HETANEWS

EMGS Keluarkan 10 Ribu VAL untuk Pelajar Indonesia

Peserta reuni berfoto bersama CEO EMGS, Dato Dr. Rujhan Mustafa, Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia, Prof. Madya Dr. Mior Harris Mior Harun serta Ketua Ikatan Alumni Malaysia, Prof. Nawawi Lubis. (foto/dvd)

Medan, hetanews.com - Education Malaysia Global Service (EMGS) menggelar Reuni Alumni Mahasiswa asal Kota Medan jebolan sejumlah perguruan tinggi di Malaysia. Kegiatan dilaksanakan di D'Heritage Hotel Grand Aston Medan, Jumat (2/11/2018).

Tampak hadir Chief Executive Officer (CEO) EMGS, Dato Dr. Rujhan Mustafa, Menteri Penasihat (Pendidikan) Kedubes Malaysia, Prof. Madya Dr. Mior Harris Mior Harun, Ketua Ikatan Alumni Malaysia, Prof. Nawawi Lubis, dan 30 alumni universitas ternama di Malaysia.

CEO EMGS, Dato Dr. Rujhan Mustafa memaparkan peran dan fungsi EMGS kepada para alumni Malaysia. (foto/dvd)

"Terima kasih kepada siswa Indonesia karena memilih Malaysia sebagai tempat destinasi pendidikan. Sekaligus saya ucapkan tahniah (selamat) karena telah menjadi orang-orang besar. Profesor juga, dosen-dosen bertaraf profesor, pegawai direktur," ucapnya pada hetanews.com.

Menurut Rujhan, EMGS ini adalah lembaga dari Kementerian Pendidikan Malaysia yang dipercaya sebagai one stop centre untuk menyeleksi pelajar dari seluruh dunia yang benar-benar ingin melanjutkan pendidikan ke negeri jiran tersebut. Hal itu mengingat tingginya permintaan yang masuk namun tidak seluruhnya ingin belajar. Karena banyak juga yang hanya ingin bekerja.

Dalam proses seleksi itu, EMGS menerapkan sistem Informasi Teknologi (IT) yang terintegrasi dengan Imigrasi dan Kepolisian Diraja Malaysia. Sehingga seluruh pelajar yang diterima benar-benar murni untuk melanjutkan pendidikan dan aman dari catatan kriminal.

Di tahun kelima EMGS ini, lanjut Rujhan, pihaknya mencatat lebih dari 300 ribu permohonan yang masuk dari seluruh dunia. Namun hanya 260 ribu permohonan Visa Approval Letter (VAL) yang diluluskan. Hingga 30 Juni 2018, EMGS telah mencatat enrolmen seramai 173 ribu dari 125 negara, termasuk Indonesia.

"Dari Indonesia saja, tahun lalu sudah 10 ribu pelajar dari 173 ribu enrolmen pelajar," tutur Rujhan.

Ada beberapa faktor yang membuat minat untuk ke Malaysia begitu besar. Pertama dari sisi kualitas pendidikan yang terbilang sebanding dengan Indonesia selain masih satu rumpun. Kedua adalah biaya yang terjangkau.

"Ramai juga sebenarnya yang belajar ke Australia. Namun ongkos yang harus dikeluarkan cukup mahal. Mencapai tiga kali lipat dari biaya untuk menempuh pendidikan di Malaysia. Padah'al kualitas pendidikan sama. Juga kita masih satu rumpun," tambahnya.

Secara kualitas, kata Rujhan, di Asia, bersama Singapura, Malaysia yang terbanyak memiliki universitas negeri. Yaitu 5 universitas yang masuk 10 besar di Asia. Bukti kualitas pendidikan di Malaysia dapat dilihat dari sejumlah alumni yang telah menjadi tokoh di Indonesia, seperti Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada Kabinet Kerja 2014-2019, Prof. H. Mohamad Nasir, Ak, Ph.D dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc sebagai jebolan Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang .

"Kiranya melalui kegiatan ini kita dapat bertukar pikiran untuk memberikan manfaat bagi kedua negara, Malaysia dan Indonesia," pungkas Rujhan.

CEO EMGS, Dato Dr. Rujhan Mustafa menyerahkan cenderamata kepada Ketua Ikatan Alumni Malaysia, Prof. Nawawi Lubis. (foto/dvd)

Pada kesempatan itu, Rujhan juga mengajak seluruh hadirin memanjatkan doa terhadap korban pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang atau di Laut Jawa, Senin (29/10/2018). Dilanjutkan bincang dengan para alumni dan foto bersama.

Penulis: david. Editor: anto.