Fri 16 Nov 2018

Perlakuan Tak Manusiawi dan Permintaan Rp200 Juta

Jasad Membot saat disemayamkan di rumah duka. (foto/jat)

Medan, hetanews.com - Sebagai orangtua, Krisna Irawadi alias Pak Jack masih tak terima dengan kematian anak bungsunya, M. Imron Rosyadi alias Membot (28). Sejumlah kejanggalan yang didapat menjadi alasan dirinya mengajukan permasalahan ini ke ranah hukum.


"Saya ingin keadilan ditegakkan," ucap Pak Jack yang ditemui di kediamannya, Jalan Walet 4, Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Rabu (7/11/2018).


Pak Jak mengaku mendapat cerita dari warga yang menyaksikan penangkapan Membot, 21 Agustus 2018 lalu. Dimana Membot diciduk setelah Ari dan Ipul alias Peyang lebih dulu ditangkap oleh 16 personel Satnarkoba Polrestabes Medan. Salah satu petugas diketahui bernama H alias Didot dan N.


"Setelah si Ari dan si Ipul alias Peyang tertangkap dengan barang bukti sabu, akhirnya Membot ditangkap di salah satu warung," tutur Pak Jack meniru cerita warga kepadanya.


Ketika ditangkap, lanjutnya, Membot tidak ada memegang barang bukti narkoba. Namun salah seorang petugas melempar bungkusan berisi narkotika jenis sabu ke dekat kakinya. Aksi petugas itu disaksikan Dea (15) yang merupakan anak dari Ipul alias Peyang.


Dea juga sempat menegur petugas yang melempar sabu tersebut. Namun ia diancam oleh petugas agar diam. Jika tidak, maka ayahnya, Ipul ditembak. 


Selanjutnya Membot dipukuli oleh oknum polisi tersebut hingga mata sebelah kanan bengkak. Saat diseret pergi, Membot sempat berteriak kepada warga sambil mengangkat tangan. Meminta warga yang berada di lokasi menjadi saksi jika dirinya tidak memiliki narkoba jenis apapun ketika ditangkap. 


"Banyak warga yang tahu hal itu. Tanya lah si Dea. Seakan anak saya (Membot) seperti sudah dikondisikan untuk ditangkap," duga Pak Jack.


Pak Jack juga mendapat kabar jika setelah diamankan di Mapolrestabes Medan, Membot dan Ari mendapat perlakukan tak manusiawi. Membot mengalami luka pada mata kanannya. Sedangkan si Ari dipukul pakai balok serta disetrum keningnya. 


"Ini masih ada foto yang kelihatan bekas lukanya setelah keduanya tertangkap," kata Pak Jack sambil menunjukan foto keduanya.

Baca juga: Bantah Membot Tewas di RS Bhayangkara, Reza: Adik Saya Sudah Mati di Selnya


Abang korban, Reza menambahkan, penyidik yang menangani Membot, Ari dan Ipul berinisial JPS awalnya meminta uang Rp50 juta agar berkas ketiganya dipecah. "Makanya Ipul Peyang yang dikirim duluan ke LP," beber Reza.


Setelah Peyang dikirim ke LP, kenang Reza, oknum penyidik tersebut kembali meminta Rp200 juta kepada Ari dan Membot apabila ingin bebas. Karena tak memiliki uang sebanyak itu, keluarga pun pasrah jika Ari dan Membot tetap meringkuk di penjara.


Siapa sangka, Membot justru menghembuskan nafas terakhirnya di dalam sel. Ia tewas setelah menyantap makanan yang dibawa pengunjung RTP Polrestabes Medan, Selasa (6/11/2018) siang.

Penulis: jat. Editor: anto.