HETANEWS

Kisah Jenazah Korban Lion Air yang Diperebutkan Istri Pertama dan Istri Kelima, Siapa yang Berhak?

Istri Rudolf Petrus Sayerz, korban jatuhnya pesawat Lion Air mendatangi Rumah Duka Dharmais bersama anak-anaknya untuk mengambil jenazah sang suami

Jakarta, hetanews.com - Istri Rudolf Petrus Sayerz, korban jatuhnya pesawat Lion Air mendatangi Rumah Duka Dharmais bersama anak-anaknya untuk mengambil jenazah sang suami.

Istri Rudolf datang bersama anak-anaknya untuk mengambil jenazah yang akan segera dimakamkan di Manado. Istri Rudolf yang bernama Yuke Meiske Pelealu mengalami masalah saat hendak mengambil jenazah suaminya itu. Pasalnya, ada orang yang mengaku sebagai istri kelima dari Petrus dan akan membawa jenazahnya untuk dimakamkan.

Guna meyakinkan petugas dan sejumlah pihak, Yuke membawa dokumen terkait seperti fotokopi akta nikah dan akta ketiga anak hasil pernikahannya dengan Rudolf.

Yuke menceritakan, usai jenazah Rudolf berhasil diidentifikasi melalui DNA anak keduanya, ada pihak yang mengklaim bahwa dirinya merupakan istri kelima.

Yuke juga mempertanyakan status istri kelima karena dirinya merasa belum bercerai dengan Rudolf. "Dalam hal ini selain kami, pihak yang sah, anak-anak saya, ada pihak yang mengklaim bahwa dia istri kelima, kami orang Kristen kalau bilang istri kelima kan tidak ada pernikahan kelima."

"Kalau ada istri pertama harus bercerai, istri kedua memegang surat cerai yang pertama, dan seterusnya. Seharusnya kalau dia istri kelima, dia harus pegang surat cerai ke empat dong," ujar Yuke.

Pihak yang mengaku sebagai istri kelima Rudolf tersebut bernama Lydia, ia akan mengambil jenazah dan mengurus pemakaman.

Lydia mengatakan bawa suaminya akan dimakamkan di TPU Kampung Pulo, Jakarta Selatan. Lydia mengetahui kabar pesawat Lion Air telah jatuh dari pihak kantor dimana suaminya bekerja.

Menurut Lydia, ia langsung menangis ketika mengingat permintaan maaf suaminya sebelum ia pergi ke bandara.
 "Nona (Lydia) saya minta maaf kalau saya ada salah sama kamu, kalau saya ada kasar sama kamu, saya minta maaf," cerita Lydia.

Ia sempat mengabadikan foto di dalam kabin sebelum pesawat tersebut lepas landas. "Terus pas di dalam pesawat, dia foto, doain aku selamat sampai Pangkalpinang ya, jadi ada foto terakhir dia di atas pesawat," ucap Lidya sembari menangis.

Sebagai istri kelima, ia berencana membawa jenazah untuk dimakamkan.

Namun karena belum bisa dipastikan siapa yang berhak membawa pulang jenazah, jasad Rudolf masih berada di Rumah Duka Dharmais dan belum dikebumikan hingga saat ini.

  • Ada Korban Lion Air yang Trauma Naik Lion Air Lagi

Myrna Julia Sari istri dari almarhum AKBP Sekar Maulana Hidayatullah akui trauma dan tidak ingin naik Lion Air Lagi. AKBP Sekar merupakan satu di antara yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP pada 29 Oktober 2018.

"Kalau saya pribadi sudah trauma, dan tidak ada keinginan naik Lion Air lagi," kata Myrna di TPU Karet Bivak, Kamis (8/11/2018).

"Semoga tidak ada korban-korban lain, setelah suami saya," lanjut dia.

Myrna menyampaikan jika dirinya sudah mendapatkan bantuan yang di antaranya dari Lion Air. "Bantuan banyak kami dapat, alhamdulillah sehingga semuanya dapat berjalan lancar," ungkapnya.

"Dari Lion sama seperti keluarga korban lainnya, kami juga mendapatkan bantuan. Bentuk bantuannya, untuk pemakaman ada sejumlah dana dan untuk transportasi juga diberikan," katanya. 

  • Pengamat Sarankan Lion Air untuk 'Istirahat' Mengudara Sementara Waktu

Berulangkali permasalahan seakan terus menerpa maskapai Lion Air.

Dari berbagi permasalahan tersebut, secara hipotetis bisa memperbesar kepercayaan publik, bahwa maskapai ini belum termasuk kategori aman untuk digunakan sebagai alat trasportasi udara.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing, menyebut sudah saatnya perusahaan ini perlu instrospeksi diri secara internal dan menyampaikan kepada publik kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam pengelolaan Lion Air selama ini.

"Tidak perlu harus menunggu desakan dari publik maupun yang bisa jadi berdampak keluarnya surat peringatan atau pemberian sanksi dari Kementerian Perhubungan," ujar Emrus Sihombing.

Belum kering air mata keluarga para korban jatuhnya Lion Air pekan lalu yang diduga kuat menewaskan semua penumpang, muncul kejadian baru pesawat yang lain dari maskapai ini menabrak tiang di Bandara Fatmawati Bengkulu.

"Sebagai bagian dari pertanggungjawaban publik akibat manajemen Lion Air yang masih sangat memprihatinkan ini, sudah saatnya maskapai ini menyatakan diri 'istirahat' mengudara hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan," ujar Emrus Sihombing.

Masa rentang waktu "istirahat" itu, Emrus Sihombing menyarankan kepada direksi perusahaan Lion Air untuk bersungguh-sungguh berkontemplasi untuk menentukan satu pilihan dari tiga alternatif.

Pertama, para direksi diharapkan mengambil keputusan bulat agar maskapai ini menyatakan diri untuk 'istirahat" terbang selama rentang waktu yang belum ditentukan.

"Atau kedua, kemungkinan mempertimbangkan mengganti direktur utama Lion yang mampu melakukan revolusi mental kepada segenap manajemen dan karyawan di maskapai ini, tanpa kecuali," ujar Emrus Sihombing.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.