menjalani hidup seperti berkata, “Buat apa saya hidup di dunia?”

Sering marah secara tiba-tiba. Sembrono dan terlibat dalam aktivitas yang mempertaruhkan nyawa. Menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Sering terlihat merasa cemas. Mulai membuat surat wasiat.

  • Pencegahan

Ketika ada orang terdekat yang menampakkan tanda-tanda tersebut atau mengalami kondisi yang bisa memicu bunuh diri, Anda harus waspada. Sebisa mungkin berikan perhatian ekstra kepadanya, rangkul dia atau ajak dia berkonsultasi dengan dokter.

Amati pula gerak-geriknya jangan sampai dia berbuat hal-hal yang bisa membahayakan nyawanya, terutama ketika sedang sendiri. Sarankan padanya untuk menghindari alkohol dan obat-obatan yang bisa disalahgunakan untuk melakukan bunuh diri.

Selain itu, ajaklah ia untuk berolahraga secara teratur, setidaknya tiga kali per minggu. Aktivitas fisik dapat merangsang otak untuk memproduksi zat kimia yang dapat membuatnya merasa lebih rileks dan bahagia. (*)

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.