HETANEWS

Sempat Melarikan Diri, TKI Asal Siantar Ditangkap Polisi Malaysia

Rumah kediaman orang tua JS di Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar.

Siantar, hetanews.com -  Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kota Siantar nekad mengakhiri nyawa Bosnya di lokasi tempat kerjanya, Kampung Selamat, Lorong III, Tasek Gelugur, Penang, Malaysia, Rabu (19/12/2018) siang. 

Sang majikan tewas dan dua orang lainnya mengalami luka luka. Sementara, TKI berinisial JS (31) warga Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar itu telah diamankan oleh petugas polisi setempat, Jumat (21/12/2018) dini hari, dari lokasi berbeda.

JS terduga pelaku atas penghilangan nyawa seorang pengusaha wanita etnis tionghoa warga negara Malaysia, dan dua pria lainya yang mengalami luka luka akibat serangan benda tajam. 

Istri JS mengatakan, suaminya telah bekerja di gudang sejenis usaha pengawetan daging olahan itu, berkisar 5 tahun. JS selama ini tinggal dikompleks tempat dimana dia bekerja. 

Istri JS, A boru Sijabat (34) ditemui di rumah mertuanya beralamat di Kecamatan Siantar Utara, Senin (24/12/2018), siang masih menanti kabar dari pemerintah Indonesia di Malaysia terkait peristiwa yang menimpa suaminya itu.

Ibu dua orang anak ini, bersama kakak ipar dan mertuanya harap harap cemas memikirkan keadaan JS yang kini telah diamankan dalam kurungan polisi setempat. 

Mereka khawatir, peristiwa itu berdampak hilangnya perlindungan hukum bagi JS di negara yang dijuluki Negeri Jiran itu.

Apalagi hingga saat ini, pihak keluarga belum mendapat pemberitahuan resmi dari pemerintah Indonesia di Malaysia, terhadap status hukum TKI asal Kota Siantar tersebut.

"Sampai sekarang belum ada pemberitahuan resmi dari sana (Malaysia) kepada keluarga disini. Sejak kejadian itu sampai beberapa hari ini kami menunggu. Kami sangat khawatir sekali," ucap kakak kandung JS, dibenarkan adik iparnya A boru Sijabat.

DS (37) mendapat kabar pembunuhan yang melibatkan adiknya itu, dari Bos tempat dia bekerja di Malaysia. Saat itu dia sudah berada di Kota Siantar sejak 9 Desember 2018 lalu.

Ia mengatakan, Bosnya dan Bos tempat adiknya bekerja, saling mengenal satu sama lain. Tempat adiknya bekerja dan lokasi ia bekerja juga tergolong dekat, dapat ditempuh dengan jarak 10 menit.

Kata DS, beberapa jam setelah peristiwa tragis itu, dia dihubungi  oleh Bosnya untuk menyampaikan bahwa si wanita yang tak lain si Bos adiknya telah menghembuskan nafas terakhir.

Kaget mendengar peristiwa itu, ia bergegas mengontak adik iparnya melalui messengger. Ketika itu, istri JS sedang bekerja di sebuah perusahaan di Kuala Lumpur, Malaysia. 

"Kakak ipar saya telpon saya dari kampung, 'eda (Adik Ipar) jangan terkejut ya, Bapak Alex (bukan nama sebenarnya) sudah bunuh itu Bosnya'," kata Istri JS menirukan pembicaraan mereka saat itu.

Mendengar kabar tersebut, ia pun tersadar suaminya sedang dalam masalah besar. Namun sayangnya ia tidak dapat menghubungi suaminya, lantaran nomor telephone suaminya itu tidak aktif. 

Setelah kejadian itu, TKI asal Kota Siantar ini sama sekali tidak mengetahui dimana suaminya. "Dari siang itu sampai besoknya, Saya gak ada komunikasi sama suami, karena nomornya gak aktif," ujarnya. 

Padahal beberapa jam sebelum kejadian itu, ia sempat beberapa kali menghubungi suaminya. Namun panggilannya telephonenya tiba tiba diangkat kemudian diriject.

"Saya telpon gak dijawab jawab, saya telephone kemudian,  suami jawab, tapi jawabannya gak jelas dan singkat, gak seperti biasanya," kata istri JS menceritakan kejadian saat itu.

Penangkapan JS Oleh Polisi Negeri Jiran

JS dikatakan, sempat melarikan diri dengan mengendarai sepeda motor dari lokasi tempat kejadian perkara. Pelarian itu pun diintai oleh petugas polisi setempat. 

Istri JS mengatakan, sehari setelah kejadian itu tepatnya Kamis 20 Desember, sorenya dia dijemput oleh 3 orang Polisi usai keluar dari perusahaan tempat dia bekerja.

Ia kemudian dibawa oleh 3 orang polisi berpakaian sipil berkeliling dengan mengendarai mobil, seraya dicecari pertanyaan. Ia pun menjawab dengan jujur, bahwa dia tidak mengetahu keberadaan suaminya.

Bahkan polisi sempat melakukan pengecekan terhadap asrama putri milik perusahan, yang ditempati A boru Sijabat selama bekerja di Malaysia. Terakhir, dia pun dibawa ke kantor polisi.

"Ketiga polisi itu membawa saya ke kantor polisi dan memborgol tangan saya, dan mempertanyakan macam macam. Pada saat itu polisi buka hape saya, melihat semua via sosmed saya," ungkapnya.

Masih kata, istri JS, setelah telephone genggamnya diperiksa, melalui akun facebook miliknya polisi menemukan akun JS sedang online. Bermodalkan itu, polisi setempat mulai melacak keberadaan JS. 

Dihadapan ibu dua orang anak itu, polisi terus mengorek informasi tentang suaminya melalui pesan teks. Terakhir, JS memberitahu jika dia sudah menumpangi taxi dalam perjalanan menuju asrama tempat tinggal istirinya di Kuala Lumpur. 

"Dengan berat hati saya bertemu dengan suami, sesuai dengan perintah polisi itu," ungkapnya lirih.

Mendengar itu, polisi pun bersiaga dan menuju lokasi tersebut. Kamis 21 Desember, dini hari tepatnya di Pangsapury Mentary Court Appartement, Jln PJS 8/9 46150 Petaling Jaya. JS pun diamankan oleh polisi setelah bertatapan dengan istrinya. 

A boru Sijabat menuturkan, peristiwa itu merupakan terakhir kalinya ia bertemu dengan bapak dua orang anak itu. Kemudian polisi langsung menciduk JS dan membawanya ke kantor polisi setempat.

Dihari yang sama, istri JS harus pulang ke rumah mertuanya di Kota Siantar, setelah jauh hari sebelumnya telah merencanakan kepulangan ia dan suaminya ke Indonesia, untuk perayaan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga dan dua anaknya.

Penulis: gee. Editor: edo.