Thu 15 Nov 2018

BRI Cabang Rantauprapat Tertipu Kredit Fiktif, Kerugian Negara Rp 10 M

Tersangka Beni Siregar (kemeja putih) saat diamankan. (foto/dian)

Medan, hetanews.com - Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) meringkus seorang tersangka kasus tindak pidana korupsi (Tipikor), Jumat (2/11/2018).

Tersangka Beni Siregar yang melakukan pinjaman kredit fiktif ke BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat hingga negara dirugikan sebesar Rp10 miliar.

Penangkapan itu dibenarkan oleh Kasi Penkum Kejatisu, Sumanggar Siagian ketika dikonfirmasi hetanews.com.

"Iya, benar. Tersangka diamankan dari rumahnya di Rantauprapat. Tim Pidsus Kejatisu langsung membawanya ke Lapas Tanjung Gusta Medan untuk ditahan selama 20 hari ke depan," kata Sumanggar.

Dijelaskan Sumanggar, pada tahun 2013 dengan Pemimpin Cabang (Pinca) Kukuh Apra Edi yang memiliki Pemberian Delegasi Wewenang Kredit (PDWK) maksimal Rp1 miliar dan 2013 s/d 2015 dengan Pinca Wan Muharamis yang memiliki PDWK maksimal Rp500 juta, tersangka ini meminjam KTP suami dan juga istri, KK dan buku nikah sebanyak 22 debitur yang pekerjaan para debitur tersebut adalah karyawannya sendiri bahkan juru parkir.

"Selanjutnya dengan dokumen tersebut tersangka mengajukan permohonan kredit ke BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat meskipun para debitur tersebut tidak memiliki niat untuk mengajukan kredit bahkan tidak mengetahui jika KTP, KK, dan buku nikahnya digunakan oleh tersangka  untuk mengajukan kredit di bank tersebut," ungkap Sumanggar.

Selain itu, sambung Sumanggar, syarat lainnya berupa NPWP, SIUP, TDP yg diterbitkan Badan Penanaman Modal Perizinan dan Pelayanan Terpadu, serta Sertifikat Hak Milik tidak dimiliki oleh para debitur tadi.

Meskipun persyaratan itu tidak dimiliki oleh para debitur namun pada saat pengajuan permohonan dokumen tersebut ada dan seolah-olah asli. Hal ini menunjukkan pihak bank sudah tertipu.

"Selanjutnya permohonan tersebut diproses dan pada saat kunjungan ke lapangan terhadap objek yang dijadikan jaminan ternyata nilai harga objek jaminan itu dimarkup, hal ini diketahui saat adanya pemeriksaan intern yg dilakukan Satuan Kerja Audit Intern," bilang Sumanggar lagi.

Bukan itu saja, lanjut Sumanggar, bahwa persyaratan SIUP dan TDP ternyata tidak terdaftar pada Badan Penanaman Modal Peizinan dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Labuhanbatu sehingga besaran kredit yang diberikan kepada masing-masing debitur berbeda-beda sesuai dengan PDWK yang dimiliki masing-masing Pinca.

"Jadi untuk menjalankan akal bulusnya, tersangka Beni Siregar ini memberikan Rp1 juta sampai dengan Rp1,5 juta kepada debitur yang telah memberikan copi dokumennya. Akibat perbuatan tersangka ini negara mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp10 miliar,” ujarnya.

Tersangka dijerat pasal 2 subsidair pasal 3 jo. pasal 18 UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah UU No. 20 tahun 2001 jo. pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Penulis: dian. Editor: bt.