HETANEWS

Divonis Seumur Hidup, Kurir Ekstasi Ini Terlihat Tanpa Beban

Terdakwa Sani saat mendengarkan vonis hakim. (foto/dian)

Medan,hetanews.com- Muhammad Sani alias Sani, kurir ekstasi sebanyak 100 butir tampak tanpa beban saat menjalani sidang dengan agenda putusan, di ruang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (19/12/2018).

Padahal, Sri Wahyuni, selaku Ketua Majelis Hakim, menghukum terdakwa seumur hidup, di dalam penjara. Dia dinilai terbukti bersalah, melanggar Pasal 114 (2) Jo Pasal 132 (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Menghukum terdakwa Muhammad Sani alias Sani seumur hidup di penjara,"pungkas Sri Wahyuni.

Menanggapi vonis itu, terdakwa melalui penasehat hukumnya, langsung menyatakan banding. Pasalnya, vonis itu sangat mengejutkan, karena sebelumnya terdakwa cuma dituntut selama 20 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmi Shafrina.

Pantauan awak media, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut terdakwa, baik selama di persidangan maupun seusai persidangan. Dia hanya diam sembari kembali digiring ke dalam sel tahanan PN Medan.

Sementara itu, masih dalam kasus yang sama, terdakwa lainnya yakni Muhammad Iqbal dan Andre alias Icik juga menjalani persidangan dengan agenda putusan.

Terdakwa Muhammad Iqbal divonis seumur hidup. Sebelumnya dia juga dituntut selama 20 tahun penjara. Sama halnya dengan Sani, melalui penasehat hukumnya, Iqbal juga langsung menyatakan banding.

Sedangkan, terdakwa Andre alias Icik divonis selama 1,4 tahun penjara. Dia sebelumnya dituntut 1 tahun penjara. Menanggapi vonis itu, Andre menyatakan pikir-pikir.

Untuk diketahui, terbongkarnya kasus ini berawal dari penyelidikan petugas Badan Narkotika Nasional (BNN). Saat itu, tepatnya pada 14 Mei 2018, terdakwa Sani dan Iqbal mendapat telepon dari Vindra (DPO). Keduanya mendapat perintah untuk menjemput ekstasi, di Jalan Medan-Binjai KM 12, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang. 

Setelah menerima 2 bungkus ekstasi sebanyak 100 butir itu, keduanya lalu berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing. Sani kembali ke kosannya dengan membawa ekstasi itu, di Jalan Abdul Hakim Gang Mustika, Kecamatan Medan Selayang. Namun, belum sampai di kos, dia ditangkap petugas BNN.

Sementara itu, Iqbal yang curiga kalau Sani akan melarikan ekstasi itu, lalu pergi menjemput temannya Andre alias Icik. Iqbal menjanjikan Andre alias Icik akan dibelikan kalung emas, jika pekerjaannya mengedarkan ekstasi sudah beres.

Apes, saat melintas di depan kos Sani, keduanya lalu dikejar petugas BNN dan berhasil meringkusnya.

Sani sendiri saat diinterogasi petugas, mengaku akan mendapat upah sebesar Rp3 juta dari Vindra (DPO), apabila pekerjaannya beres.

Penulis: dian. Editor: gun.