HETANEWS

"Panderes Gota" di Hutan Lindung Pollung Langgar Peraturan Menteri

Pohon pinus yang disadap, di hutan lindung Kecamatan Pollung. (Foto/Rachmat Tinton)

Humbahas,hetanews.com- Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem 

penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Tapi bagaimana jadinya, jika hutan lindung tersebut dicemari, ditebang, dan disulap jadi tempat tinggal? 

Hal tersebut, kini tengah terjadi di hutan lindung, di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan (Humbahas).

Aktivitas para penyadap getah pohon pinus atau yang santer disebut sebagai "panderes gota", disinyalir bakal merusak ekosistem hutan lindung di sana. Penyebabnya, saat menyadap getah, mereka menggunakan stimulan air keras (H2SO4).

"Penyadap menggunakan air keras untuk memperbanyak hasil panen getah mereka. Ironisnya lagi, pohon-pohon juga banyak yang ditumbang. Mereka terkesan tak memikirkan efek negatifnya buat lingkungan,"ungkap Koordinator Perkumpulan Masyarakat (PM)  KITA-PD Wilayah Sumatera Utara,  Hotbel Banjarnahor, Kamis (18/10/2018).

Dikatakannya,  penyadap getah pinus tersebut memang mengantongi izin sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup  dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.54/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2016 .

Tetapi aturan dan syarat yang dimuat sudah banyak yang dilanggar atau tidak ditaati. Sehingga kelestarian ekosistem di lingkungan hutan lindung tersebut berpotensi besar akan menjadi terganggu. 

"Ini jangan dianggap masalah sepele. Di hutan lindung itu terdapat beberapa sungai yang menjadi sumber air minum untuk masyarakat. Jika penggunaan air keras terus dilakukan, dan penebangan pohon kerap terjadi, sudah dapat kita bayangkan apa nanti dampaknya,"ungkap Hotbel kembali. 

Terpisah, Kepala Seksi Perencanaan UPT KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Wilayah XIII Doloksanggul, Hotlan Sibuea, saat dikonfirmasi wartawan, menyebutkan, pengusaha  atau masyarakat yang menyadap getah pinus memang diizinkan berdasarkan Permenhut P54 mengenai pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Tetapi pihaknya juga mengecam para penyadap getah pohon pinus tersebut terkait penggunaan stimulan air keras. Penebangan pohon dan pendirian bangunan, sebutnya, juga tak dibenarkan berdasarkan izin yang mereka kantongi. 

Sementara itu, pihak PT TPL yang dikonfirmasi melalui Bidang Kehumasan Sektor Tele,  Sinaga,  mengaku belum bisa memberikan keterangan. Ia berjanji akan memberikan jawaban setelah ada petunjuk dari atasannya. 

"Nanti akan kita berikan keterangan pers, tapi tunggu dulu saya koordinasikan sama atasan," ujar Sinaga.

Penulis: rachmat. Editor: gun.