Fri 16 Nov 2018

Akademisi : Percuma Punya Ilmu Banyak Tanpa Agama

Rony Andre Christian Naldo. (foto/pranoto)

Simalungun,hetanews.com- Baru-baru ini, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengatakan, sekitar 2.300 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta (PTS), tidak mengajarkan materi empat pilar kebangsaan.

Itu disampaikan mantan rektor Universitas Diponegoro ini dalam sesi wawancara, pasca acara seminar nasional yang dihelat Ikatan Alumni Universitas Brawijaya, di Jakarta, pada Sabtu, pekan lalu.

Nasir mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi mahasiswa/i di PTN dan PTS, yang tidak tahu perihal empat pilar kebangsaan. 

"Saya prihatin mereka tidak tahu apa itu empat pilar kebangsaan," ungkapnya seperti yang dikutip dari Harian Sinar Indonesia Baru.

Pernyataan Nasir didasari melalui pengalamannya saat mengunjungi PTN maupun PTS, dan menanyakan secara langsung kepada mahasiswa/i.

Hal ini kemudian ditanggapi akademisi, Rony Andre Christian Naldo yang menilai, ada yang perlu diperbaiki terkait sistem pembelajaran di Indonesia pada tataran pendidikan tinggi, sekaligus pendidikan dasar dan menengah (SD, SMP, SMA).

"Empat pilar kebangsaan seharusnya masuk dalam mata pelajaran bersyarat, disamping pendidikan agama dan Bahasa Indonesia,"pungkasnya.

Kata Rony, penting menjadi catatan, mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sudah sepatutnya dikembalikan dalam mata pelajaran di tingkatan pendidikan dasar, menengah maupun tinggi.

"Karna melalui pendidikan dasar itulah nantinya akan menjadi dominan dalam pembentukan karakter dari mahasiswa/i," papar Ketua LBH Kebenaran Kejujuran Keadilan (K3) ini.

Ia menambahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seharusnya juga angkat bicara mengenai hal ini, dan menyarankan agar mata pelajaran PMP diprioritaskan mulai dari tingkatan pendidikan paling dasar.

"Basic itu ada di pendidikan dasar, dan untuk pendidikan tinggi, mata kuliah itu (empat pilar bangsa/PMP) ditambah bobot SKS-nya. Kemudian Bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa pemersatu. Lalu pendidikan agama. Karena percuma orang punya ilmu banyak tanpa agama. Itu sama saja ibarat berjalan dalam kegelapan tanpa pelita," terang dosen yang tengah menyelesaikan gelar doktornya ini.

 

Penulis: pranoto. Editor: gun.