HETANEWS

Wakil Sekretaris GM FKPPI Karo Dianiaya di Lokasi Galian C

Wakil Sekretaris GM FKPPI Karo, Nenny br Purba tergeletak di Ruang 2 RSUD usai dianiaya OTK di Galian C Ilegal. (foto/charles)

Karo, hetanews.com - Tambang liar atau Galian C ilegal di sekitar kaki gunung Sinabung tepatnya di Desa Mardinding, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo kembali menelan korban. 

Seorang aktivis perempuan di Kabupaten Karo, Nenny br Purba, dianiaya orang tak dikenal (OTK) di lokasi penambangan, Minggu ( 21/10/2018) sekitar pukul 20:00 WIB. 

Aktivis sekaligus Wakil Sekretaris Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri (GM FKPPI) Karo dan Ketua Srikandi GANN ini kini tergeletak tak berdaya di RSUD Kabanjahe. Nenny br Purba menderita luka lebam di kepala bagian belakang, lebam di beberapa tangan dan luka cakaran di wajahnya.

"Dia belum bisa bicara, mungkin juga karena trauma dan lemah akibat terkena pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang,” ujar salah seorang rekannya kepada beberapa wartawan  di Ruang 2 RSUD Kabanjahe, Senin (22/10/2018).

Menurutnya, peristiwa ini berawal saat korban dan beberapa rekannya melakukan investigasi ke lokasi tambang liar tersebut. Karena warga Kecamatan Tiganderket dan Payung telah lama mengeluhkan maraknya praktek galian C. Penambangan tanah dan dolomit dituding warga sebagai biang berkurangnya suplay air untuk lahan pertanian serta merusak jalan desa mereka.

“Kita hanya mau investigasi sesuai perintah juga. Tapi setibanya di lokasi, sudah dikepung beberapa orang. Karena lokasi agak gelap terjadilah penganiayaan. Jadi kami langsung menyelamatkan diri, sementara Nenny saat itu telah terjatuh ke tanah. Disitulah dia terkena pukulan benda tajam,” ujarnya.

Karena situasi semakin rawan, mereka memutuskan lari ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi. Itupun masih dikejar pelaku berbadan tegap dengan mengendarai sepedamotor.

Sekedar diketahui, sejak gejolak erupsi Gunung Sinabung, masyarakat dilarang beraktivitas dalam jarak 5 Km dari bukaan kawah Gunung Sinabung.

Tetapi kenyataannya, kegiatan mencari pundi-pundi rupiah dilakoni pengelola Galian C ilegal. Saban hari mereka beraktivitas dan membawa hasil bumi tersebut guna diolah ke wilayah Kabupaten Deliserdang dan Kota Medan. 

Penulis: charles. Editor: anto.