HETANEWS

Diduga Langgar UU, Bahrumsyah: Kita Segera Minta Data Resmi ke RSCA Medan

Ketua Komisi B DPRD Medan, Bahrumsyah. (foto/dores)

Medan, hetanews.com - Dinas Kesehatan Kota Medan diminta segera merespon dugaan pelanggaran terhadap Undang Undang (UU) No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang dilakukan Rumah Sakit Colombia Asia (RSCA) Medan.

Hal itu ditegaskan Ketua Komisi B DPRD Medan, Bahrumsyah yang ditemui hetanews.com di ruang kerjanya, Senin (10/12/2018). 

"Bila ada dokter yang berpraktik di rumah sakit Kota Medan ini tanpa sesuai ketentuan yang ada ini jelas salah. Saya pikir perlu ditindaklanjuti. Saya minta juga Dinas Kesehatan sebagai pengawas tentunya segera merespon masalah ini," ucap
Bahrumsyah.

Baca juga: Ini Indikasi RSCA Medan Secara Koorporasi Langgar UU Praktik Kedokteran

Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan pelanggaran tersebut terjadi saat RSCA Medan melakukan tindakan medis terhadap korban penganiayaan berinisial JS yang mengalami pembukaan pangkal lengan kanan, Senin (12/11/2018). Dalam hal ini RSCA Medan mendatangkan spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, Dr Heri Suroto, dr.,SpOT(K).

Informasi yang didapat dari pihak pasien JS, kedatangan Heri Suroto tak lepas dari peran salah seorang dokter yang bertugas di RSCA Medan berinisial EM. Dimana EM mengedukasi keluarga pasien untuk mendatangkan dokter dari Surabaya. Padahal sebelumnya, keluarga pasien sudah berkonsultasi dengan pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik yang menyatakan mampu menangani kasus pasien.

Baca juga: Datangkan Dokter dari Surabaya, RSCA Medan Diduga Melanggar UU

Pasal 36 dan Pasal 37 ayat (1) Undang Undang nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebut, setiap dokter yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik yang dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktik kedokteran dilaksanakan. Sementara, Heri Suroto diketahui bertugas di RS Adi Husada Undaan Wetan,
Surabaya.

Terkait tindakan EM, salah seorang dokter di RSCA Medan yang mengedukasi pasien untuk mendatangkan Heri Suroto juga disebut pada Pasal 80 UU di atas. Dimana ayat (1) mengatakan, "Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp300 juta.

Ayat (2) menegaskan, "Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah sepertiga atau dijatuhi hukuman
tambahan berupa pencabutan izin. 

Belakangan diketahui pula jika Heri Suroto telah dua kali melakukan praktik operasi di RSCA Medan. Tepatnya 2017 lalu, Heri Suroto melakukan tindakan medis terhadap seorang pemuda yang mengalami kecelakaan sehingga membuat saraf di bagian tubuh sebelah kiri terputus.

Baca juga: Ada Apa dengan RSCA Medan?

Atas penjelasan itu, Bahrumsyah berjanji untuk menindaklanjuti dengan meminta data resmi ke manajemen rumah sakit yang terletak di Jalan Listrik No. 2A, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan tersebut.

"Dokter transfer itu tidak dibenarkan. Sebagai lembaga pengawas, Komisi B (DPRD Medan) akan segera berkunjung ke RSCA. Kita minta data resminya," tegas politisi Partai Amanat Nasional ini.

Penulis: dores. Editor: anto.