Fri 16 Nov 2018

Menteri Amran Jelaskan Kenapa RI Masih Impor Jagung

Menteri Pertanian Amran Sulaeman

Jakarta, hetanews.com - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, kebijakan impor jagung yang dilakukan pemerintah di tengah surplus komoditas pangan itu. Impor yang akan dibuka hanya berkisar 50 ribu ton hingga 100 ribu ton, atau jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 2014 hingga 2016.

"Kita harus berangkat dari 2014. Itu impor kita 3,5 juta ton setara Rp10 triliun. Waktu itu impor biasa-biasa saja, tidak ada gaduh," kata Amran di Pasar Induk Cipinang, Jakarta , Kamis, 8 November 2018.

Dia melanjutkan, pada 2015 masih dibuka keran impor jagung namun dengan volume berkurang menjadi 2 juta ton. Lalu, penurunan volume impor kembali berkurang pada 2016 di mana hanya menjadi 900 ribu ton.

Amran juga memaparkan kondisi pada 2017 di mana impor jagung disetop, dan kemudian pada 2018 di mana Indonesia justru berhasil melakukan ekspor sebanyak 370 ribu ton.

 

"Dulunya impor dari Amerika dan Argentina. Sekarang pecah telur ekspor, ini sejarah pertama Indonesia mengekspor sebesar itu dan menyetop impor," ujar dia.

Dia kemudian menyinggung munculnya pertanyaan mengapa harus impor jagung 50-100 ribu ton, jika Indonesia bisa ekspor dan produksi jagung masih dinyatakan surplus 13 juta ton.

"Artinya masih surplus kan. Masih berprestasi petani kita, tolong hargai petani Indonesia. Kalau tidak mau hargai saya, enggak masalah. Itu saudara kita sendiri yang berproduksi," katanya.

Ia juga menyampaikan, impor 50 ribu ton tersebut juga tak ada artinya. Menurutnya, impor jagung yang dilakukan sebagai alat kontrol dan stabilitas harga. Nantinya jagung impor ini akan disimpan di Bulog jika harga jagung turun.

"Nah 50 ribu ton ini tidak ada artinya sangat kecil dan ini sebagai alat kontrol saja. Nanti petani jagung marah lagi. Itu nanti disimpan Bulog. Kalau harga turun ini tidak akan keluar. Dan sebentar kita panen raya lagi. Ini sebagai kontrol saja," katanya. 

Ia pun menjelaskan, kebijakan impor ini untuk melindungi para peternak. Sebab, para pengusaha besar yang seharusnya mengimpor 200 ribu gandum untuk pakan ternak tak terealisasikan karena harga dolar yang naik.

Dengan tak adanya impor gandum untuk pakan ternak, maka para pengusaha ini menyerap jagung para peternak kecil yang membuat mereka  tak kebagian jagung untuk pakan ternak.

"Peternak kita hanya bisa menggunakan jagung tapi peternak besar di mix gandum pakan ternak dan jagung. Ada 200 ribu tapi tidak dilakukan impor gandum. Kemudian peternak kecil turun, kami turun apa yang terjadi sedangkan kita hitung ini lebih. Ternyata ada 200 ribu ton tidak direalisasikan dan kita tidak ingin peternak kecil ini menderita. Ini membeli pakan yang mahal," katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan harga jagung saat ini memang tergolong mahal. Impor diperlukan untuk menurunkan harga jagung ke level Rp4.000/kg. Adapun pantauan Satgas Pangan, harga jagung di pasar bisa mencapai Rp5.200-5.300/kg.

Sekadar diketahui, produksi jagung hingga saat ini mampu mencukupi kebutuhan domestik dan sudah diekspor 372 ribu ton. Pencapaian swasembada jagung dilakukan Kementan melalui upaya khusus peningkatan produksi jagung dengan peningkatan indeks pertanaman lahan sawah, penanaman di lahan kering, integrasi jagung di lahan sawit dan lainnya.

Selain itu dilakukan penanganan pasca panen serta membangun kemitraan antara petani dengan Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT).

Hasilnya, pemerintah mampu melakukan pengurangan impor jagung sejak 2016. Jika pada tahun 2015 total impor jagung 3,5 juta ton, selanjutnya tahun 2016 menurun menjadi 1,3 juta ton dan tahun 2017 ditekan lagi menjadi NOL impor jagung pakan ternak.

Kumulatif impor jagung pakan ternak yang disetop dari 2016 hingga 2018 sejumlah 9,2 juta ton, dengan rincian 2016 menghemat tidak impor 2,2 juta ton, 2017 menghemat tidak impor 3,5 juta ton dan 2018 menghemat tidak impor 3,5 juta ton. Bahkan tahun 2018 telah dilakukan ekspor 372 ribu ton.

Jika tidak ada program Upsus dan hanya dilakukan program yang biasa-biasa saja, maka Indonesia tahun 2018 dipastikan impor 3,87 juta ton, yaitu 3,5 juta ton impor yang telah di-NOL-kan ditambah 372 juta ton dari realisasi ekspor 2018.

Ini artinya Program Upsus Jagung selama tiga tahun bisa menghemat devisa sebesar 9,6 juta ton senilai Rp 1 triliun.

Untuk diketahui pula, sejak tahun 2016-2018 sebagian pabrik pakan melakukan upaya-upaya rasionalisasi agar pakan bisa murah dengan mencampurkan gandum sebagai substitusi sebagian jagung.

Adanya kenaikan nilai dolar membuat pabrik pakan melakukan rasionalisasi dengan menggantikan sebagian komponen bahan pakan semula dari gandum impor menjadi dari jagung lokal. Sehingga izin impor gandum pakan sebanyak 200 ribu ton untuk pabrik pakan besar tidak direalisasikan, namun mereka menggantikannya dengan membeli jagung lokal.

Dampak pengalihan gandum ke jagung oleh pabrik pakan besar mengakibatkan jagung yang biasa diserap peternak kecil mandiri menjadi terserap oleh pabrik pakan besar. Akibatnya pasokan jagung pakan ternak yang tersedia diserap seluruhnya oleh pabrik pakan besar.

Dimana kebutuhan total jagung pakan 18 juta ton per tahun atau 1,5 juta ton per bulan, diantaranya untuk peternak kecil mandiri sebesar 2,64 juta ton per tahun atau 220 ribu per bulan. Akibat selanjutnya adalah pada waktu tertentu peternak kecil tidak memperoleh pasokan.   

Kondisi inilah yang terjadi pada pertengahan Oktober hingga awal November 2018, di mana ketersediaan jagung bagi peternak kecil berkurang dan harganya menjadi naik tidak terjangkau. Inilah yang membuat para peternak kecil protes berteriak menjerit.

Memperhatikan teriakan peternak kecil mandiri, pemerintah mengambil opsi impor jagung 50 hingga 100 ribu ton bagi peternak kecil sebagai tindakan jaga-jaga. Jumlah impor ini sangat kecil dibandingkan prestasi expor jagung 372.000 ton dan stop impor 3,5 juta ton tiap tahun. Jika harga jagung nasional turun, maka jagung eks impor tidak dikeluarkan ke pasar.

 

 

sumber : viva.co.id

Penulis: -. Editor: sella.