HETANEWS

Beda Kesulitan Evakuasi Korban Danau Toba dengan Lion di Karawang

Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi. tribun medan/dimaz

Jakarta,hetanews.com- Kedalaman perairan laut Karawang tempat jatuhnya Lion Air akhir Oktober lalu memang tak sampai 40 meter, dibandingkan Danau Toba yang mencapai 450 meter. Tapi bukan berarti dalam pencarian korban Lion lebih mudah ketimbang mencari korban Kapal Sinar Bangun yang tenggelam pada 18 Juni.

"(Kedalaman) 450 meter bukan hal yang mudah. Penyelam dengan alat regulator maksimum hanya bisa menyelam 60 sampai 70 meter, itu yang sudah qualified. Pada umumnya ya (menyelam) 50 (meter) sudah maksimal," kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya M. Syaugi saat blak - blakan, Senin (10/12/2018).

Di laut Karawang, dia melanjutkan, karena air asin menyebabkan jarak pandang pendek. Hal itu diperparah dengan pasir di bawah dasar laut yang terbawa arus hingga menambah keruh pandangan. Selain itu, tim evakuasi juga mengalami kesulitan karena kekuatan dan kecepatan arus yang berbeda-beda. Ada juga kesulitan akibat tingginya gelombang di bagian atas, serta pipa-pipa PT Pertamina dan kabel PT Telkom di dalam laut.

"Jadi ini nggak bisa sembarangan. Kapal Basarnas tidak boleh parkir di situ," kata Syaugi.

Basarnas kemudian bersinergi dengan PT Pertamina yang bisa merapat ke lokasi diduga ditemukannya korban-korban jatuhnya Lion Air JT610. Dari kapal inilah penyelam-penyelam Basarnas diturunkan.

Sumber: Detik.Com

Editor: gun.