Mon 17 Dec 2018

Otto Hasibuan Soal Danau Toba: Dulu Airnya Jernih Ikan-ikan Berenang, Sekarang Cacingnya Banyak

Medan, hetanews.com - Dewan Pembina Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Otto Hasibuan mengaku menyesalkan peliknya masalah kerusakan lingkungan Danau Toba dalam Rapat Kerja Nasional yang dihelat di JW Marriott Hotel, Medan, Kamis (6/12/2018).

Didampingi Ketua Umum Peradi Fauzi Yusuf Hasibuan, Otto mengatakan bahwa sebelumnya dalam Rakernas, Peradi berencana membahas dua isu yakni Narkotika dan Lingkungan Danau Toba, namun dalam perjalanannya, Danau Toba dinilai paling penting.

"Sebenarnya ada dua yang kita ingin bahas tapi Danau Toba yang paling penting. Khususnya sejak Danau Toba ditetapkan sebagai destinasi wisata nasional namun masalah di Danau Toba itu justru belum dibenahi," ucap Otto Hasibuan.

Otto menilai bahwa sebaiknya pemerintah membenahi masalah Danau Toba dahulu sebelum mempromosikannya di mata dunia. Masalah danau Toba khususnya pencemaran lingkungan harus ditindak pidana bukan hanya negosiasi semata.

"Masak kita mempertontonkan pencemaran lingkungan Danau Toba pada dunia. Sebaiknya Danau Toba Dibenahi dulu baru dipromosikan ke Luar Negeri. Gak akan ada turis yang mau menghabiskan uangnya di tempat kalau masih seperti itu," ucap Otto.

"Sebaiknya ditindak terus, jangan dinego-nego yang mencemarkan lingkungan itu karena gak akan ada habisnya, bahkan saya masih ingat bedanya dulu dan danau Toba saat ini," pungkasnya.

Pengacara yang dikenal sempat menjadi penasihat hukum Jesika Kumala Wongso dan Setya Novanto ini berharap rekomendasi hasil rakernas dapat diterima oleh Pemerintah dalam penegakan hukum pelaku pencemaran lingkungan di Danau Toba.

Sementara, Fauzi Yusuf Hasibuan mengatakan bahwa pembangunan Sumatera Utara saat ini jauh tertinggal dibanding propinsi lainnya seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. Fauzi juga menyoroti bahwa pencemaran lingkungan di Danau Toba adalah hal yang meresahkan.

"Sumut ini sudah jauh ketinggalan, dibanding Jawa Timur, stadion disana banyak dan bagus, sementara di Medan ini kita lihat lah," ucap Fauzi.

"Dulu masa kecil saya berenang, bisa saya lihat itu danau airnya jernih ikan-ikan berenang, kalau sekarang mana ada yang mau celupkan tangannya disitu. Cacingnya banyak," pungkasnya.

Peradi berharap hasil Rakernas tentang lingkungan hidup ini dapat menjadi rekomendasi guna mendukung program poros maritim dan pembangunan berkelanjutan

Acara yang berlangsung sekira pukul 14.30 WIB selama tiga hari berturut-turut (6-8/12/2018) ini dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, yang dalam sambutannya mengatakan kebutuhannya terhadap para profesi hukum dalam pembangunan nasional.

Namun untuk hadir dalam pembangunan nasional, Edy sempat menyinggung persepsi masyarakat yang harus diubah terhadap para praktisi hukum di Indonesia tersebut.

"Persepsi advokat membela yang salah, membela yang kaya membela yang berkuasa. Ini persepsi orang awam yang tak perduli hukum dan harus diubah," ucap mantan Pangkostrad ini.

"Tujuan hukum sendiri adalah keadilan, manfaat dan kepastian hukum itu sendiri. Saya sempat kuliah hukum di UISU tapi karena saya mendaftar dan lulus tentara makanya karena itu saya tak lanjutkan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Edy berharap para praktisi hukum ini untuk selalu bertindak dengan akhlak dan nuraninya dalam memberikan kepastian hukum khususnya di Sumatera Utara nantinya.

Acara yang diwarnai dengan Gondang Sembilan, Tari-tarian Sekapur Sirih ini tak pelak disambut antusias oleh para anggotanya yang berasal dari seluruh Indonesia.

sumber: tribun medan

Editor: bt.