HETANEWS

Asiong Si Penyuap Bupati Pangonal: Kalau Tak Memberikan Fee, Tak Dapat Proyek

Terdakwa Asiong saat memberikan keterangan di persidangan, Senin (12/11/2018). (foto/dian)

Medan, hetanews.com - Effendi Syahputra alias Asiong mengaku menyesal telah menyuap (memberikan fee) kepada Bupati Labuhanbatu nonaktif, Pangonal Harahap. Namun, tanpa memberikan fee tidak mungkin perusahaannya mendapatkan proyek.

"Proyek itu rata-rata ditenderkan, Pak Hakim. Saya memberikan fee untuk mendapatkan pekerjaan (proyek). Saya tahu proyek ini dari bupati melalui pesuruhnya si Yazid (adik ipar Pangonal)," ucap Asiong di hadapan Ketua Majelis Hakim, Irwan Effendi dalam sidang yang digelar di Ruang Cakra Utama, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (12/11/2018).

Kepada Majelis Hakim, dia pun kembali berujar bahwa pemberian fee merupakan tradisi di Labuhanbatu. "Sudah permainannya begitu, Pak Hakim. Tanpa begitu tidak dapat kerja (proyek)," ujarnya.

Asiong mengatakan bahwa perusahaan miliknya yakni PT. Binivan Konstruksi Abadi adalah satu-satunya yang dimilikinya. Terkait adanya perusahaan lain yang bekerja di Rantauprapat merupakan dia sewa untuk pengerjaan proyek.

"Perusahaan saya cuman satu, Pak Hakim yakni PT. Binivan Konstruksi Abadi saja. Kualifikasinya adalah konstruksi. Kalau perusahaan lain, itu rekanan kami sewa untuk pengerjaan," bebernya.

Terkait besaran proyek, sambung Asiong dihitung dari besaran nilai kontrak, bukan keuntungan. Dia pun mengaku sempat dinego oleh Pangonal yang kala itu meminta fee sebesar 13 persen.

"Melalui suruhannya si Yazid, Pangonal minta 13 persen tapi saya rasa itu terlalu tinggi makanya saya bilang bahwa fee yang bisanya itu saya beri 10 persen," ungkap Asiong.

Asiong juga mengatakan dirinya sudah mendirikan PT. Binivan Konstruksi Abadi sejak tahun 2007. Dia pun mengatakan telah bekerja untuk beberapa bupati sebelum Pangonal Harahap.

"Saya mulai main proyek sejak tahun 2007, sudah tiga bupati yang pakai saya. Mulai Pak Tengku Milwan, Pak Tigor Panusunan Siregar sampai Pangonal Harahap," pungkasnya.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa Asiong, Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda tuntutan.

Diketahui sebelumnya, dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari KPK bahwa Pangonal Harahap menerima uang dari Asiong sebesar Rp38.882.050.000 dan SGD218.000 secara bertahap. Uang tersebut diduga merupakan fee proyek sejak tahun 2016, 2017 hingga 2018.

Sejumlah uang tersebut diserahkan bertahap melalui anak Pangonal Baikandi Harahap, adik ipar Pangonal, Yazid Anshori dan stafnya Umar Ritonga yang masih diburon.

Penulis: dian. Editor: anto.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.