Mon 21 Jan 2019

Polisi Buat Larangan Parkir, Jukir Kesulitan Cari Setoran

Zona parkir yang dibubuhi plank dan rambu larangan parker, di kawasan Jalan Sutomo ujung. (foto/gee)

Siantar,hetanews.com- Juru parkir (jukir) yang bertugas di zona parkir, seperti jalan Sutomo mengeluh. Para jukir mengatakan, lahan parkir yang mereka kelola, diberlakukan larangan parkir oleh pihak Polres Siantar. 

Larangan parkir itu, dibubuhi plank, di bahu jalan Sutomo ujung, percis dari simpang Jalan Diponegoro, sampai ke depan gedung Bank Mestika. 

Bahu jalan Sutomo ujung, diketahui selama ini menjadi lahan parkir. Kini dibubuhi dengan plank, tanda dan tali untuk membatasi kendaaraan, agar tidak parkir di bahu jalan itu.

Salah seorang jukir, yang bertugas di lokasi, Ancon Sihombing (40), mengatakan, larangan parkir oleh polisi itu, sudah berlangsung sejak Senin kemarin.

Pria yang bekerja jadi jukir selama 13 tahun ini, juga tidak mengetahui alasan pihak kepolisian untuk membuat aturan larangan parkir itu.

"Baru semalam dibuat, kami gak tau alasannya. Pemberitahuan polisi pun enggak ada sama kami," kata Ancon, Selasa (8/1/2019).

Ancon menjelaskan, jalan Sutomo dari simpang Jalan Diponegoro, depan Apotik Simalungun, sampai Ke Bank Mestika, dibagi menjadi 3 zona parker, sesuai aturan Dinas Perhubungan Kota Siantar.

Di zona parkir itu, bertugas sebanyak 6 orang jukir setiap harinya. Mereka juga dilengkapi rompi dan topi. Kebanyakan dari mereka, telah bekerja selama belasan tahun sebagai jukir.

Dari tiga titik zona parkir itu, para jukir harus menyetor setiap hari ke Dinas Perhubungan. Setoran yang diberlakukam pun relatif, dari Rp.141 ribu sampai Rp.320 ribu per harinya.

Dengan adanya larangan parkir itu, hari ini, Ancon kesulitan menutupi setoran parkir ke Dinas Perhubungan. 

"Selama aku jaga parkir disini, baru kali ini lah ditutup, kek mana lagi mau ngasih setoran. Soalnya tiap hari aku nyetor Rp. 141 ribu," kata Ancon.

Senada disampaikan, Sahat Sianturi (58). Kakek yang sudah menjadi jukir selama 20 tahun itu, menguluhkan aturan larangan parkir tersebut. Apalagi, dia harus menyetor uang parkir sebanyak Rp. 170 ribu per harinya.

"Sudah dua puluh tahun aku jadi Jukir disini, baru kali ini lah dibuat larangan seperti ini. Aku heran, padahal ini zona parkir Dinas Perhubungan," kata Sahat.

Para Jukir berharap, agar kebijakan larangan parkir itu, ditinjau ulang. Pasalnya, setoran yang diberlakukan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang parkir dilokasi tersebut.

Amatan Hetanews.com, setelah adanya peralangan untuk parkir di kawasan itu, sejumlah kendaraan yang berkunjung ke lokasi itu, terpaksa kewalahan dan sebagian terpaksa parker, di sebelah kanan jalan Sutomo.

Penulis: gee. Editor: gun.
Komentar 1
  • Darwin Tune
    Aneh kalau larangan parkir di protes , padahal larangan parkir adalah untuk kepentingan orang banyak agar tidak macet . tepuk jidat deh .....