HETANEWS

Ini Pesan Wali Kota pada Bakorpakem Kota Tebingtinggi

Walikota Tebingtinggi, H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM., memberi sambutan dan arahan pada sosialisasi dan pertemuan Bakorpakem Kota Tebingtinggi di Aula Kantor Camat Rambutan, Kota Tebingtinggi, Senin (3/12/2018). (foto/rps)

Tebingtinggi, hetanews - Walikota Tebingtinggi, Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM., menghadiri sosialisasi pertemuan yang dilaksanakan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Kota Tebingtinggi di Aula Kantor Camat Rambutan, Kota Tebingtinggi, Senin (3/12/2018).

Tampak juga Ketua Tim Bakorpakem Kota Tebingtinggi yang juga adalah Kajari Tebingtinggi, Muhammad Novel, SH,MH (narasumber), Kakan Kemenag (narasumber), Ketua MUI, Ahmad Dalil Harahap, Ketua FKUB, Abu Hasyim Siregar, Danramil 13, Kapten PM. Simanjuntak, Kapolsek Rambutan, AKP Leo Sembiring, Camat Rambutan, lurah se- Kecamatan Rambutan serta tokoh masyarakat dan tokoh agama Kota Tebingtinggi.

Mengawali sambutannya, Umar Zunaidi Hasibuan mengatakan, di Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dijamin kebebasan beragama dan tidak ada larangan untuk orang beragama. Pertama sekali di Indonesia ini, di UUD 1945 cuma ada 5 agama yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu serta Budha. Namun akhirnya ditambah lagi dengan satu agama yaitu Khonghucu.

Di dalam ketentuan-ketentuan peraturan tersebut bahwa di antara umat-umat yang beragama perlu berjalan satu kerukunan. Kerukunan ada dua yaitu kerukunan di antara umat beragama itu sendiri dan kerukunan di antara umat yang beragama. 
"Oleh karena itu kepada semua yang hadir, kita harus menghargai hal-hal ini dan tentunya yang diharapkan adanya kerukunan kepada kita semua," imbuhnya.

Disebutkan Umar Zunaidi, jika di dalam agama itu sendiri terdapat hal-hal yang menyesatkan atau sesat maka yang bertugas pertama sekali untuk menilainya adalah pihak dari pada agama itu sendiri bersama kementerian agama yang ada untuk melihat adakah pelanggaran dari pada aliran yang mengatasnamakan agama, tapi tidak cocok dengan agama itu sendiri.

"Dan kalau ada aliran-aliran yang bertentangan dengan agamanya masing-masing, maka itu disebut aliran sesat. Berbeda dengan aliran kepercayaan dan di Indonesia ini banyak sekali aliran-aliran kepercayaan dan tidak ada hubungannya dengan agama dan tidak melanggar hukum," sebutnya. 

Maka dari itu dirinya berharap kepada semuanya agar bisa membedakan yang mana aliran sesat dan yang mana aliran kepercayaan, agar tidak terjadi kesalahan dalam menilai dan menindaklanjutinya.

"Aliran-aliran kepercayaan yang ada di daerah masing-masing harus kita hargai dan keberadaan aliran kepercayaan ini tentunya perlu diawasi melalui Bakorpakem serta benarkah mereka aliran kepercayaan yang sudah terdaftar atau buatan sendiri," ucap Umar Zunaidi. 

Walikota juga menegaskan untuk tidak main hakim sendiri di dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang disebabkan aliran. Karena Indonesia adalah negara hukum.

Sementara itu, Kajari Tebingtinggi, Muhammad Novel, SH,MH menyampaikan bahwa dibentuknya Bakorpakem dan diadakannya kegiatan ini untuk menjaga serta mengawasi, agar setiap kegiatan yang ada di masyarakat terutama yang tidak sesuai dengan aliran agama dan aliran kepercayaan yang ada dapat segera diketahui. 

"Karena bila hal ini tidak kita awasi dengan seksama, maka aliran sesat yang berbahaya ini bisa berkembang dan dapat menyebabkan perpecahan," tegas Kajari. 

Penulis: rps. Editor: anto.