HETANEWS

Farhat Abbas: Jangan Sampai Reuni 212 Dipakai untuk Alat Prabowo

Farhat abbas (kiri) bersama ketua formasi di silaturahmi takmir masjid sejabodetabek sekaligus penolakan aksi 212.

Jakarta, hetanews.com - Reuni Akbar 212 akan digelar di Monas, Jakarta Pusat pada Minggu (2/11). Aksi itu diperkirakan akan dihadiri 1 juta massa. Persiapan acara sudah dilakukan.

Tetapi di sisi lain, ada juga yang mengkritik acara reuni akbar itu. Salah satunya politikus PKB Farhat Abbas.Farhat menuturkan tak mempermasalahkan reuni akbar 212 digelar.

Namun, kata dia, kegiatan reuni mempunyai maksud lain. Dia menduga, reuni sengaja digelar untuk menakut-nakuti pemerintah."Reuni 212 tidak masalah.

Tapi reuni digunakan untuk kumpul massa untuk seolah olah Pak Jokowi ini kalah dengan umat Islam," kata Farhat dalam deklarasi Formasi yang menolak reuni 212 dan kampanye terselubung capres berkedok agama di Masjid Al-Bina, GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (1/12).

Padahal, kata Farhat, peserta kegiatan 212 pada tahun 2016 silam, mayoritas merupakan pendukung Jokowi. Menurutnya, massa aksi hanya sebagian kecil dari alumni 212 yang ada.

Dari 100 persen alumni 212 yang mendukung Prabowo paling 20 persen. 80 persen berada di Jokowi. Jadi hari ini yang berkumpul hanya sebagian kecil saja. Tapi mereka membuat besar menggiring," kata dia.Farhat menuturkan dirinya tak ingin reuni 212 sebagai kegiatan yang digunakan untuk kepentingan perorangan. Apalagi urusan itu berkaitan dengan urusan pemilihan presiden.

"Tapi hari ini saya mengatakan bahwa jangan sampai 212 dipakai untuk kepentingan Pak Prabowo, kalau memang prabowo mengklaim 212 itu adalah pendukung dia, nanti saya mau lihat berapa orang yang berkumpul sampai enggak 200 ribu," ujarnya.

Lebih lanjut, Farhat mengajak agar masyarakat dapat membantu bangsa bersama dengan memilih calon presiden sesuai dengan pilihan pribadi. Farhat mengajak agar dalam memilih presiden tidak menggunakan isu agama yang dapat memecah belah bangsa.

"Jadi menurut saya kita setop-lah. Mari membangun bangsa ini. Kepada seluruh masyarakat, pilih presiden pilih saja hati nurani dan istiqarah, tanpa harus menggunakan isu agama sebagai saran memecah belah banhsa dan kekuasaan," tutupnya.

sumber: kumparan.com

Editor: sella.