HETANEWS

Puspa Sumut Kutuk Kekerasan Seksual yang Dilakukan Ayah Kandung

Ilustrasi kekerasan terhadap anak.

Medan, hetanews.com - Kejahatan seksual di Sumatera Utara (Sumut) masih sering terjadi. Dengan kasus-kasus tersebut, maka lembaga di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan  dan Anak (Puspa), sangat mengutuk hal ini. Sudah saatnya kejahatan seksual di Sumut dihentikan bersama.

Ketua Puspa Sumut, Misran Lubis mengatakan, kejahatan seksual ayah kandung terhadap 3 anak perempuannya yang terjadi di Kota Binjai, sangat memprihatinkan.

Puspa meminta jajaran kepolisian Binjai agar serius menyelidiki kasus ini dan memroses pelaku sesuai hukum yang berlaku di negara ini. 

"Sisi lain kita juga mengharapkan kepada masyarakat dapat lebih aktif memperhatikan situasi lingkungan terutama keluarga-keluarga yang beresiko terjadinya kejahatan seksual anak," ucap Misrsan, Jumat (7/12/2018).

Dikatakannya, kejahatan seksual ini bisa terjadi dengan latar belakang keluarga broken home, keluarga yang ayah atau ada laki-laki dewasa pecandu narkoba, anak perempuan yang hidup hanya dengan ayah atau lebih sering ditinggal ibu kandung dan potensi-potensi lainnya.

"Tanpa bermaksud mencurigai setiap keluarga, namun lebih pada upaya pengawasan dan pencegahan agar kejahatan seksual tidak terjadi di lingkungan keluarga sendiri," ujarnya.

Bahkan saatnya para kepling atau kepala dusun, lebih aktif dan memiliki data/informasi potensi terjadinya kajahatan seksual di lingkungannya. Agar tiap keluarga segera mengetahui gerak-gerik yang mencurigakan.

"Jika ada yang dicurigai maka segera melaporkan peristiwa kejahatan seksual. Jangan sampai terulang lagi kasus seperti di Sunggal, seorang kakek yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak perempuan usia 5 tahun, namun berujung damai dengan ganti rugi sebidang tanah ukuran 5 x 10 meter," ungkapnya.

Jelas cara seperti ini sangat tidak dibenarkan oleh hukum di Indonesia terutama Undang-Undang Perlindungan Anak. Justru pelaku yang masih memliki hubungan keluarga dengan korban, harus mendapatkan hukuman lebih berat dari pelaku yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan korban.

"Karena predator seksual masih berkeliaran dan anak-anak selalu rentan menjadi korban di dalam rumahnya sendiri," tukasnya.

Jadi, melaporkan kejahatan seksual bukanlah aib keluarga atau masyarakat, tapi upaya untuk mengakhiri kejahatan seksual terhadap anak-anak lainnya.

Penulis: dian. Editor: anto.